Categories: Makassar

Jalan Haji Bau Makassar: Kisah Tragis Bangsawan Gowa di Baliknya

SulawesiPos.com – Jalan Haji Bau menjadi salah satu ruas jalan yang cukup dikenal di Kota Makassar. Berada di kawasan yang tidak jauh dari Pantai Losari, jalan ini dikelilingi berbagai fasilitas perkotaan, mulai dari hotel, permukiman, hingga pusat aktivitas bisnis.

Namun, nama Jalan Haji Bau ternyata menyimpan cerita sejarah yang panjang.

Nama tersebut diambil dari sosok bangsawan Gowa bernama Bau Nyampa Karaeng Sila atau yang lebih dikenal sebagai Haji Bau.

Haji Bau merupakan putra Raja Gowa ke-32, I Kumala Karaeng Lembangparang Sultan Abdul Kadir Muhammad Aidid.

Raja tersebut tercatat memerintah pada abad ke-19. Dalam silsilah kerajaan Gowa, Haji Bau juga dikenal sebagai paman dari Raja Gowa ke-33.

Kisah Haji Bau tidak hanya tercatat dalam hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan Gowa.

Namanya juga berkaitan dengan sebuah peristiwa kekerasan yang terjadi pada masa pergolakan sosial dan politik di Sulawesi Selatan.

Haji Bau meninggal dunia pada 1925. Berdasarkan catatan sejarah yang dikutip dari Historia, ia diserang sekelompok orang di kawasan Jongaya pada 1 Agustus 1925.

Peristiwa tersebut disebut berkaitan dengan persoalan pribadi dan perseteruan di antara keluarga bangsawan.

Serangan itu menyebabkan Haji Bau meninggal dunia.

Meski telah puluhan tahun berlalu, jejak Haji Bau masih dapat ditemukan di Kota Makassar.

Salah satunya melalui makam yang menjadi bagian dari situs sejarah yang mendapat perhatian pemerintah kota.

Pemerintah Kota Makassar mencatat makam Haji Bau dan Daeng Tata sebagai salah satu peninggalan sejarah yang dilestarikan.

Lokasinya berada di kawasan Lorong Wisata Kyoto, Jalan Daeng Tata 3 Lorong 2, Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate.

Nama Haji Bau kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Makassar.

Akan tetapi, ruas jalan tersebut ternyata memiliki sejarah yang lebih panjang dibandingkan penggunaan nama Haji Bau.

Dalam sejarah sosial Sulawesi Selatan, kawasan Jalan Haji Bau pada masa kolonial dikenal dengan nama Klapperlaan.

Ruas tersebut menjadi bagian dari kawasan permukiman yang berkembang di sisi selatan pusat Kota Makassar.

Perubahan Kota Makassar dari masa ke masa turut mengubah wajah kawasan tersebut.

Lingkungan yang sebelumnya berkembang dalam struktur permukiman era kolonial kemudian tumbuh menjadi kawasan perkotaan yang strategis.

Letaknya yang berdekatan dengan Pantai Losari membuat Jalan Haji Bau kini berada di tengah dinamika kota.

Aktivitas masyarakat, kawasan komersial, perhotelan, hingga permukiman membuat ruas jalan ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Makassar.

Di balik ramainya aktivitas tersebut, nama Haji Bau tetap menjadi pengingat terhadap sejarah Gowa dan Makassar.

Jalan Haji Bau bukan sekadar nama yang tertera pada papan jalan.

Di dalamnya terdapat cerita mengenai seorang bangsawan Gowa, hubungan keluarga kerajaan, konflik antarkeluarga, hingga perjalanan panjang perubahan Kota Makassar.

Keberadaan makam Haji Bau yang dilestarikan pemerintah kota juga memperlihatkan bahwa sejarah tersebut masih memiliki tempat di ruang publik.

Jejaknya tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah atau silsilah keluarga, tetapi juga hadir melalui nama jalan yang setiap hari dilalui masyarakat.

Dengan demikian, Jalan Haji Bau menjadi salah satu titik yang mempertemukan wajah modern Kota Makassar dengan kisah masa lalu.

Di tengah perkembangan kawasan pesisir dan padatnya aktivitas perkotaan, nama tersebut tetap membawa cerita tentang seorang bangsawan Gowa yang hidup pada masa perubahan besar dalam sejarah Sulawesi Selatan.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: haji bau Jalan haji bau Nama Jalan di Makassar Nama Jalan Makassar