Categories: Makassar

Jalan Ratulangi, Kisah Gubernur Sulawesi Pertama dan Perjuangannya untuk Indonesia

SulawesiPos.com – Jalan Ratulangi menjadi salah satu ruas yang cukup dikenal di Kota Makassar. Membentang sekitar 3,5 kilometer, jalan ini berkembang sebagai kawasan perdagangan, jasa, perkantoran hingga pusat kuliner dan gaya hidup.

Namun, di balik nama yang melekat pada salah satu ruas penting kota tersebut, terdapat sosok Sam Ratulangi, tokoh pergerakan nasional asal Minahasa yang pernah dipercaya menjadi gubernur pertama Sulawesi setelah Indonesia merdeka.

Di sepanjang Jalan Ratulangi, berbagai aktivitas perkotaan tumbuh berdampingan. Salah satunya Mal Ratu Indah (MaRI) di Jalan Dr. Sam Ratulangi Nomor 35.

Pusat perbelanjaan yang dikelola PT Kalla Inti Karsa ini mulai dibuka untuk umum pada 18 November 2000 dan kini menjadi salah satu pusat perdagangan dan hiburan di kawasan tersebut.

Ruas ini juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas dan bangunan yang cukup dikenal warga Makassar.

Di antaranya kantor pusat PDAM Kota Makassar, KFC Sam Ratulangi yang telah lama menjadi salah satu gerai kuliner yang dikenal luas di kota ini, serta 31 Sudirman Suites yang menawarkan 256 unit hunian.

Kompleks tersebut memiliki 256 unit yang terdiri atas 190 unit dua kamar tidur, 20 unit tiga kamar tidur tipe premier, dan 46 unit tiga kamar tidur dengan private lift.

Panggung Pergerakan Nasional

Nama lengkapnya adalah Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi. Ia lahir di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara, pada 5 November 1890.

Sam Ratulangi

Sam Ratulangi tumbuh sebagai sosok yang menaruh perhatian besar pada pendidikan. Setelah menempuh pendidikan dasar dan menengah, ia melanjutkan studi hingga ke Eropa.

Di Swiss, ia belajar di Universitas Zurich dan pada 1919 memperoleh gelar doktor dalam bidang ilmu alam dan matematika.

Pendidikan tersebut kemudian menjadi salah satu modal penting dalam perjalanan panjangnya sebagai guru, jurnalis, intelektual, dan politikus.

Ketika berada di Eropa, ia aktif dalam organisasi mahasiswa Indonesia dan terlibat dalam diskusi mengenai masa depan tanah air.

Pemikirannya juga dituangkan melalui tulisan. Salah satu artikelnya, “Sarekat Islam”, diterbitkan pada 1913 dan membahas perkembangan gerakan Sarekat Islam serta pergerakan nasional di Indonesia.

Sepulang dari Eropa, Ratulangi mengabdikan diri sebagai pendidik. Ia mengajar matematika dan ilmu pengetahuan di Prinses Juliana School, Yogyakarta.

Setelah itu, ia pindah ke Bandung dan bersama Roland Tumbelaka mendirikan perusahaan asuransi Assurantie Maatschappij Indonesia.

Nama perusahaan tersebut menarik perhatian Soekarno karena menggunakan kata “Indonesia” dalam dokumen resmi pada masa ketika istilah itu belum lazim digunakan sebagai nama perusahaan.

Ratulangi bersama Soekarno

Sikap kritisnya terhadap pemerintah kolonial membuat Ratulangi beberapa kali berhadapan dengan pemerintah Hindia Belanda. Ia bahkan pernah dipenjara di Sukamiskin, Bandung.

Pemikiran dan Nasionalisme

Pada 1937, buku lainnya berjudul Indonesia in de Pacific diterbitkan. Dalam karya tersebut, ia telah melihat posisi strategis Indonesia di kawasan Pasifik dan memperingatkan kemungkinan ekspansi Jepang karena kepentingannya terhadap sumber daya alam di kawasan tersebut.

Setelah keluar dari penjara pada 1938, Ratulangi menjadi editor majalah berbahasa Belanda, Nationale Commentaren.

Melalui media tersebut, ia terus mengkritik ketidakadilan pemerintah kolonial sekaligus membangun kesadaran masyarakat Indonesia mengenai kondisi politik saat itu.

Memasuki masa pendudukan Jepang, ruang politik semakin terbatas. Ratulangi kemudian ditempatkan sebagai penasihat pemerintah militer Jepang dan pada 1944 dipindahkan ke Makassar sebagai penasihat pemerintahan militer Jepang untuk wilayah Sulawesi Selatan.

Pada 1945 di Makassar, ia mendirikan organisasi Sumber Darah Rakyat (SUDARA) yang menjadi salah satu wadah untuk menggalang sentimen nasionalis di Sulawesi.

Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, Ratulangi merupakan salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili Sulawesi. Ia hadir di Jakarta ketika proklamasi berlangsung.

Tidak lama setelah itu, perannya membawa dirinya kembali ke Makassar.

Ratulangi kemudian dipercaya menjadi gubernur Sulawesi pertama dalam struktur pemerintahan Republik Indonesia.

Dokumen sejarah Kemendikbud mencatat Ratulangi sebagai gubernur untuk wilayah Sulawesi dalam pembagian delapan provinsi awal Republik Indonesia.

Selain itu, namanya juga tercatat dalam Manifes Djokja atau Manifes Ratulangie yang disiarkan pada November 1948.

Manifesto tersebut menyerukan kepada masyarakat Indonesia di wilayah timur yang berada di bawah kendali Belanda agar tetap mempertahankan persatuan dengan Republik Indonesia.

Namun, kondisi kesehatannya semakin menurun.

Pada Agresi Militer Belanda II, Ratulangi kembali ditangkap pada 25 Desember 1948. Karena kondisi kesehatannya, ia kemudian ditempatkan sebagai tahanan rumah di Jakarta.

Sam Ratulangi meninggal dunia pada 30 Juni 1949.

Makam Sam Ratulangi di Manado

Jenazahnya sempat dimakamkan sementara di Tanah Abang sebelum dibawa ke Manado. Pada 1 Agustus 1949 jenazahnya tiba di Manado dan kemudian dimakamkan di tanah kelahirannya, Tondano.

Filosofi yang Tetap Hidup

Ratulangi meninggalkan gagasan yang hingga kini sangat dikenal di Sulawesi Utara, yakni “Sitou Timou Tumou Tou”.

Filosofi tersebut secara umum dimaknai sebagai manusia hidup untuk menghidupkan atau memanusiakan manusia lain.

Gagasan ini kemudian menjadi salah satu pandangan hidup yang melekat dalam masyarakat Minahasa.

Bagi Ratulangi, kemajuan manusia tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Pengetahuan dan kemampuan seharusnya memberikan manfaat bagi orang lain.

Gagasan itu sejalan dengan perjalanan hidupnya. Ia pernah menjadi pendidik, intelektual, jurnalis, politikus, hingga pemimpin pemerintahan, tetapi hampir seluruh kiprahnya berkelindan dengan upaya memperjuangkan pendidikan, hak masyarakat, dan kemerdekaan Indonesia.

Atas perjuangannya, pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Sam Ratulangi sebagai Pahlawan Nasional.

Namanya juga digunakan untuk berbagai fasilitas publik, termasuk bandar udara internasional di Manado dan universitas negeri di Sulawesi Utara.

Pada 2016, wajah Sam Ratulangi juga diabadikan pada pecahan uang Rp20.000 emisi 2016.

Uang 20 ribu rupiah

Di Makassar, namanya hidup dalam sebuah ruas jalan sepanjang sekitar 3,5 kilometer yang kini menjadi bagian dari denyut aktivitas kota.

Jalan tersebut merupakan jalur yang menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lain. Perdagangan, perkantoran, pusat kuliner, hunian, hingga pusat perbelanjaan tumbuh di sepanjangnya.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Universitas Sam Ratulangi Nama Jalan Makassar Jalan Ratulangi Sam Ratulangi