Tower crane proyek Rumah Sakit di Jalan Yusuf Dg Ngawing, Makassar beroperasi di atas jalan umum. dok/ist
SulawesiPos.com, Makassar — Aktivitas tower crane pada proyek pembangunan rumah sakit di Jalan Yusuf Daeng Ngawing, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian karena beton pemberat crane tampak bergerak melintasi area di atas jalan yang dilalui kendaraan.
Kondisi tersebut terlihat pada Kamis (27/8/2026).
Crane yang berada di bagian depan area proyek beberapa kali mengayunkan bagian pemberatnya hingga berada di atas jalur kendaraan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan, terutama apabila terjadi gangguan pada sistem crane atau komponen pemberat mengalami masalah.
Proyek tersebut diketahui merupakan pembangunan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Budi Lestari Makassar milik PT Karsa Mandiri Husada.
Pekerjaan konstruksi dilaksanakan oleh PT Hafar Daya Konstruksi (HDK).
Dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas), Ardy Arsyad, menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian dari sisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Menurut Ardy, benda yang terlihat bergerak pada crane tersebut merupakan counterweight atau pemberat berbahan beton yang berfungsi menjaga keseimbangan crane.
“Itu adalah counterweight, (bahan) beton. Dalam aspek K3, harus dibuat area khusus semacam drop zone, kemudian ada petugas yang berjaga,” ujar Ardy dikutip dari detiksulsel.
Ia menyebut keberadaan area khusus serta petugas pengawas menjadi bagian penting untuk memastikan aktivitas crane tidak membahayakan pekerja maupun masyarakat yang berada di sekitar proyek.
Ardy juga menilai pemerintah perlu melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi operasional crane di lokasi untuk memastikan seluruh aspek keselamatan telah dipenuhi.
Berdasarkan pantauan di lokasi, crane berdiri di area depan proyek.
Saat beroperasi, bagian pemberat crane terlihat bergerak dan melintas di atas ruas Jalan Yusuf Daeng Ngawing.
Di sekitar area operasional crane, kini telah dipasang barier di bahu jalan.
Sejumlah petugas juga terlihat melakukan penjagaan pada area tersebut.
Meski demikian, aktivitas crane yang berada di atas jalur kendaraan tetap menjadi perhatian karena terdapat potensi risiko terhadap pengendara apabila terjadi kegagalan teknis.
Dosen Unhas tersebut menekankan bahwa kontraktor perlu memberikan kepastian bahwa pengoperasian alat berat telah memenuhi standar keselamatan.
“Sepanjang terkunci itu beton, aman. Cuma perlu ada jaminan dari kontraktor. Seharusnya dicek langsung aspek K3-nya, ada nggak?” kata Ardy.
Ardy mendorong pemerintah terkait untuk turun langsung ke lokasi dan memeriksa aspek K3 dalam penggunaan crane tersebut.
Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan pengoperasian alat berat tidak hanya aman bagi pekerja proyek, tetapi juga bagi masyarakat yang menggunakan jalan di sekitar lokasi pembangunan.
Keselamatan pengguna jalan menjadi perhatian penting karena area operasional crane berada berdekatan dengan ruang publik yang tetap digunakan kendaraan.
Sementara itu, aktivitas pembangunan RSIA Budi Lestari Makassar masih berlangsung. Pengaturan area kerja, pemasangan pembatas serta pengawasan selama pengoperasian crane menjadi bagian penting untuk meminimalkan risiko kecelakaan.
Hingga berita ini ditulis, sorotan utama terkait aktivitas crane tersebut adalah aspek keselamatan dan kepastian penerapan prosedur K3 di sekitar proyek.