Pidato Guru Besar Unhas
SulawesiPos.com – Lima guru besar Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat melalui riset di bidang kesehatan, lingkungan, kehutanan, hingga kebudayaan.
Gagasan tersebut disampaikan dalam prosesi penerimaan anggota Dewan Profesor Unhas yang digelar di Ruang Senat Lantai 2, Gedung Rektorat, Kampus Unhas Tamalanrea, Rabu (26/8/2026).
Kelima profesor tersebut berasal dari bidang keilmuan yang berbeda. Mereka memaparkan hasil perjalanan riset sekaligus gagasan pengembangan ilmu dalam pidato penerimaan masing-masing.
Riset yang diangkat mencakup dinamika bakteri pada saluran akar gigi, pemanfaatan bahan alami untuk terapi penyakit periodontal, pengembangan biomaterial endodontik, potensi lebah madu dalam pembangunan bangsa, serta kesusastraan Australia sebagai ruang dialog budaya.
Prof. Dr. drg. Maria Tanumi Hardja, MDSc., Guru Besar Bidang Ilmu Konservasi Gigi dan Mikrobiologi Endodontik Fakultas Kedokteran Gigi, mengangkat pidato berjudul “Dinamika Bakteri dalam Saluran Akar Gigi: Tantangan dan Harapan Menuju Endodontik yang Lebih Cerdas, Aman, Presisi dan Berbasis Bukti.”
Ia menjelaskan bahwa infeksi saluran akar bermula dari karies yang berkembang menjadi inflamasi pulpa hingga menyebabkan nekrosis.
Kondisi tersebut membuat ruang pulpa dan saluran akar yang sebelumnya steril berubah menjadi lingkungan yang memungkinkan mikroorganisme berkembang dan membentuk komunitas.
Menurutnya, tantangan endodontik tidak sekadar membunuh bakteri. Dokter juga perlu mengetahui mikroorganisme yang masih hidup, menghadapi anatomi saluran akar yang kompleks, mengendalikan biofilm, serta mengevaluasi keberhasilan perawatan berdasarkan data mikrobiologis, klinis, radiografis dan kebutuhan pasien.
Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan dinilai membuka peluang menuju endodontik yang lebih presisi dan berorientasi pada kualitas hidup.
Arah tersebut sejalan dengan konsep P4 dentistry, yakni personalized, predictive, preventive, dan participatory dentistry.
Prof. Dr. Asdar, drg., M.Kes., Guru Besar Bidang Ilmu Periodontologi Fakultas Kedokteran Gigi, memaparkan pidato berjudul “Pemanfaatan Bahan Alami sebagai Terapi Pendukung Dalam Perawatan Penyakit Periodontal.”
Ia menyoroti penyakit periodontal sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang bersifat kompleks dan multifaktorial.
Penyakit ini merupakan inflamasi kronis yang menyerang jaringan penyangga gigi dan diawali akumulasi biofilm mikroba pada permukaan gigi.
Dampaknya tidak berhenti pada kesehatan rongga mulut. Inflamasi periodontal kronis juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko penyakit kardiovaskular melalui mekanisme inflamasi sistemik dan bakteremia.
Selama ini, terapi periodontal mengandalkan pembersihan biofilm dan kalkulus melalui scaling and root planing (SRP) sebagai standar utama.
Namun, kompleksitas biofilm subgingiva menjadi salah satu tantangan dalam terapi konvensional.
Oleh karena itu, bahan alam dinilai memiliki potensi sebagai terapi pendukung. Kandungan flavonoid, polifenol, terpenoid dan alkaloid memiliki sifat antiinflamasi, antibakteri, antioksidan dan regeneratif.
Sejumlah biomaterial berbasis bahan alam, termasuk hidroksiapatit dari cangkang laut, juga memiliki potensi dalam regenerasi jaringan periodontal karena sifat osteokonduktif dan biokompatibilitasnya.
Prof. Dr. Juni Jekti Nugroho, drg., SpKG SubSp KE., Guru Besar Bidang Ilmu Biomaterial Endodontik Fakultas Kedokteran Gigi, mengangkat judul “Peran Biomaterial Endodontik dalam Preservasi dan Regenerasi Jaringan Gigi.”
Menurutnya, pemilihan biomaterial menjadi salah satu faktor penting dalam perawatan saraf gigi, terutama ketika pulpa terbuka akibat karies, trauma atau prosedur perawatan.
Kalsium hidroksida selama ini menjadi salah satu material penting dalam endodontik karena memiliki sifat antibakteri dan mampu merangsang pembentukan lapisan pelindung dentin.
Namun, material tersebut memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain pH tinggi, kelarutan yang relatif tinggi dan ikatan yang lemah terhadap dentin.
Perkembangan kemudian mengarah pada penggunaan material berbasis kalsium silikat seperti mineral trioxide aggregate, tricalcium silicate cement dan biokeramik.
Material tersebut mampu memberikan penutupan yang lebih baik serta melepaskan ion kalsium untuk membantu pembentukan lapisan menyerupai hidroksiapatit.
Prof. Juni juga menyoroti potensi sumber daya alam Indonesia, termasuk kalsium karbonat dari cangkang yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah.
Bahan tersebut dinilai memiliki peluang dikembangkan sebagai komponen biomaterial endodontik.
Pengembangan biomaterial pada akhirnya diarahkan untuk mempertahankan jaringan gigi, mendukung regenerasi, serta memungkinkan gigi alami dipertahankan selama mungkin.
Prof. Dr. Ir. Budiaman, M.P., IPU., Guru Besar Bidang Ilmu Serangga Hutan-Lebah Madu Fakultas Kehutanan, membahas “Peranan Lebah Madu Terhadap Pembangunan Bangsa.”
Dalam pidatonya, ia memaparkan potensi berbagai jenis lebah yang telah dikelola untuk menghasilkan madu maupun mendukung proses penyerbukan tanaman.
Indonesia sebagai negara tropis juga memiliki habitat yang mendukung perkembangan lebah madu.
Riset di Kampung Rimba Fakultas Kehutanan Unhas menunjukkan bahwa lebah madu Tetragonula biroi dapat diperbanyak secara massal melalui teknik pembelahan koloni, baik dengan ratu maupun tanpa ratu.
Penelitian lain juga menunjukkan peluang rekayasa budidaya lebah untuk menghasilkan madu dari berbagai sumber buah.
Sementara riset di kawasan industri Makassar menemukan bahwa lebah stingless bees dan produk madunya berpotensi digunakan sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perkotaan.
Untuk meningkatkan produksi madu dan propolis Tetragonula biroi, penelitian juga menghasilkan prototipe peti vertikal yang dinilai sesuai untuk budidaya lebah tersebut.
Potensi itu membuat Unhas dinilai memiliki peluang untuk berkembang sebagai pusat riset dan pengembangan lebah madu, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya hayati bagi pembangunan.
Prof. Dra. Herawaty Abbas, M.Hum., M.A., Ph.D., Guru Besar Bidang Ilmu Kesusastraan Fakultas Ilmu Budaya, mengangkat pidato “Kesusastraan Australia sebagai Ruang Dialog Budaya: Membaca Identitas, Memori, Keberagaman, dan Harmoni Kemanusiaan dalam Dunia yang Majemuk.”
Ia menempatkan sastra sebagai medium untuk memahami keberagaman masyarakat Australia yang terbentuk dari perjumpaan berbagai kelompok, mulai dari masyarakat Aborigin, keturunan Eropa, migran Asia, komunitas Timur Tengah hingga kelompok diaspora lainnya.
Melalui novel Promising Azra karya Helen Thurloe, ia menunjukkan bahwa identitas terbentuk melalui interaksi sosial.
Kajian sastra juga dinilai dapat menjadi jembatan antara Indonesia dan Australia. Meski memiliki kedekatan geografis, kedua masyarakat memiliki pengalaman budaya yang tidak selalu dipahami satu sama lain.
Menurut Prof. Herawaty, sastra menjadi ruang untuk memahami pengalaman manusia, membangun empati dan mendorong harmoni sosial.