Categories: Makassar

Jalan La Maddukelleng: Mengenang Kisah Raja Wajo yang Gigih Lawan Belanda

SulawesiPos.com – Jalan La Maddukelleng menjadi salah satu nama jalan yang mengingatkan masyarakat Makassar pada sosok pejuang asal Sulawesi Selatan. Di balik nama jalan tersebut terdapat kisah La Maddukelleng, Raja Wajo yang dikenal gigih melawan kekuasaan Belanda.

Nama La Maddukelleng diabadikan sebagai nama jalan di Makassar untuk mengenang perjuangan dan jasanya.

Sosok yang lahir di Wajo pada 1700 tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998.

Lantas, bagaimana sosok La Maddukelleng yang namanya diabadikan sebagai nama jalan? Apa saja kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia?

La Maddukelleng, Putra Raja yang Dekat dengan Rakyat

Melansir buku Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap karya Mirnawati, La Maddukelleng merupakan putra Raja Peneki La Mataesso To Madettia dan We Tenriangka.

Ia lahir di Wajo, Sulawesi Selatan, pada 1700. Meski berasal dari keluarga kerajaan, ia tidak menyukai kehidupan di istana yang penuh dengan kemewahan.

La Maddukelleng justru lebih senang menghabiskan waktunya bersama anak-anak dari kalangan rakyat biasa.

Ia juga dikenal tidak menyukai berbagai bentuk ketidakadilan yang terjadi di lingkungan istana.

Semangat untuk belajar dan mencari pengalaman kemudian mendorong La Maddukelleng meninggalkan tanah kelahirannya.

Pada usia muda, ia melakukan pengembaraan hingga ke kawasan Selat Malaka.

Merantau dan Membangun Kekuatan di Perantauan

Di Selat Malaka, La Maddukelleng membangun armada dan kemudian menetap di Tanah Malaka, yang kini menjadi wilayah Malaysia Barat.

Perjalanannya berlanjut hingga ke Kerajaan Pasir di Kalimantan.

Di kerajaan tersebut, La Maddukelleng menikah dengan putri Raja Pasir dan kemudian dipercaya untuk memerintah Kerajaan Pasir.

Meski telah memiliki kedudukan di perantauan, cita-cita La Maddukelleng untuk membebaskan Wajo dan Sulawesi dari pengaruh penjajahan Belanda tidak pernah hilang.

Ia kemudian mulai menduduki sejumlah daerah yang memiliki hubungan perdagangan dengan Belanda.

Langkah tersebut dilakukan untuk melemahkan aktivitas perdagangan Belanda.

La Maddukelleng Pulang ke Wajo

Keinginan La Maddukelleng kembali ke tanah kelahirannya semakin kuat setelah utusan Raja Matawo Wajo datang ke Kerajaan Pasir dan mengajaknya pulang.

Sebelum berangkat, La Maddukelleng mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi perjalanan panjang menuju Wajo.

Armada kapalnya dilengkapi persenjataan, termasuk meriam yang dibeli dari Inggris.

Perjalanan pulang bukan tanpa hambatan. Armada La Maddukelleng harus menghadapi serangan Belanda.

Dalam perjalanan menuju Makassar, armadanya dua kali diserang pasukan Belanda, yakni pada 8 Maret 1734 dan 12 Maret 1734. Namun, serangan tersebut berhasil dipatahkan.

Ketika armada La Maddukelleng berlayar di antara Pulau Lae-Lae dan Rotterdam, Belanda kembali melancarkan serangan menggunakan meriam.

Pasukan La Maddukelleng mampu memberikan perlawanan dan membalas tembakan armada Belanda.

Diangkat Menjadi Raja Wajo XXXIV

Setelah melewati berbagai pertempuran, La Maddukelleng bersama pasukannya akhirnya tiba di Peneki, Kerajaan Wajo.

Ia kemudian diangkat menjadi Raja Matowa Wajo XXXIV pada 8 November 1736, meneruskan kedudukan yang sebelumnya diwariskan oleh ayahnya.

Kedatangan La Maddukelleng ke Wajo sekaligus memperkuat perlawanan terhadap Belanda.

Belanda kemudian mengerahkan pasukan dalam jumlah besar dan mendapat bantuan dari pasukan Bone. Pertempuran besar pun terjadi di Wajo.

Namun, masyarakat Wajo tidak gentar. Perlawanan berlangsung sengit hingga akhirnya pasukan Bone menghentikan peperangan dan memilih mengadakan perjanjian damai dengan La Maddukelleng.

Menyerang Benteng Rotterdam di Ujung Pandang

Perlawanan La Maddukelleng tidak berhenti setelah pertempuran di Wajo.

Pada Mei 1739, La Maddukelleng bersama pasukannya bergerak menuju Ujung Pandang dengan tujuan menyerang Benteng Rotterdam.

Namun, serangan tersebut tidak berhasil dan pasukannya kembali ke Wajo.

Pada periode yang sama, Belanda kembali mengajak La Maddukelleng berdamai. Namun, tawaran tersebut ditolak.

Penolakan itu membuat Belanda kembali menggempur pasukan La Maddukelleng. Pertempuran kembali terjadi dan berkali-kali dimenangkan oleh pihak La Maddukelleng.

Belanda kembali menawarkan perdamaian. Namun, La Maddukelleng tetap teguh pada pendiriannya dan kembali menolak tawaran tersebut.

Mendapat Gelar Petta Pammadekaenggi Wajo

Kegigihan La Maddukelleng dalam mempertahankan wilayah Wajo membuat masyarakat memberikan gelar kehormatan Petta Pammadekaenggi Wajo, yang berarti Tuan yang Memerdekakan Wajo.

Gelar tersebut menjadi bentuk penghormatan masyarakat Wajo terhadap perjuangannya mempertahankan wilayah leluhur dari tekanan kekuasaan asing.

Setelah berhasil mempertahankan wilayah leluhurnya, La Maddukelleng kemudian mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai raja.

La Maddukelleng Ditetapkan sebagai Pahlawan Indonesia

La Maddukelleng wafat di Wajo, Sulawesi Selatan, pada 1765.

Ia kemudian dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan masyarakat Wajo dan Sulawesi Selatan.

Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan La Maddukelleng sebagai Pahlawan Indonesia melalui Keppres Nomor 109/TK/1998 pada 6 November 1998.

Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Makassar.

Identitas La Maddukelleng:

  • Nama: La Maddukelleng
  • Lahir: Wajo, Sulawesi Selatan, 1700
  • Wafat: Wajo, Sulawesi Selatan, 1765
  • Jabatan: Raja Matowa Wajo XXXIV
  • Gelar: Petta Pammadekaenggi Wajo
  • Gelar Pahlawan: Pahlawan Indonesia
  • Dasar penetapan: Keppres Nomor 109/TK/1998
  • Tanggal penetapan: 6 November 1998

Itulah kisah perjuangan dan latar belakang Pahlawan Nasional La Maddukelleng yang dikenal gigih melawan Belanda. Menarik, bukan?

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Jalan La Maddukelleng Nama Jalan Makassar Nama Jalan di Makassar La Maddukelleng