Jalan Ali Malaka
SulawesiPos.com – Jalan Ali Malaka di Kelurahan Maloku, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar, bukan sekadar ruas jalan di kawasan pusat kota.
Nama tersebut merujuk pada Ali Malaka, salah satu tokoh perjuangan pro-Republik di Sulawesi Selatan yang terlibat dalam gerakan pemuda dan kelaskaran hingga menjadi pimpinan Pasukan Harimau Indonesia di Makassar.
Namanya kemudian masuk dalam daftar tokoh yang diburu pasukan Belanda pimpinan Raymond Westerling pada masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Jalan Ali Malaka memiliki panjang sekitar 389,70 meter. Ruas ini menghubungkan persimpangan Jalan Somba Opu dan kawasan Pantai Losari dengan area Jalan Sultan Hasanuddin.
Kawasan tersebut kini jauh dari gambaran Makassar pada masa revolusi. Aktivitas masyarakat, wisatawan, dan kuliner membuat ruas Jalan Ali Malaka menjadi bagian dari denyut kehidupan pusat kota.
Namun, nama yang tertera di jalan itu membawa cerita tentang periode ketika kemerdekaan Indonesia masih harus dipertahankan melalui perjuangan bersenjata.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak serta-merta mengakhiri konflik di Sulawesi Selatan.
Di Makassar, kekuatan pemuda menjadi salah satu penggerak utama perjuangan pro-Republik ketika Belanda dan NICA berusaha membangun kembali kekuasaan kolonial.
Salah satu organisasi pemuda yang menonjol ketika itu adalah Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI).
Organisasi ini menghimpun kekuatan pemuda di Makassar dan tersebar dalam sekitar 25 kelompok di berbagai distrik kota.
Ali Malaka tercatat sebagai salah satu pentolan PPNI bersama Manai Sophian, S. Sunari, M. Zajad, Aminuddin Muchlis, S. Moon, dan Intje Abdullah.
Keterlibatan tersebut menempatkan Ali Malaka sejak awal dalam gerakan pemuda yang berupaya mempertahankan keberadaan Republik di Makassar.
Gerakan PPNI kemudian berkembang ke aktivitas yang lebih berani. Sejumlah catatan sejarah menyebut para pemuda melakukan aksi gerilya dan merebut sejumlah fasilitas yang sebelumnya dikuasai NICA.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa perjuangan di Makassar bukan sekadar gerakan politik, tetapi juga berkembang menjadi perlawanan langsung terhadap kekuatan yang hendak mengembalikan kekuasaan Belanda.
Dari lingkungan gerakan pemuda inilah jejak Ali Malaka kemudian bersinggungan dengan jaringan kelaskaran di Sulawesi Selatan.
Perjuangan mempertahankan Republik di Sulawesi Selatan tidak dilakukan oleh satu kelompok saja. Berbagai organisasi dan laskar di sejumlah daerah kemudian berupaya menyatukan kekuatan agar perlawanan terhadap NICA lebih terorganisasi.
Pada 15 Juli 1946, para pemimpin kelaskaran bertemu di Komara. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai kelompok perjuangan.
Dalam catatan akademik mengenai dinamika kemiliteran di Sulawesi Selatan, Ali Malaka tercatat hadir sebagai wakil Gerakan Tanete Soppeng.
Sementara dari PPNI Makassar hadir Riri Amin Daud dan dari Harimau Indonesia hadir Aminuddin Muchlis.
Pertemuan itu kemudian berlanjut pada upaya membentuk wadah bersama bagi kelompok-kelompok kelaskaran.
Pada 17 Juli 1946, Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) diresmikan sebagai wadah kesatuan organisasi kelaskaran.
Salah satu catatan paling kuat mengenai posisi Ali Malaka dalam perjuangan bersenjata berasal dari sejarah resmi perintisan TNI AL di Makassar.
Pada 20 November 1946, ekspedisi ALRI yang dipimpin Letnan II Amier dan Sersan Abd. Rachman mendarat di Paotere, Makassar.
Ekspedisi tersebut kemudian berhasil menghubungi pimpinan Pasukan Harimau Indonesia di Kampung Kaluku Badoa.
Dalam catatan Kodaeral VI, pasukan tersebut disebut berada di bawah pimpinan Ali Malaka.
Pertemuan antara pihak ALRI dan pimpinan Harimau Indonesia kemudian menghasilkan kesepakatan untuk melebur Pasukan Harimau Indonesia menjadi ALRI.
Pada saat yang sama, tekanan terhadap kelompok-kelompok pro-Republik semakin besar. Belanda mulai meningkatkan operasi untuk memburu tokoh-tokoh yang dianggap berada di balik perlawanan.
Salah satu nama yang kemudian menjadi perhatian mereka adalah Ali Malaka.
Pada 5 Desember 1946, pasukan khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST) tiba di Makassar di bawah komando Raymond Westerling.
Kedatangan pasukan ini kemudian diikuti serangkaian operasi terhadap wilayah yang dianggap menjadi basis atau tempat persembunyian kelompok perlawanan.
Dalam salah satu laporan mengenai operasi di Batua, Ali Malaka dan Wolter Monginsidi disebut sebagai tokoh penting dalam perlawanan yang diyakini berada di kawasan tersebut. Namun, keduanya tidak ditemukan ketika pasukan Belanda melakukan operasi.
Nama Ali Malaka kembali muncul dalam operasi di sekitar Kalukuang. Kesaksian korban selamat mencatat pasukan Westerling secara khusus menanyakan kepada warga mengenai keberadaan Ali Malaka dan Mustafa, yang disebut berkaitan dengan pimpinan gerilya H.I. dari Wolter Monginsidi.
Tidak ada warga yang memberikan informasi mengenai keberadaan keduanya. Pertanyaan tersebut bahkan diikuti ancaman dan penembakan terhadap sejumlah warga.
Perburuan tersebut kemudian berujung pada akhir perjalanan Ali Malaka.
Dalam salah satu sumber, keluarga Ali Malaka menyebut bahwa Ali Malaka bersama sejumlah rekannya pernah berencana menuju Surabaya untuk menemui Bung Tomo.
Rombongan tersebut disebut hendak meninggalkan Makassar melalui jalur laut. Namun, sebelum sampai ke Pantai Losari untuk menaiki perahu yang akan digunakan, rencana keberangkatan mereka disebut telah diketahui mata-mata Belanda.
Ali Malaka dan kawan-kawannya kemudian dihadang di sekitar Lorong Kampung Baru.
Dalam peristiwa itu, Ali Malaka disebut tertembak pada bagian paha. Luka tersebut membuatnya tidak dapat melanjutkan pelarian hingga akhirnya ditangkap pasukan Belanda.
Sumber tersebut juga menyebut Ali Malaka kemudian dieksekusi oleh pasukan Westerling di Desa Tinggimae, Sungguminasa, Gowa.
Setelah gugur, Ali Malaka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar.
Setelah gugur, jejak Ali Malaka tidak berhenti di medan perjuangan.
Namanya kemudian diabadikan menjadi Jalan Ali Malaka di Kota Makassar. Ruas tersebut berada di Kelurahan Maloku, Kecamatan Ujung Pandang, dan tercatat dalam dokumen administrasi Kota Makassar sebagai salah satu nama jalan.
Wajah Jalan Ali Malaka hari ini juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kuliner di sekitar Pantai Losari.
Salah satu tempat makan yang berada langsung di ruas tersebut adalah Rumah Makan Nelayan di Jalan Ali Malaka No. 25, Kelurahan Maloku.
Rumah makan ini dikenal sebagai salah satu tempat kuliner seafood di kawasan dekat Pantai Losari.
Selain seafood, kawasan Jalan Ali Malaka juga dekat dengan kuliner yang sangat identik dengan Kota Makassar, yakni Pisang Epe Losari Mandiri.
Pisang epe merupakan jajanan khas Makassar yang dibuat dari pisang yang dibakar kemudian dijepit atau dipipihkan.
Dalam bahasa Makassar, epe berarti jepit. Setelah dibakar, pisang biasanya disajikan dengan siraman gula aren dan kini tersedia dalam beragam variasi rasa, termasuk durian, keju, dan cokelat.
Kawasan sekitar Pantai Losari memang dikenal sebagai salah satu sentra penjualan pisang epe di Makassar.
Kini, nama tersebut tidak lagi terdengar dalam suara tembakan atau perintah gerilya. Ali Malaka hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Makassar sebagai nama jalan di kawasan Pantai Losari, berdampingan dengan rumah makan seafood, penjual pisang epe, dan hiruk-pikuk pusat kota.