Papan nama Jalan Abdullah Dg Sirua di Kecamatan Panakukkang, Makassar, Sulawesi Selatan, dengan kode pos 90231. dok/ist
SulawesiPos.com, Makassar – Bagi warga Kota Makassar, nama Jalan Abdullah Daeng Sirua atau yang populer disingkat “Abdesir”, tentu sudah sangat akrab di telinga.
Ruas jalan protokol yang membentang di Kecamatan Panakkukang ini menjadi salah satu urat nadi aktivitas masyarakat sehari-hari.
Namun, di balik keramaian jalan tersebut, tersimpan kisah heroik seorang tokoh masyarakat, da’i, sekaligus pejuang kemerdekaan tangguh asal Kampung Tidung.
Pemerintah Kota Makassar melalui Sistem Informasi Cagar Budaya (Simcabud) Dinas Kebudayaan Kota Makassar mencatat bahwa pengabdian Abdullah Daeng Sirua mencakup medan perang hingga mimbar pendidikan agama.
Lahir pada tahun 1922 di Kampung Tidung, Abdullah Daeng Sirua merupakan putra dari pasangan Yusuf Daeng Ngawing dan Yalus Daeng Te’ne.
Sang ayah dikenal sebagai Kepala Kampung Mapala yang gigih menentang penjajahan Belanda dan Jepang.
Semangat patriotisme sang ayah mengalir deras ke tubuh Abdullah.
Semasa muda, Abdullah menempuh pendidikan di Muallimin Muhammadiyah Jongaya dan melanjutkan ke MULO.
Ketika pendudukan Jepang dimulai pada 1942, ia aktif bergabung dengan kelompok pejuang, di antaranya Laskar Kesatuan Harimau Indonesia (PPHI) dan Keris Muda.
Rumah kediamannya di Kampung Tidung difungsikan sebagai markas rahasia, tempat penyimpanan logistik makanan, serta pasokan obat-obatan bagi para gerilyawan.
Menurut catatan Simcabud Dinas Kebudayaan Kota Makassar, tempat ini juga menjadi lokasi persembunyian pahlawan nasional Robert Wolter Monginsidi serta terhubung erat dengan tokoh pejuang lain seperti Emmy Saelan.
Basis pergerakannya menjangkau wilayah Takalar, Maros, Barru, hingga Malino di Gowa.
Keberanian Abdullah menjadikannya target utama tentara NICA/KNIL.
Catatan sejarah dan penuturan keluarga merekam bahwa ia pernah ditangkap sebanyak tiga kali dan mengalami penyiksaan berat mulai dari dipukul, dipasung, hingga diseret menggunakan mobil.
Salah satu peristiwa paling dramatis terjadi saat ia ditahan di Penjara Pandang-Pandang, Gowa.
Dalam laporan sejarah lokal Bollo.id (Juli 2026), disebutkan bahwa Abdullah sempat ditutup matanya untuk dieksekusi tembak mati oleh tentara penjajah.
Namun, atas izin Tuhan, tak satu pun peluru menerjang tubuhnya sehingga ia selamat.
Warga Kampung Tidung bahkan sempat mengira ia telah gugur akibat kerasnya penyiksaan yang dialami.
Setelah kedaulatan Indonesia diakui pada 1949, Abdullah meletakkan senjatanya dan beralih ke medan dakwah serta pendidikan.
Ia memanfaatkan kolong rumah panggungnya untuk mengajar Al-Qur’an dan ilmu agama secara gratis kepada warga sekitar.
Berdasarkan rilis dan catatan Pemkot Makassar:
“Abdullah bahkan menggunakan kolong rumahnya sebagai tempat mengajar warga yang tidak bersekolah. Setiap sore, ia mengajarkan membaca Al-Qur’an dan ilmu agama.”
Pada era 1970-an, ia dikenal sebagai kiai yang bersahaja dan sempat mengabdi sebagai Kepala Urusan Agama di Kecamatan Karuwisi sebelum dipindahkan ke Kecamatan Panakkukang.
Abdullah Daeng Sirua wafat pada tahun 1979 karena sakit. Menjelang wafatnya, ia menyampaikan pesan khusus kepada pihak keluarga:
“Ia berpesan kepada keluarganya agar tetap dimakamkan di kampung halamannya (Tidung), dekat dengan keluarga dan tanah tempat ia bersama ayahnya berjuang, serta menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP).”
Semasa hidupnya, Abdullah sebenarnya sempat menolak namanya dijadikan nama jalan.
Namun, atas desakan dan inisiatif rasa cinta warga kawasan Masale, Tamamaung, serta Tidung, Pemkot Makassar mengabadikan namanya menjadi nama jalan protokol.
Sebagaimana dicatat oleh Simcabud Dinas Kebudayaan Kota Makassar:
“Keputusan pengabdian nama Jalan Abdullah Daeng Sirua merupakan bentuk penghormatan atas jasa, kepribadian, dan pengabdian besar Abdullah kepada masyarakat Kota Makassar.”