Ilustrasi kekeringan di Indonesia.
SulawesiPos.com – Sekitar 50.342 warga di enam kecamatan di Makassar berpotensi terdampak kekeringan selama musim kemarau berdasarkan asesmen BPBD Kota Makassar yang disampaikan pada Rabu, 15 Juli 2026. Ancaman ini terutama mengintai warga yang masih bergantung pada air tanah sebagai sumber utama air bersih.
Data BPBD Makassar mencatat potensi dampak itu tersebar di 173 titik pada 27 kelurahan.
Kepala BPBD Kota Makassar Fadli Tahar menegaskan kelompok paling rentan ialah warga yang belum sepenuhnya bertumpu pada jaringan distribusi air perpipaan.
“Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar 50.342 jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan. Mereka tersebar di enam kecamatan dengan total 173 titik pada 27 kelurahan,” ujar Fadli Tahar, Rabu 15 Juli 2026.
BPBD Makassar menyebut kebutuhan air bersih warga tetap menjadi fokus utama jika dampak kekeringan meluas pada puncak musim kemarau.
BPBD Makassar menyiapkan empat unit mobil tangki air, 57 tandon air, empat unit pompa air, dan 180 personel untuk menopang distribusi bantuan air bersih.
“Kami telah menyiapkan empat unit mobil tangki air, 57 tandon air, empat unit pompa air, serta 180 personel yang siap diterjunkan untuk membantu distribusi air bersih kepada masyarakat,” katanya.
Distribusi bantuan akan diprioritaskan untuk warga yang selama ini mengandalkan air tanah, sementara kawasan yang masih terlayani jaringan Perumda Air Minum atau PDAM disebut relatif aman.
“Prioritas kami adalah warga yang bergantung pada air tanah. Untuk kawasan yang masih mendapatkan pasokan dari jaringan PDAM, kondisinya sejauh ini masih aman,” ucapnya.
BPBD juga meminta warga mulai menghemat penggunaan air agar cadangan yang ada tetap bisa menopang kebutuhan harian selama musim kemarau.
“Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air. Jika ada wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih, segera laporkan kepada BPBD agar bantuan dapat segera kami salurkan,” tuturnya.