Remaja di Makassar Ngaku Diculik untuk Kabur dari Rumah Akui Kerap Dimarahi Tante

SulawesiPos.com – Dugaan penculikan terhadap remaja perempuan berinisial LR (16) di Makassar, Sulawesi Selatan, berujung pada pengungkapan fakta berbeda. Polisi menyebut LR ternyata merekayasa penculikan terhadap dirinya sendiri karena mengaku kerap dimarahi tantenya di rumah dan ingin kabur dari lingkungan tempat tinggalnya.

LR sebelumnya dilaporkan hilang setelah meninggalkan rumah di Kecamatan Manggala pada Minggu (28/6/2026) malam. Tak lama setelah itu, keluarga menerima pesan singkat dan voice note yang membuat mereka menduga korban sedang disekap oleh penculik.

Kapolsek Manggala Kompol Samuel To’longan mengatakan situasi itu mula-mula membuat keluarga percaya LR benar-benar menjadi korban kejahatan. Tante korban bahkan dilaporkan sempat cemas karena LR tidak kunjung pulang setelah keluar rumah.

“Anak ini meninggalkan rumah dan menitipkan kunci kepada tantenya. Karena tidak pulang-pulang, tantenya gelisah,” ujar Samuel kepada wartawan, Senin (29/6/2026).

Laporan keluarga kemudian diteruskan ke polisi melalui call center 110 Polri. Petugas dari Polsek Manggala bersama Polda Sulsel selanjutnya melakukan pencarian hingga korban ditemukan di sebuah wisma di sekitar Kecamatan Panakkukang.

BACA JUGA:  Lansia Ditemukan Meninggal di Depan Ruko Makassar, Polisi Pastikan Tak Ada Tanda Kekerasan

“Setelah menerima laporan melalui 110, anggota melakukan penyelidikan dan korban berhasil ditemukan di Hotel Topaz,” terang Samuel.

Korban Mengaku Bohong

Setelah ditemukan, polisi memeriksa LR untuk memastikan dugaan penculikan yang dilaporkan keluarganya. Dari proses interogasi itu, petugas justru memperoleh pengakuan bahwa cerita penculikan tersebut dibuat sendiri oleh korban.

Samuel menegaskan LR tidak pernah diculik ataupun disekap. Cerita itu, kata dia, hanya direkayasa agar keluarganya percaya korban benar-benar berada dalam situasi berbahaya.

“Dari hasil interogasi, dia mengaku berbohong. Jadi dia tidak diculik, tetapi merekayasa seolah-olah dirinya menjadi korban penculikan,” ungkap Samuel.

Menurut polisi, alasan utama LR melakukan rekayasa itu berkaitan dengan kondisi yang ia rasakan di rumah.

Korban mengaku sering dimarahi dan ingin pergi dari rumah tempat ia tinggal.

“Pengakuannya dia sering dimarahi di rumah dan ingin bersama saudara kandungnya. Anak ini yatim piatu sehingga diasuh oleh keluarga dari pihak ibu dan ayahnya secara terpisah,” beber Samuel.

BACA JUGA:  Mobil Pengangkut Katering Terjun ke Kanal di Makassar Saat Dipanaskan, Tak Ada Korban

Rencana Kabur Disebut Terkait Uang Tebusan

Dalam penyelidikan awal, polisi juga menemukan adanya permintaan tebusan Rp 5 juta yang sempat diterima keluarga melalui pesan dan voice note.

Uang itu diduga bukan bagian dari aksi penculikan sungguhan, tetapi bagian dari skenario LR untuk kabur.

Samuel menyebut korban masih di bawah umur, masih berstatus pelajar, dan belum memiliki pekerjaan.

Karena itu, uang tersebut direncanakan sebagai bekal untuk melarikan diri.

“Rencananya uang itu akan dipakai untuk melarikan diri karena dia masih di bawah umur dan belum memiliki pekerjaan,” kata Samuel.

Kasus ini menyorot sisi lain dari laporan dugaan penculikan yang semula mengundang kepanikan keluarga.

Di balik cerita itu, polisi justru menemukan persoalan rumah tangga dan keinginan korban untuk keluar dari situasi yang membuatnya tertekan.

SulawesiPos.com – Dugaan penculikan terhadap remaja perempuan berinisial LR (16) di Makassar, Sulawesi Selatan, berujung pada pengungkapan fakta berbeda. Polisi menyebut LR ternyata merekayasa penculikan terhadap dirinya sendiri karena mengaku kerap dimarahi tantenya di rumah dan ingin kabur dari lingkungan tempat tinggalnya.

LR sebelumnya dilaporkan hilang setelah meninggalkan rumah di Kecamatan Manggala pada Minggu (28/6/2026) malam. Tak lama setelah itu, keluarga menerima pesan singkat dan voice note yang membuat mereka menduga korban sedang disekap oleh penculik.

Kapolsek Manggala Kompol Samuel To’longan mengatakan situasi itu mula-mula membuat keluarga percaya LR benar-benar menjadi korban kejahatan. Tante korban bahkan dilaporkan sempat cemas karena LR tidak kunjung pulang setelah keluar rumah.

“Anak ini meninggalkan rumah dan menitipkan kunci kepada tantenya. Karena tidak pulang-pulang, tantenya gelisah,” ujar Samuel kepada wartawan, Senin (29/6/2026).

Laporan keluarga kemudian diteruskan ke polisi melalui call center 110 Polri. Petugas dari Polsek Manggala bersama Polda Sulsel selanjutnya melakukan pencarian hingga korban ditemukan di sebuah wisma di sekitar Kecamatan Panakkukang.

BACA JUGA:  Pasutri Bobol Rumah Kosong di Makassar, Istri Diamankan Usai Nyaris Diamuk Warga

“Setelah menerima laporan melalui 110, anggota melakukan penyelidikan dan korban berhasil ditemukan di Hotel Topaz,” terang Samuel.

Korban Mengaku Bohong

Setelah ditemukan, polisi memeriksa LR untuk memastikan dugaan penculikan yang dilaporkan keluarganya. Dari proses interogasi itu, petugas justru memperoleh pengakuan bahwa cerita penculikan tersebut dibuat sendiri oleh korban.

Samuel menegaskan LR tidak pernah diculik ataupun disekap. Cerita itu, kata dia, hanya direkayasa agar keluarganya percaya korban benar-benar berada dalam situasi berbahaya.

“Dari hasil interogasi, dia mengaku berbohong. Jadi dia tidak diculik, tetapi merekayasa seolah-olah dirinya menjadi korban penculikan,” ungkap Samuel.

Menurut polisi, alasan utama LR melakukan rekayasa itu berkaitan dengan kondisi yang ia rasakan di rumah.

Korban mengaku sering dimarahi dan ingin pergi dari rumah tempat ia tinggal.

“Pengakuannya dia sering dimarahi di rumah dan ingin bersama saudara kandungnya. Anak ini yatim piatu sehingga diasuh oleh keluarga dari pihak ibu dan ayahnya secara terpisah,” beber Samuel.

BACA JUGA:  300 Personel Disiagakan Jelang Imlek dan Ramadan, Polisi Tegaskan Sahur on The Road Tak Ada

Rencana Kabur Disebut Terkait Uang Tebusan

Dalam penyelidikan awal, polisi juga menemukan adanya permintaan tebusan Rp 5 juta yang sempat diterima keluarga melalui pesan dan voice note.

Uang itu diduga bukan bagian dari aksi penculikan sungguhan, tetapi bagian dari skenario LR untuk kabur.

Samuel menyebut korban masih di bawah umur, masih berstatus pelajar, dan belum memiliki pekerjaan.

Karena itu, uang tersebut direncanakan sebagai bekal untuk melarikan diri.

“Rencananya uang itu akan dipakai untuk melarikan diri karena dia masih di bawah umur dan belum memiliki pekerjaan,” kata Samuel.

Kasus ini menyorot sisi lain dari laporan dugaan penculikan yang semula mengundang kepanikan keluarga.

Di balik cerita itu, polisi justru menemukan persoalan rumah tangga dan keinginan korban untuk keluar dari situasi yang membuatnya tertekan.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru