Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Guru Besar Ilmu Politik Unhas: Politik Uang Musuh Bersama Kita

SulawesiPos.com – Setiap pesta demokrasi di negara kita digelar, tidak dimungkiri selalu ada pihak yang berbuat curang dengan membagi-bagikan uang atau hadiah ke pemilih, atau yang biasa disebut money politics/politik uang.

Kecurangan ini dianggap sebagai penyakit kronis bagi demokrasi di bangsa kita.

Dalam bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga, yang digelar di kantor redaksi SulawesiPos.com, Sabtu (18/4/2026), Guru Besar Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Prof Sukri Tamma, menilai praktik money politics selama ini susah diungkap hingga penjatuhan sanksi.

Salah satu cara untuk melawan praktek money politics dalam setiap kontestasi politik, lanjut Sukri, adalah dengan menjadikannya sebagai musuh bersama bagi setiap orang.

Bukan hanya bagi peserta Pemilu, politisi, atau Kalangan perguruan tinggi, namun juga bagi seluruh kalangan masyarakat, yang mengingikan demokrasi sehat di negara kita.

“Kalau kita sepakat bahwa demokrasi sistem yang kita percaya, maka kita harus memastikan demokrasi berjalan sehat, setiap rintangan atau penyakit yang menyertainya harus kita hilangkan, memang tidak bisa cepat, karena sudah dianggap budaya, bukan tidak mungkin, asalkan semua stakeholder berani melawannya, bukan hanya kalangan parpol, perguruan tinggi, tapi semua masyarakat harus berani,” ujar Sukri yang juga Dekan FISIP Unhas ini.

BACA JUGA: 
Bedah Buku Money Politics dan Demokrasi Elektoral, Ruang Redaksi SulawesiPos Jadi Forum Diskusi

Sukri menambahkan, praktik politik uang selama ini susah dibuktikan keberadaannya. Namun, dengan kehadiran buku karya Mustamin Raga, akan menjadi fakta bahwa politik uang itu nyata dan bukan sekadar desas-desus yang sering dihembuskan di momen Pilkada atau Pemilu Legislatif.

Diskusi buku dimoderator Dosen FIB Unhas Supratman dan juga dihadiri sejumlah tokoh di Sulsel, seperti wartawan senior Dahlan Abu Bakar, pengamat sosial Mulawarman, mantan komisioner KPU Makassar yang juga dosen Ilmu Politik Unhas, Endang Sari, praktisi survei politik Suwadi Idris Amir, dan Pemred Tribun Timur, Thamzil Thahir sebagai peresensi buku. (mna)

SulawesiPos.com – Setiap pesta demokrasi di negara kita digelar, tidak dimungkiri selalu ada pihak yang berbuat curang dengan membagi-bagikan uang atau hadiah ke pemilih, atau yang biasa disebut money politics/politik uang.

Kecurangan ini dianggap sebagai penyakit kronis bagi demokrasi di bangsa kita.

Dalam bedah buku “Money Politics dan Demokrasi Elektoral” karya Mustamin Raga, yang digelar di kantor redaksi SulawesiPos.com, Sabtu (18/4/2026), Guru Besar Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Prof Sukri Tamma, menilai praktik money politics selama ini susah diungkap hingga penjatuhan sanksi.

Salah satu cara untuk melawan praktek money politics dalam setiap kontestasi politik, lanjut Sukri, adalah dengan menjadikannya sebagai musuh bersama bagi setiap orang.

Bukan hanya bagi peserta Pemilu, politisi, atau Kalangan perguruan tinggi, namun juga bagi seluruh kalangan masyarakat, yang mengingikan demokrasi sehat di negara kita.

“Kalau kita sepakat bahwa demokrasi sistem yang kita percaya, maka kita harus memastikan demokrasi berjalan sehat, setiap rintangan atau penyakit yang menyertainya harus kita hilangkan, memang tidak bisa cepat, karena sudah dianggap budaya, bukan tidak mungkin, asalkan semua stakeholder berani melawannya, bukan hanya kalangan parpol, perguruan tinggi, tapi semua masyarakat harus berani,” ujar Sukri yang juga Dekan FISIP Unhas ini.

BACA JUGA: 
Prof Sukri: Demokrasi Itu Chaos, Money Politics Akan Terus Berulang

Sukri menambahkan, praktik politik uang selama ini susah dibuktikan keberadaannya. Namun, dengan kehadiran buku karya Mustamin Raga, akan menjadi fakta bahwa politik uang itu nyata dan bukan sekadar desas-desus yang sering dihembuskan di momen Pilkada atau Pemilu Legislatif.

Diskusi buku dimoderator Dosen FIB Unhas Supratman dan juga dihadiri sejumlah tokoh di Sulsel, seperti wartawan senior Dahlan Abu Bakar, pengamat sosial Mulawarman, mantan komisioner KPU Makassar yang juga dosen Ilmu Politik Unhas, Endang Sari, praktisi survei politik Suwadi Idris Amir, dan Pemred Tribun Timur, Thamzil Thahir sebagai peresensi buku. (mna)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru