SulawesiPos.com – Upaya identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung terus berlanjut setelah potongan tubuh manusia hasil evakuasi tim SAR gabungan tiba di Kota Makassar untuk menjalani pemeriksaan forensik.
Bagian tubuh korban yang diduga berupa tangan tersebut dibawa dari lokasi pencarian di kawasan lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, dan tiba di Pos Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulawesi Selatan, Jalan Kumala, Kecamatan Tamalate, pada Rabu (21/1/2026) malam.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar menjelaskan, seluruh bagian tubuh korban yang ditemukan segera dibawa ke RS Bhayangkara untuk ditangani oleh tim DVI.
“Penyerahan body part kepada tim DVI dilakukan guna proses identifikasi secara medis dan forensik, sehingga dapat dipastikan identitas korban secara akurat,” katanya.
Evakuasi potongan tubuh dilakukan menggunakan ambulans Dokpol Biddokkes Polda Sulsel dengan pengawalan kendaraan Patroli Jalan Raya (PJR).
Setibanya di Makassar, bagian tubuh korban langsung diarahkan ke ruang forensik untuk penanganan lanjutan.
Sebelum dilakukan pemeriksaan mendalam, petugas Dokpol melakukan pendataan ulang terhadap potongan tubuh tersebut.
Selanjutnya, Basarnas secara resmi menyerahkan temuan itu kepada tim DVI untuk proses identifikasi medis dan forensik.
Dalam keterangan resmi Basarnas Makassar, bagian tubuh korban tersebut ditemukan dalam operasi penyisiran di wilayah pegunungan perbatasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan.
Lokasi penemuan berada di kawasan perbukitan Kabupaten Pangkep dengan titik koordinat 04°55’48” Lintang Selatan dan 119°44’52” Bujur Timur.
Wilayah ini dikenal memiliki medan berat berupa lereng curam, vegetasi semak dan rumput lebat, serta kondisi cuaca yang kerap diselimuti kabut tebal.
Secara jarak, lokasi pencarian berada sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Makassar dan kurang lebih 26 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dengan arah utara hingga timur laut dari bandara.
SAR Mission Coordinator (SMC), Arif Anwar menyebut temuan tersebut merupakan hasil kerja intensif tim SAR gabungan pada hari kelima operasi.
“Pada hari kelima operasi, tim SAR gabungan menemukan bagian tubuh korban berupa tulang serta sejumlah barang pribadi korban di beberapa titik pencarian,” kata Muhammad Arif Anwar.
“Seluruh temuan langsung diamankan sesuai prosedur,” sambungnya.
Selain potongan tubuh, tim SAR gabungan juga menemukan sejumlah barang milik korban di sekitar lokasi jatuhnya pesawat dan sepanjang jalur evakuasi. Barang-barang tersebut meliputi laptop, telepon genggam, paspor, flash disk, kacamata, pouch, serta dokumen pribadi lainnya.
“Seluruh barang temuan korban telah didata, diamankan, dan akan diserahkan kepada pihak berwenang sesuai mekanisme yang berlaku,” terangnya.
Muhammad Arif Anwar menegaskan, operasi pencarian masih terus dilakukan dengan melibatkan lebih dari seribu personel gabungan dari unsur Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan komunitas kemanusiaan, dengan dukungan peralatan darat dan udara.
“Kami berkomitmen melaksanakan operasi ini secara profesional dan humanis. Fokus kami adalah menuntaskan pencarian seluruh korban serta memastikan setiap proses berjalan sesuai standar keselamatan dan prosedur,” tuturnya.
Diketahui, kecelakaan pesawat ATR 42-500 terjadi di lereng Gunung Bulusaraung pada 17 Januari 2026. Dari total 10 orang yang berada di dalam pesawat, hingga hari kelima operasi SAR, dua korban telah ditemukan dan berhasil diidentifikasi, yakni Florencia Lolita Wibisono dan Deden Maulana.
Florencia Lolita Wibisono merupakan kru pesawat, sementara Deden Maulana adalah penumpang yang tercatat sebagai pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).