Overview
Putu menangis merupakan kue tradisional khas Makassar yang dikenal sebagai jajanan malam dengan cita rasa manis-gurih dan aroma kukusan yang khas.
Nama putu menangis berasal dari lelehan gula aren di dalam kue serta suara unik saat dikukus dan dijajakan pedagang keliling.
Selain lezat, putu menangis menyimpan nilai nostalgia dan menjadi bagian penting dari warisan kuliner serta identitas budaya Makassar.
SulawesiPos.com – Makassar bukan cuma soal pantai Losari atau coto yang legendaris. Kota ini juga menyimpan jajanan tradisional yang sederhana tapi penuh cerita.
Salah satunya adalah kue putu menangis, kudapan hangat yang sering muncul di sudut-sudut kota saat malam mulai turun.
Di antara deretan kue tradisional Sulawesi Selatan, putu menangis punya identitas yang kuat. Ia bukan sekadar camilan, tapi bagian dari lanskap keseharian warga.
Biasanya dijajakan di pasar tradisional, toko kue khas daerah, hingga pedagang keliling yang mengayuh sepeda sambil membawa kukusan kecilnya.
Kehadirannya kerap ditandai suara khas yang melengking di udara malam, seperti peluit panjang yang nyaris menyerupai tangisan.
Nama “putu menangis” memang bikin orang penasaran. Kenapa harus “menangis”? Ada beberapa kisah yang berkembang di tengah masyarakat.
Versi pertama menyebutkan bahwa julukan itu muncul dari lelehan gula merah di dalam kue.
Saat digigit, gula aren yang panas mencair dan keluar perlahan, menyerupai tetesan air mata. Sensasi manis yang “tumpah” itulah yang dianggap seperti tangisan kecil dari dalam kue.
Cerita lain mengaitkan nama tersebut dengan bunyi khas saat putu dikukus. Uap panas yang keluar dari cetakan bambu atau logam menghasilkan suara mendesah yang unik.
Ditambah lagi dengan bunyi peluit pedagang keliling yang memanggil pembeli, suasananya terasa dramatis, seolah ada “tangisan” yang mengiringi hadirnya kue ini.
Di balik itu semua, ada makna simbolik yang lebih dalam. Air mata sering dikaitkan dengan emosi.
Dalam konteks kuliner, “menangis” bisa dimaknai sebagai luapan rasa, entah haru, nostalgia, atau sekadar bahagia karena menikmati makanan hangat di malam hari.
Nama ini membuat putu menangis bukan hanya enak, tapi juga emosional.
Secara bahan, putu menangis tergolong simpel. Adonannya terbuat dari tepung beras yang dibasahi hingga bertekstur lembut dan sedikit berbutir.
Adonan ini kemudian dimasukkan ke dalam cetakan silinder, biasanya berlubang di bagian tengah.
Bagian inti yang paling ditunggu tentu saja isiannya. Campuran gula merah atau gula aren dimasukkan ke tengah adonan, lalu ditutup lagi dengan lapisan tepung beras. Di atasnya ditambahkan parutan kelapa yang memberi sentuhan gurih.
Setelah itu, cetakan disusun di atas kukusan. Uap panas perlahan mematangkan adonan hingga mengembang dan padat.
Begitu matang, kue diangkat dalam kondisi masih hangat, ini momen terbaik untuk menikmatinya.
Teksturnya kenyal namun lembut. Begitu digigit, gula merah di dalamnya langsung meleleh dan menyebar di lidah.
Rasa manisnya tidak berlebihan, justru berpadu pas dengan gurihnya kelapa parut. Kombinasi ini menciptakan pengalaman rasa yang sederhana tapi memorable.
Di Makassar, putu menangis identik dengan suasana malam. Ketika udara mulai sejuk dan lampu-lampu jalan menyala, pedagang putu biasanya mulai berkeliling.
Suara peluit atau bunyi uap kukusan jadi penanda khas yang langsung dikenali warga.
Bagi sebagian orang, kue ini bukan cuma soal rasa. Ia membawa kenangan masa kecil, menunggu di teras rumah, berlari kecil menghampiri penjual, lalu menikmati putu hangat sambil duduk santai bersama keluarga.
Ada unsur nostalgia yang membuat putu menangis tetap bertahan di tengah gempuran jajanan modern.
Tak heran jika banyak wisatawan yang sengaja mencarinya saat berkunjung ke Makassar.
Selain mudah ditemukan di pasar tradisional, putu menangis juga sering diburu sebagai oleh-oleh khas. Bentuknya yang unik dan namanya yang ikonik membuatnya punya daya tarik tersendiri.
Di era makanan instan dan dessert kekinian yang tampilannya super estetik, putu menangis mungkin terlihat sederhana.
Tapi justru di situlah kekuatannya. Ia tidak bergantung pada kemasan mewah atau tren media sosial. Ia bertahan karena rasa dan cerita.
Putu menangis adalah contoh bagaimana kuliner tradisional menyimpan identitas budaya.
Dari bahan yang mudah ditemukan, proses yang masih manual, hingga cara penjualannya yang khas, semuanya merepresentasikan kehidupan masyarakat Makassar yang hangat dan apa adanya.
Kalau suatu hari kamu berada di Makassar dan mendengar suara peluit panjang di malam hari, coba ikuti arahnya.
Bisa jadi itu panggilan dari si manis beruap yang legendaris ini. Dan saat kamu menggigitnya, lalu gula merahnya meleleh pelan, mungkin kamu akan paham kenapa kue ini disebut putu menangis.