Categories: Kuliner

Culture Shock saat ke Sulsel, Kenapa Selalu Pakai Jeruk Nipis di Makanan?

Overview

  • Menjelaskan fenomena penggunaan jeruk nipis yang konsisten dalam kuliner khas Sulawesi Selatan sebagai bagian dari tradisi dan citarasa lokal.
  • Mengurai fungsi jeruk nipis dari segi penyeimbang rasa, penghilang bau amis, peningkat selera, hingga membantu pencernaan.
  • Mengangkat aspek budaya lokal (paccukka’) yang membuat jeruk nipis menjadi wajib dalam setiap hidangan, sekaligus memberikan pengalaman culture shock bagi pengunjung.

SulawesiPos.com – Bagi wisatawan yang baru pertama kali menikmati kuliner Sulawesi Selatan (Sulsel), ada pemandangan yang sering menimbulkan culture shock.

Di hampir setiap meja makan, irisan jeruk nipis selalu tersaji berdampingan dengan sambal dan kecap.

Kebiasaan ini tampak sederhana, namun memiliki peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam tradisi kuliner Sulsel, dan alasan di baliknya justru menarik untuk disimak lebih jauh.

Jeruk nipis bukan sekadar pelengkap, namun juga berfungsi untuk menyeimbangkan rasa, mengurangi aroma amis, hingga meningkatkan selera makan.

Fenomena ini kerap membingungkan pendatang, namun di balik kesederhanaannya, jeruk nipis menyimpan rahasia ilmiah dan tradisi yang membuat kuliner Sulsel berbeda dari daerah lain.

Simak alasan-alasan mengapa jeruk nipis menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya makan masyarakat Sulsel!

1. Penyeimbang Cita Rasa Masakan

Jeruk nipis menjadi penyeimbang rasa dalam hidangan khas Sulsel.
Masakan Sulsel yang kaya rempah dan lemak membutuhkan unsur asam agar rasa tidak terlalu dominan.

Perasan jeruk nipis membuat hidangan terasa lebih bersih dan segar, sehingga tidak meninggalkan rasa enek.

Asam dari jeruk nipis juga membuat makanan lebih ringan di lidah.
Hidangan berkuah, seperti coto Makassar atau sop konro, terasa lebih seimbang dan nikmat.

Dengan begitu, jeruk nipis bukan sekadar hiasan, tetapi elemen penting yang menyeimbangkan rasa.

2. Menghilangkan Bau Amis pada Ikan dan Daging

Kuliner Sulsel banyak mengandalkan ikan, seafood, dan daging.
Kandungan asam sitrat jeruk nipis efektif menetralkan aroma amis yang muncul dari bahan-bahan tersebut.

Karena itu, jeruk nipis lazim diperas langsung ke atas ikan bakar atau kuah panas sebelum disantap.

Aroma yang timbul juga menambah kesegaran hidangan.

Selain menghilangkan bau amis, perasan jeruk nipis meningkatkan sensasi rasa dan membuat makanan lebih menggugah selera.

Inilah salah satu rahasia tradisi makan yang masih dipertahankan hingga kini.

3. Meningkatkan Selera Makan

Aroma jeruk nipis berasal dari minyak atsiri alami yang menstimulasi indera penciuman.

Stimulasi ini memengaruhi sistem saraf yang terkait dengan nafsu makan, sehingga membuat orang lebih berselera.

Itulah sebabnya jeruk nipis menjadi pendamping wajib untuk hidangan berat seperti sop konro atau pallubasa.

Selain aroma, rasa asam yang khas juga menciptakan sensasi segar.
Sensasi ini membuat setiap suapan terasa lebih nikmat dan membantu penikmat makanan tetap menikmati hidangan hingga habis.

Dengan demikian, jeruk nipis bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman makan yang utuh.

5. Bagian dari Tradisi Kuliner Sulsel

Penggunaan jeruk nipis sudah menjadi tradisi turun-temurun di Sulsel.

Aktivitas ini dikenal dengan istilah pacukka’, yaitu menambahkan rasa asam agar makanan lebih otentik.

Menariknya, mengganti jeruk nipis dengan cuka tidak bisa memberi rasa yang sama.

Tradisi ini menunjukkan bahwa jeruk nipis lebih dari sekadar bumbu.

Yaslinda Utari

Share
Published by
Yaslinda Utari
Tags: Kuliner Sulsel jeruk nipis culture shock paccukka Sulawesi Selatan