Categories: Kuliner

Rahasia Membuat Tumbuk, Makanan Tradisional Bugis-Makassar

Overview

  • Tumbuk adalah makanan tradisional Bugis-Makassar berbahan dasar beras ketan dan santan yang dimasak dengan cara direbus.
  • Hidangan ini biasanya disajikan pada momen penting seperti Idulfitri, Iduladha, dan saat melepas anggota keluarga bepergian jauh.
  • Lebih dari sekadar makanan, tumbuk menjadi simbol kebersamaan, kesabaran, dan nilai tradisi yang masih dijaga hingga kini.

SulawesiPos.com – Di tengah kekayaan kuliner Sulawesi Selatan, ada satu makanan tradisional yang tidak hanya menggugah selera, tapi juga sarat makna budaya: tumbuk.

Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, tumbuk bukan sekadar makanan, ia adalah simbol kebersamaan, ketekunan, dan warisan leluhur yang terus dijaga.

Makanan ini biasanya hadir dalam momen-momen penting, seperti perayaan Idulfitri, Iduladha, atau ketika seorang anggota keluarga hendak menempuh perjalanan jauh.

Keberadaan tumbuk di meja makan tidak hanya memuaskan rasa lapar, tapi juga menyatukan keluarga dan komunitas melalui proses pembuatannya yang khas.

Tumbuk terbuat dari beras ketan, baik putih, hitam, maupun merah, yang dicampur santan dan dibungkus daun pisang.

Bentuknya mirip dengan lammang, karena sama‑sama makanan beras ketan yang dibungkus daun. Namun, proses memasaknya jadi pembeda utama.

Lammang dibakar, sementara tumbuk direbus hingga matang.

Proses panjang ini membutuhkan kesabaran dan kerja sama, yang membuat setiap gigitan tumbuk terasa bukan hanya enak, tapi juga penuh makna.

Aromanya yang khas dari daun pisang dan legitnya rasa ketan santan menjadi ciri khas yang sulit dilupakan, sekaligus mengingatkan kita pada nilai-nilai tradisi yang hidup dalam setiap rumah Bugis-Makassar.

Cara Bikin

  1. Masak santan bersama daun salam, sereh, dan garam hingga mengental.
  2. Cuci bersih beras ketan yang telah direndam semalam, lalu kukus hingga setengah matang.
  3. Angkat ketan setengah matang, masukkan ke dalam baskom, lalu tuangkan santan kental sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata dan adonan menjadi kalis.
  4. Kukus kembali adonan ketan selama 5–10 menit, lalu angkat dan siapkan untuk dibungkus.
  5. Cetak adonan ketan menjadi bulatan-bulatan kecil.
  6. Susun ketan dengan setiap lapisan diberi daun pisang, kemudian gulung dan bungkus rapat dengan daun pisang.
  7. Tekuk ujung daun pisang dan ikat dengan tali agar bungkus tidak terbuka.
  8. Rebus tumbuk selama ±10 jam. Jika air rebusan menyusut, tambahkan air secukupnya. Masak hingga ketan benar-benar matang dan padat.

Hasilnya adalah tekstur yang padat, legit, dan gurih dengan aroma daun pisang yang kuat, bikin nagih kalau disajikan hangat bersama lauk kuah atau sambal.

Kapan Tumbuk Dibuat?

Tumbuk punya peran penting dalam berbagai momen sosial:

  • Menjelang hari besar Islam: terutama Idulfitri dan Iduladha, tumbuk selalu masuk daftar hidangan yang wajib ada di rumah warga Bugis‑Makassar.
  • Perjalanan jauh: ketika anggota keluarga hendak pergi jauh, membuat tumbuk jadi doa simbolis agar perjalanan lancar dan aman.
  • Acara adat / kunjungan keluarga: hidangan ini sering disiapkan saat orang‑orang datang bertamu untuk menunjukkan keramahan tuan rumah.

Dalam bahasa Bugis, penyebutan tumbu’ juga kadang diucapkan sebagai legese, yang menurut beberapa pendapat lokal merujuk pada proses “ditumbuk” atau dipadatkan dalam bentuknya.

Makna Sosial & Kebudayaan

Tumbuk lebih dari makanan, ia adalah simbol kebersamaan keluarga dan komunitas.

Dari proses menyiapkan bahan, memasak berjam‑jam, sampai menyuguhkannya di meja makan bersama orang‑orang terdekat, semuanya memperkuat ikatan sosial.

Tradisi ini juga menjaga kearifan lokal agar generasi baru tetap memegang peran budaya mereka.

Nur Ainun Afiah

Share
Published by
Nur Ainun Afiah
Tags: Kuliner Sulsel Makanan Khas Makassar kuliner Bugis Makassar tumbuk lammang