Overview
Onde-onde hijau khas Makassar merupakan kue tradisional berisi gula merah yang sarat nilai budaya dan filosofi hidup masyarakat Bugis-Makassar.
Makanan ini wajib hadir dalam berbagai acara adat dan syukuran sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan harapan akan kehidupan yang manis.
Onde-onde hijau telah dikenal dan dikonsumsi masyarakat lokal sejak masa sebelum masuknya Islam di Sulawesi Selatan.
SulawesiPos.com – Onde-onde hijau berisi gula merah merupakan salah satu makanan tradisional khas Bugis-Makassar yang masih dikenal hingga kini.
Kue tradisional ini terbuat dari tepung ketan dengan tambahan santan serta pewarna alami dari daun pandan atau suji, sehingga menghasilkan warna hijau yang khas dan aroma yang lembut.
Teksturnya kenyal di luar dengan isian gula merah cair di dalam menjadikannya camilan sederhana namun kaya rasa.
Bagi masyarakat Bugis-Makassar, onde-onde bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari ingatan kolektif dan tradisi keluarga yang terus dijaga.
Meski tidak tercatat secara tertulis, namun onde-onde diketahui sudah ada jauh sebelum Islam masuk.
Kue tradisional Bugis-Makassar ini bahkan masuk Deppa Pitu atau kue tujuh rupa dalam naskah sejarah Bugis-Makassar.
Sehingga onde-onde hijau dipercaya telah lama hadir dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar sebagai bagian dari kuliner rumahan.
Makanan ini berkembang seiring kebiasaan masyarakat mengolah bahan lokal yang mudah diperoleh, seperti ketan dan gula aren.
Resepnya diwariskan secara turun-temurun, terutama melalui tradisi lisan di lingkungan keluarga.
Dari dapur rumah sederhana hingga pasar tradisional, onde-onde hijau menjadi simbol ketekunan dan kearifan lokal masyarakat Makassar.
Dalam berbagai acara adat dan syukuran, onde-onde hampir selalu disajikan sebagai hidangan wajib.
Mulai dari pernikahan, mappacci, akikah, hingga acara doa bersama keluarga, kehadiran onde-onde menjadi penanda rasa syukur dan penghormatan kepada tamu.
Proses pembuatannya kerap dilakukan secara gotong royong, terutama oleh para perempuan, menjadikan dapur sebagai ruang interaksi sosial dan penguatan ikatan kekeluargaan.
Tanpa onde-onde, sebuah hajatan sering dianggap belum lengkap secara adat.
Onde-onde mengandung filosofi hidup yang kuat. Bentuknya yang bulat melambangkan persatuan.
Saat disajikan dan dimakan dalam acara adat, onde-onde menjadi doa simbolik agar kehidupan yang dijalani kelak penuh berkah, manis dalam batin, dan harmonis dalam hubungan sosial.