Categories: Kuliner

Mengenal Dangke, Keju Tradisional Khas Enrekang dengan Cita Rasa Gurih

Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak hanya dikenal dengan coto dan pallubasa, tetapi juga memiliki keju tradisional khas yang unik bernama dangke.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Sulsel atau penikmat kuliner Nusantara, mencicipi dangke bisa menjadi pengalaman berbeda karena rasanya yang autentik dan sarat nilai budaya.

Keju tradisional ini kerap dijadikan oleh-oleh atau sajian khas yang mewakili kekayaan kuliner daerah pegunungan Sulawesi Selatan.

Asal-usul Keju Dangke

Dangke merupakan kuliner tradisional khas Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Nama “dangke” diyakini berasal dari ungkapan bahasa Belanda dank je wel yang berarti “terima kasih”, sebagai bentuk apresiasi orang Belanda yang pertama kali mencicipi keju ini.

Ungkapan tersebut kemudian diadaptasi oleh masyarakat lokal hingga dikenal luas sebagai sebutan dangke.

Cita Rasa dan Proses Pembuatan Dangke

Dangke memiliki tekstur kenyal dengan rasa gurih yang khas, menjadikannya berbeda dari keju pada umumnya.

Keju ini dibuat dari susu kerbau atau sapi yang dipanaskan lalu digumpalkan menggunakan getah pepaya hingga membentuk dadih.

Dadih tersebut dicetak menggunakan tempurung kelapa atau cetakan tradisional lain dan dibungkus daun pisang agar tetap segar.

Dangke memiliki rasa sedikit asin dan sangat nikmat disantap bersama pulu mandoti, nasi ketan khas Enrekang, atau sambal terasi.

Nilai Budaya dan Daya Tarik Wisata Kuliner

Selain menjadi makanan, dangke juga memiliki nilai sosial dan budaya karena kerap disajikan dalam berbagai acara adat dan perayaan penting masyarakat Enrekang.

Kehadiran dangke dalam festival kuliner dan promosi wisata menunjukkan pentingnya pelestarian keju tradisional ini sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda dan wisatawan.

Rhoely Maguire

Share
Published by
Rhoely Maguire
Tags: Dangke Enrekang Keju Tradisional Kuliner Sulsel