Kategori: Ekonomi

Dukung Hilirisasi LTJ, Unhas Bakal Jadi Hub Pengembangan Mineral Kritis Nasional

SulawesiPos.com — Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Simposium Nasional bertema “Optimalisasi Peran Institute for Critical Mineral Unhas dalam Rangka Sinergitas Pemangku Kepentingan untuk Mendukung Program Hilirisasi Mineral Kritis di Indonesia” di Ruang Senat Lantai 2 Rektorat Unhas, Tamalanrea, Makassar, Senin (12/10/2026).

Forum strategis ini menghadirkan para pemangku kepentingan untuk membahas percepatan hilirisasi serta penguasaan teknologi logam tanah jarang (LTJ) di Indonesia.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Surono, menyoroti besarnya potensi logam tanah jarang yang ada di Sulawesi Barat, khususnya Kabupaten Mamuju. Pakar geofisika dan mitigasi bencana yang akrab disapa Mbah Rono ini mengibaratkan keberadaan LTJ sebagai elemen krusial bagi perkembangan industri modern di masa depan.

“Itu yang di Mamuju kan memang terbesar potensinya. Sekarang bagaimana memanfaatkannya, karena logam tanah jarang itu vitaminnya teknologi maju. Kebutuhannya sedikit tetapi sangat urgen, seperti kita minum vitamin. Barangnya sedikit, tidak seperti nasi yang kita makan banyak. Tapi logam tanah jarang itu kebutuhannya sedikit tetapi sangat bermanfaat, misalnya untuk mobil listrik, efisiensi generator, dan sebagainya,” ujar Surono.

Terkait dengan kekhawatiran dampak lingkungan dan radiasi dalam proses penambangan, Surono menegaskan pentingnya kajian lingkungan yang ketat serta keterlibatan aktif masyarakat lokal agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam proses eksploitasi.

“Setiap penambangan itu diawali dengan kajian lingkungan yang diuji bertubi-tubi di Kementerian Lingkungan Hidup. Dokumen lingkungan itu harus dijalankan dari proses penambangan sampai reklamasi agar tidak mengganggu lingkungan. Saya berharap jika nanti logam tanah jarang di Mamuju dieksploitasi, masyarakat di sekitarnya jangan ditinggalkan. Kalau LTJ ini membuat kaya negara, ya masyarakat di sekitarnya harus sejahtera,” jelasnya.

Ia juga menekankan peran akademisi dan institusi pendidikan tinggi agar tetap berdiri independen sebagai pusat pemikiran yang objektif dan transparan bagi masyarakat maupun pihak industri.

“Universitas seperti Unhas dan sekitarnya harus tetap menjadi think tank. Bukan hanya berpihak kepada industri, tetapi juga berpihak kepada masyarakat. Perguruan tinggi harus menerangkan apa manfaat dan reaksinya supaya terbuka, tidak ada dusta di antara siapapun dan tidak ada keraguan apakah ini nanti membahayakan atau tidak. Ilmu pengetahuan kan hanya boleh salah, tidak boleh bohong, dan di Unhas inilah tempat yang bisa mengedukasi masyarakat serta membantu industri,” tegas Surono.

Surono meyakini bahwa penguasaan LTJ merupakan kunci utama bagi sebuah bangsa untuk bertransformasi menjadi negara maju, sejalan dengan visi kepemimpinan nasional.

“Logam tanah jarang adalah kunci negara maju. Penghasil LTJ terbesar dunia saat ini adalah Cina, dan kita bisa melihat kemajuan mereka sekarang. LTJ itu vitaminnya teknologi. Kalau kita hanya mengekspor barang mentah, kita akan menjadi penonton teknologi maju di dunia,” pungkasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Hubungan Kelembagaan Kementerian ESDM, Prof. Tirta Nugraha Mursitama, menegaskan bahwa masuknya LTJ ke dalam rantai hilirisasi nasional merupakan sebuah keharusan yang didukung oleh regulasi dan koordinasi lintas lembaga.

“Logam tanah jarang harus masuk dalam rantai hilirisasi. Regulasinya sudah ada, termasuk Undang-Undang Minerba. Komunikasi antara Kementerian ESDM, BRIN, Badan Industri Mineral, dan instansi lain berjalan sangat baik. Kuncinya adalah Asta Cita poin 2 dan 5, yaitu hilirisasi melalui industrialisasi. Itulah pesan Presiden Prabowo Subianto yang harus kita laksanakan,” ungkap Prof. Tirta.

Terkait isu internal operasional energi di Pertamina, Prof. Tirta enggan berkomentar banyak karena berada di luar kewenangannya. Mengenai keberadaan Institute for Critical Mineral (ICM) Unhas, ia menegaskan bahwa Kementerian ESDM memberikan dukungan penuh dan menjadikan Unhas sebagai pusat koordinasi (hub) pengembangan mineral kritis di wilayah timur Indonesia.

“Kementerian ESDM sangat mendukung inisiatif ini. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah berbicara langsung dengan Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, sehingga mengutus kami ke sini untuk menjadikan ICM Unhas sebagai hub. Ini bukan hanya untuk Unhas saja, melainkan kesempatan untuk merangkul kampus-kampus lain di seluruh Indonesia. Timur Indonesia ini adalah masa depan Indonesia,” papar Prof. Tirta.

Ia menambahkan bahwa skema ini didukung oleh lintas kementerian dan lembaga seperti LPDP serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul serta transfer teknologi dari para pelaku industri.

“Pendirian ICM ini adalah bagian dari transfer teknologi dan pengembangan SDM. Perusahaan investor yang sudah mendapat insentif perlu berbagi dalam pengembangan SDM dan teknologi. Harus ada timbal balik yang terstruktur melalui kerja sama pentahelix yang melibatkan pemerintah, industri, akademisi, masyarakat, dan NGO. Semua harus mendapatkan manfaat secara adil agar operasional industri berjalan dengan tenang,” kata Prof. Tirta.

Ketua Institute for Critical Mineral (ICM) Unhas, Prof. Adi Maulana, menjelaskan langkah taktis Unhas dalam mengejar ketertinggalan penguasaan teknologi penambangan LTJ, salah satunya melalui kolaborasi internasional bersama Sustainable Mining Institute dari University of Queensland (UQ), Australia.

“University of Queensland memiliki pengalaman puluhan tahun bekerja sama dengan perusahaan tambang internasional terkait pengelolaan logam tanah jarang. Cina sudah memulai riset dan penguasaan teknologi ini sejak tahun 1980-an, sedangkan kita baru mulai sekarang. Jika kita bekerja secara business as usual, butuh waktu 30 tahun untuk menguasainya. Oleh karena itu, strategi kerja sama ini dilakukan untuk percepatan,” jelas Prof. Adi.

Prof. Adi mengungkapkan bahwa target percepatan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang menginginkan langkah cepat dalam eksplorasi mineral strategis.

“Presiden memberikan target agar tahun depan proses eksplorasi sudah mulai berjalan. Waktu normal yang biasanya memakan waktu hingga 6 tahun dipangkas menjadi 1 tahun. Melalui kerja sama dengan Sustainable Mining Institute UQ, kita membahas tata kelola, transfer teknologi, hingga hak paten bersama. Kami juga berkoordinasi dengan Bimb, Perminas, dan kementerian terkait agar seluruh permasalahan dapat didudukkan sesuai porsinya,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa Unhas memiliki ekosistem hilirisasi mineral yang lengkap dari hulu ke hilir dan siap menjadi laboratorium serta pusat kolaborasi bagi para peneliti, pengambil kebijakan, dan pelaku industri.

“Unhas menyiapkan lahan dan fasilitas, namun ICM ini adalah milik bersama. Kami telah menjalin kerja sama dengan BRIN, Pemprov Sulawesi Barat, hingga Perusahaan Mineral Strategis (Perminas) serta Badan Industri Mineral yang baru dibentuk Presiden untuk mengawal tambang LTJ.

Kehadiran ICM diharapkan mampu memfasilitasi mahasiswa, peneliti, dan profesor luar negeri dalam mewujudkan kemandirian industri manufaktur nasional serta menjadi contoh praktik pertambangan yang berkelanjutan (sustainable mining ecosystem),” tutup Prof. Adi.

MN Abdurrahman

Bagikan
Diterbitkan oleh
MN Abdurrahman
Tag: hilirisasi Institute for Critical Mineral Kementerian ESDM Logam Tanah Jarang Mamuju Mineral Kritis Mining Ecosystem Unhas