Dekan FEB Unhas Prof Dr Mursalim Nohong SE, M.Si
SulawesiPos.com — Perombakan kursi Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara dinilai menjadi ujian krusial bagi stabilitas tata kelola anggaran Kabinet Merah Putih.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., menilai respons cepat pasar finansial mencerminkan kerinduan terhadap kepastian arah kebijakan, bukan sekadar pergantian figur di pucuk pimpinan bendahara negara.
Prof. Mursalim mencatat rotasi ini merupakan kali kedua di kementerian keuangan sepanjang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, setelah sebelumnya Purbaya menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Kendati demikian, masuknya Suahasil dipandang mampu meminimalisasi guncangan karena rekam jejaknya yang panjang di kementerian tersebut.
“Suahasil bukan wajah baru bagi birokrasi maupun bagi pelaku pasar modal. Beliau telah menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan memiliki jam terbang lebih dari dua dekade di ranah fiskal, mulai dari akademisi hingga Kepala BKF. Pengalaman panjang ini sangat mumpuni, sehingga kami berharap kepemimpinannya dapat mengawal stabilitas fiskal kabinet hingga tuntas,” ujar Prof. Mursalim, saat dihubungi SPos, Selasa (15/9/2026).
Sensitivitas pasar terhadap momentum reshuffle ini terlihat jelas di lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ambruk hingga titik terendah 6.371,39 akibat ketidakpastian informasi di awal sesi perdagangan, sebelum akhirnya berbalik menguat secara dramatis ke rentang 6.541–6.550 begitu pelantikan Suahasil resmi diumumkan. Indeks LQ45 bahkan ditutup melesat 1,21 persen seiring aksi borong investor institusi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
Menurut Prof. Mursalim, reaksi pasar modal yang bergerak cepat membuktikan bahwa pasar merespons positif reputasi profesional Suahasil, meski pergerakan rupiah di kisaran Rp17.607–Rp17.650 per dolar AS masih tertekan sentimen global akibat lonjakan harga minyak mentah dan kenaikan imbal hasil obligasi global. Bantalan makro domestik sejatinya cukup terjaga, tercermin dari arus modal masuk yang menembus Rp141,6 triliun dan instrumen SRBI yang menyerap dana asing lebih dari Rp200 triliun.
“Pasar bereaksi paling tajam terhadap ketidakpastian, bukan terhadap pergantian orangnya. Rebound saham kemarin adalah sinyal awal bahwa pasar menerima figur Suahasil karena reputasinya yang sudah teruji. Namun, tugas mendesak beliau adalah membuktikan sinyal tersebut melalui aksi nyata dan komunikasi yang terarah, bukan dengan meluncurkan gebrakan drastis yang justru memicu kegugupan baru,” tegas Guru Besar Manajemen Keuangan FEB Unhas tersebut.
Ia menambahkan, ada beberapa langkah taktis yang harus segera dieksekusi Menkeu dalam hari-hari pertama masa jabatannya.
Pertama, kementerian harus merilis komunikasi publik yang lugas untuk memastikan APBN, batasan defisit, dan alokasi program prioritas tetap berjalan konsisten.
Kedua, mekanisme stabilisasi pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang sebelumnya aktif dijalankan Purbaya harus dipastikan tidak terhenti, demi menjaga kepercayaan basis investor domestik.
Tantangan eksternal juga menuntut respons cepat Menkeu baru, terutama lonjakan harga minyak Brent yang menembus level US$107 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah.
Menkeu dinilai perlu segera menghitung ulang asumsi subsidi energi dan menyiapkan skema mitigasi risiko seperti lindung nilai agar tidak menjebol ruang fiskal.
Di samping itu, konsolidasi tim internal dan dialog langsung dengan lembaga pemeringkat kredit internasional mutlak dilakukan guna mengamankan peringkat utang Indonesia dari potensi pelebaran credit spread.
“Kunci dari seluruh transisi ini adalah kontinuitas tata kelola. Kebijakan yang sudah berjalan dengan baik di era Purbaya harus terus divalidasi dan dijalankan. Suahasil harus memastikan bahwa tidak ada kesan ‘reset kebijakan’ yang bisa ditangkap keliru oleh investor domestik maupun global,” pungkas Prof. Mursalim.