Rupiah Bertahan di Level Rp18.000, Tiga Barang Ini Berpotensi Naik Harga Jika Pelemahan Berlanjut

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), kurs rupiah sempat menyentuh Rp18.092 per dolar AS sebelum bergerak menguat tipis ke kisaran Rp18.036 per dolar AS pada sore.

Meski menunjukkan perbaikan dibanding posisi tertingginya hari ini, rupiah masih berada di atas level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor maupun transaksi berbasis dolar.

Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama, setidaknya ada tiga kelompok barang dan layanan yang berpotensi mengalami kenaikan harga.

1. Ponsel dan Produk Elektronik

Barang elektronik menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS.

Sebagian besar ponsel, laptop, tablet, kamera, hingga perangkat wearable masih diproduksi di luar negeri atau menggunakan komponen impor.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan barang dari luar negeri ikut meningkat.

BACA JUGA:  Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Menguat Dalam Dua Pekan

Kondisi ini dapat mendorong distributor maupun produsen melakukan penyesuaian harga jual kepada konsumen.

Tidak hanya produk premium, perangkat elektronik kelas menengah dan aksesoris teknologi juga berpotensi terdampak apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

2. BBM dan Produk Energi

Dampak berikutnya berpotensi dirasakan pada sektor energi. Pasalnya, transaksi minyak mentah dunia masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama.

Saat rupiah melemah, biaya impor bahan bakar dan energi menjadi lebih mahal.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban biaya pengadaan energi yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga BBM, gas, maupun biaya distribusi barang.

Kenaikan biaya distribusi ini juga bisa berdampak lanjutan terhadap harga berbagai kebutuhan pokok dan produk konsumsi masyarakat.

3. Tiket Pesawat

Industri penerbangan termasuk sektor yang sangat dipengaruhi pergerakan dolar AS.

Banyak komponen operasional maskapai dibayar menggunakan mata uang tersebut, mulai dari sewa pesawat, pembelian suku cadang, perawatan armada, hingga asuransi.

BACA JUGA:  Rupiah Tembus Rp17.700, Menkeu Tegaskan Ekonomi 2026 Jauh Lebih Kuat Dibanding Krisis 1998

Apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, biaya operasional maskapai dapat meningkat dan berpotensi mendorong penyesuaian harga tiket penerbangan.

Selain itu, masyarakat yang berencana berlibur ke luar negeri juga harus menyiapkan anggaran lebih besar.

Pelemahan rupiah membuat biaya hotel, transportasi, makanan, hingga belanja di negara tujuan menjadi semakin mahal.

Efek Berantai ke Berbagai Sektor

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada tiga sektor tersebut.

Jika berlangsung dalam waktu lama, kenaikan biaya impor dapat memicu efek berantai ke berbagai industri, termasuk harga mobil dan sepeda motor, obat-obatan, hingga produk fesyen impor.

SulawesiPos.com – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), kurs rupiah sempat menyentuh Rp18.092 per dolar AS sebelum bergerak menguat tipis ke kisaran Rp18.036 per dolar AS pada sore.

Meski menunjukkan perbaikan dibanding posisi tertingginya hari ini, rupiah masih berada di atas level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor maupun transaksi berbasis dolar.

Jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama, setidaknya ada tiga kelompok barang dan layanan yang berpotensi mengalami kenaikan harga.

1. Ponsel dan Produk Elektronik

Barang elektronik menjadi salah satu sektor yang paling sensitif terhadap pergerakan kurs dolar AS.

Sebagian besar ponsel, laptop, tablet, kamera, hingga perangkat wearable masih diproduksi di luar negeri atau menggunakan komponen impor.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan barang dari luar negeri ikut meningkat.

BACA JUGA:  Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp16.950, Sentimen Greenland dan BI Jadi Sorotan

Kondisi ini dapat mendorong distributor maupun produsen melakukan penyesuaian harga jual kepada konsumen.

Tidak hanya produk premium, perangkat elektronik kelas menengah dan aksesoris teknologi juga berpotensi terdampak apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

2. BBM dan Produk Energi

Dampak berikutnya berpotensi dirasakan pada sektor energi. Pasalnya, transaksi minyak mentah dunia masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama.

Saat rupiah melemah, biaya impor bahan bakar dan energi menjadi lebih mahal.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan beban biaya pengadaan energi yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi harga BBM, gas, maupun biaya distribusi barang.

Kenaikan biaya distribusi ini juga bisa berdampak lanjutan terhadap harga berbagai kebutuhan pokok dan produk konsumsi masyarakat.

3. Tiket Pesawat

Industri penerbangan termasuk sektor yang sangat dipengaruhi pergerakan dolar AS.

Banyak komponen operasional maskapai dibayar menggunakan mata uang tersebut, mulai dari sewa pesawat, pembelian suku cadang, perawatan armada, hingga asuransi.

BACA JUGA:  Rupiah Sempat Jebol Rp18.000 per Dolar AS pada Perdagangan Pagi Hari Ini

Apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, biaya operasional maskapai dapat meningkat dan berpotensi mendorong penyesuaian harga tiket penerbangan.

Selain itu, masyarakat yang berencana berlibur ke luar negeri juga harus menyiapkan anggaran lebih besar.

Pelemahan rupiah membuat biaya hotel, transportasi, makanan, hingga belanja di negara tujuan menjadi semakin mahal.

Efek Berantai ke Berbagai Sektor

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada tiga sektor tersebut.

Jika berlangsung dalam waktu lama, kenaikan biaya impor dapat memicu efek berantai ke berbagai industri, termasuk harga mobil dan sepeda motor, obat-obatan, hingga produk fesyen impor.

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru