Overview:
SulawesiPos.com – Komisi XI DPR RI menyepakati Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) untuk menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026. Kesepakatan tersebut diambil melalui rapat internal Komisi XI DPR RI.
Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan keputusan itu dicapai melalui mekanisme musyawarah mufakat setelah sebelumnya dibahas dalam rapat pimpinan bersama pimpinan kelompok fraksi (Poksi).
“Telah dilakukan kesepakatan melalui proses musyawarah mufakat dan kemudian dimasukkan dalam rapat internal di Komisi XI bahwa yang diputuskan untuk menjadi Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung yang mengundurkan diri adalah Thomas Djiwandono,” kata Misbakhun di Kompleks Parlemen Jakarta, Senin (26/1/2026).
Misbakhun menambahkan, keputusan tersebut selanjutnya akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI pada Selasa (27/1/2026) guna memperoleh persetujuan resmi.
Menurut Misbakhun, proses pengisian jabatan Deputi Gubernur BI telah berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Ia menegaskan bahwa penunjukan Thomas Djiwandono bersama dua kandidat lain, yakni Dicky Kartikoyono dan Solikin M. Juhro, merupakan hasil rekomendasi resmi dari Gubernur BI Perry Warjiyo.
“Presiden dalam hal ini tidak melakukan intervensi terhadap Bank Indonesia. Presiden hanya menjalankan fungsi konstitusional dengan meneruskan usulan Gubernur BI kepada DPR,” jelas Misbakhun di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Thomas Djiwandono bukan sosok baru dalam lingkaran kebijakan ekonomi dan politik nasional.
Lahir di Jakarta pada 7 Mei 1972, pria yang akrab disapa Tommy ini berasal dari keluarga dengan pengaruh kuat di bidang ekonomi dan politik.
Ia merupakan putra dari Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia yang kini mengajar di Nanyang Technological University, Singapura.
Dari garis ibu, Thomas adalah keponakan Prabowo Subianto, pendiri Partai Gerindra, sekaligus cicit dari R.M. Margono Djojohadikusumo, tokoh perbankan nasional dan pendiri Bank BNI 46. Thomas telah menikah dan dikaruniai tiga orang anak.
Pendidikan Thomas ditempuh di dalam dan luar negeri. Ia mengenyam pendidikan menengah di SMP Kanisius, Menteng, Jakarta, sebelum melanjutkan studi ke Amerika Serikat.
Ia meraih gelar sarjana di bidang sejarah dari Haverford College, Pennsylvania, serta gelar magister di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University School of Advanced International Studies, Washington.
Karier profesionalnya dimulai di dunia jurnalistik sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada 1993, lalu berlanjut di Indonesia Business Weekly setahun kemudian.
Setelah itu, Thomas beralih ke sektor keuangan dan pernah bekerja sebagai analis di Whetlock NatWest Securities di Hong Kong.
Pada 2006, Thomas bergabung dengan Arsari Group atas permintaan pamannya, Hashim Djojohadikusumo.
Di perusahaan agrobisnis tersebut, ia menjabat sebagai Deputy CEO dan terlibat dalam pengelolaan strategis perusahaan.
Di bidang politik, Thomas aktif di Partai Gerindra dan sempat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif di Provinsi Kalimantan Barat.
Hingga 2025, ia menjabat sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra dan dikenal sebagai pengendali utama keuangan partai.
Perannya menjadi sorotan terutama pada Pilpres 2014 saat Partai Gerindra mengusung pasangan Prabowo Subianto–Hatta Rajasa.
Dalam periode tersebut, Thomas berperan penting dalam pengelolaan logistik dan keuangan Koalisi Merah Putih.
Ia dikenal disiplin dan sistematis dalam mencatat seluruh aktivitas keuangan partai.
Kinerja tersebut berbuah pengakuan publik.
Partai Gerindra tercatat memperoleh predikat sebagai partai politik dengan laporan keuangan paling transparan serta menerima penghargaan dari Transparency International Indonesia dan Indonesia Corruption Watch.
Meskipun dengan capaian prestisius itu, tercatat sejak Desember 2025 ia meninggalkan Partai Gerindra.