Categories: Ekonomi

Mengapa Saham Amerika Serikat Mulai Kehilangan Daya Tariknya di Panggung Global?

SulawesiPos.com – Kekhawatiran terhadap valuasi yang terlalu tinggi, meningkatnya ketidakpastian perdagangan global, serta risiko terbentuknya gelembung kecerdasan buatan mendorong investor internasional mengalihkan modal mereka dari pasar Amerika Serikat ke kawasan lain, terutama Asia.

Saham Amerika Serikat, khususnya yang tercatat di Bursa Wall Street New York, menunjukkan kinerja relatif lebih lemah dibandingkan saham internasional dengan selisih terbesar sejak krisis keuangan global 2008.

Para investor global kini secara bertahap meningkatkan porsi investasi di luar Amerika Serikat sebagai respons terhadap ketidakpastian kebijakan ekonomi, volatilitas geopolitik, dan kekhawatiran bahwa valuasi pasar Amerika telah melampaui fundamental jangka panjangnya.

Sejumlah manajer investasi menilai diversifikasi lintas kawasan sebagai strategi defensif yang rasional, baik untuk mengurangi eksposur terhadap pasar yang dinilai mahal maupun untuk menangkap peluang pertumbuhan ekonomi global yang lebih merata.

Perbandingan valuasi menunjukkan bahwa saham-saham Amerika Serikat diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pasar Eropa dan Asia, mencerminkan optimisme yang sekaligus mengandung risiko koreksi.

Indeks S&P 500 mencatat kenaikan signifikan sejak awal tahun dan diperdagangkan jauh di atas rata-rata historisnya, sementara indeks global non-Amerika menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dengan valuasi yang relatif lebih moderat.

Pada periode yang sama, indeks MSCI di luar Amerika Serikat dan pasar negara berkembang memperoleh dorongan tambahan dari pelemahan dolar AS, yang secara historis meningkatkan arus modal ke aset berisiko di luar Amerika.

Tekanan utama pasar berasal dari kombinasi valuasi tinggi sektor teknologi, ketidakpastian perdagangan akibat kebijakan tarif yang fluktuatif, serta kekhawatiran bahwa lonjakan saham berbasis kecerdasan buatan tidak sepenuhnya ditopang oleh pertumbuhan laba riil.

Kelompok saham teknologi raksasa yang dikenal sebagai “Magnificent Seven” kini menyumbang porsi yang sangat besar terhadap indeks S&P 500, sehingga setiap koreksi pada saham-saham ini berpotensi mengguncang pasar secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, investor global mulai mencari perlindungan risiko dengan meningkatkan alokasi investasi lintas negara sebagai bentuk antisipasi jika reli kecerdasan buatan mengalami perlambatan.

Isu ini tidak semata menyangkut risiko gelembung, tetapi juga pergeseran pusat inovasi global ke Asia, di mana perusahaan teknologi Tiongkok dan Asia Timur mulai muncul sebagai pesaing serius bagi dominasi perusahaan Amerika.

Kawasan Asia mencatatkan kinerja pasar yang menonjol, dengan indeks saham utama di Tiongkok dan Hong Kong menunjukkan pemulihan kuat seiring dukungan kebijakan industri, teknologi, dan stabilisasi ekonomi domestik.

Berbagai pengujian independen menunjukkan bahwa model kecerdasan buatan dan teknologi digital buatan Asia, khususnya Tiongkok, telah mencapai tingkat daya saing global yang setara dengan produk Amerika Serikat.

Fokus negara-negara Asia pada penguatan rantai pasok teknologi, kemandirian inovasi, serta kebijakan fiskal dan moneter yang pro-pertumbuhan dinilai berpotensi meningkatkan profitabilitas korporasi dalam jangka menengah.

Sejumlah lembaga keuangan internasional pun mulai menyesuaikan strategi portofolio mereka dengan meningkatkan bobot saham Asia dan pasar berkembang sebagai respons terhadap perubahan lanskap ekonomi global.

Pertanyaan utama yang kini dihadapi pasar adalah apakah keunggulan saham internasional akan berlanjut dalam jangka panjang, atau justru raksasa teknologi Amerika kembali menarik arus modal global jika pertumbuhan kecerdasan buatan mampu bertransformasi menjadi laba yang berkelanjutan.(ali)

Admin

Share
Published by
Admin
Tags: investor global pasar Asia saham Amerika Serikat