SulawesiPos.com – Selama puluhan tahun, Central Intelligence Agency (CIA) dipandang sebagai salah satu institusi intelijen paling kuat dan paling tertutup di dunia.
Lembaga ini mengelola operasi-operasi rahasia lintas negara, mengakses informasi strategis tingkat tinggi, dan menjadi salah satu instrumen utama kebijakan keamanan Amerika Serikat.
Namun sebuah kasus yang kini sedang bergulir di Amerika justru memperlihatkan sisi lain yang jarang terlihat oleh publik.
Bukan ancaman dari negara asing. Bukan pula serangan kelompok teroris.
Melainkan dugaan penyalahgunaan wewenang yang berasal dari dalam tubuh lembaga itu sendiri.
Kasus yang melibatkan mantan pejabat CIA David Rush, sebagaimana dilaporkan The Guardian pada 7 Juni 2026, kini menjadi perhatian luas setelah ia dituduh mencuri emas batangan senilai lebih dari 40 juta dolar AS dan diduga menciptakan program intelijen fiktif untuk mengalihkan dana pemerintah Amerika Serikat.
Di tengah gelombang perhatian publik tersebut, Muhammad Ridwan, S.S., M.A., alumni SIT Graduate Institute, Brattleboro, Vermont, Amerika Serikat, memberikan pandangan yang menarik.
Sebagai akademisi yang pernah menempuh pendidikan tinggi di Amerika dan kini menjabat Sekretaris Kantor Urusan Internasional Universitas Hasanuddin, Ridwan menilai kasus ini harus dibaca secara lebih jernih dan proporsional.
“Sebagai alumni pendidikan tinggi di Amerika Serikat, saya memandang berita mengenai dugaan skandal yang melibatkan mantan pejabat CIA ini sebagai pengingat penting bahwa tidak ada institusi yang sepenuhnya kebal terhadap penyalahgunaan wewenang,” ujar Ridwan kepada SulawesiPos.com (9/6).
Namun ia mengingatkan bahwa publik juga perlu menghormati prinsip-prinsip hukum yang menjadi fondasi negara demokrasi modern.
“Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa kasus ini masih berada dalam proses penyelidikan dan hukum. Prinsip presumption of innocence atau asas praduga tak bersalah tetap harus dijunjung sampai ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Tuduhan serius seperti ini harus diuji melalui proses investigasi, pembuktian, dan pengawasan yang transparan,” tegasnya.
Ketika Kerahasiaan dan Akuntabilitas Bertemu
Bagi Ridwan, kasus David Rush sesungguhnya memperlihatkan dilema yang dihadapi hampir semua negara modern.
Di satu sisi, negara membutuhkan lembaga intelijen yang mampu bekerja dalam kerahasiaan demi melindungi keamanan nasional.
Namun di sisi lain, kerahasiaan yang terlalu besar tanpa pengawasan yang memadai dapat menciptakan ruang bagi penyalahgunaan kewenangan.
“Dari perspektif tata kelola publik, kasus semacam ini menunjukkan dua hal sekaligus,” kata Ridwan.
“Pertama, pentingnya kerahasiaan dalam keamanan nasional. Lembaga intelijen memang memerlukan tingkat kerahasiaan tertentu untuk melindungi negara dan warga negaranya. Kedua, pentingnya pengawasan dan akuntabilitas. Semakin besar kewenangan dan akses yang dimiliki seseorang, semakin kuat pula mekanisme pengawasan yang diperlukan untuk mencegah penyimpangan.”
Menurutnya, perkembangan teknologi, meningkatnya kompleksitas ancaman keamanan global, serta besarnya anggaran yang dikelola lembaga-lembaga intelijen membuat kebutuhan akan sistem pengawasan yang kuat menjadi semakin penting.
“Kepercayaan publik tidak lahir dari kerahasiaan semata. Kepercayaan lahir ketika masyarakat melihat bahwa institusi yang memiliki kekuasaan besar juga tunduk pada mekanisme pertanggungjawaban yang kuat,” ujarnya.
Kekuatan Amerika Justru Terlihat Saat Skandal Terungkap
Di tengah kritik yang mengemuka terhadap CIA, Ridwan justru melihat sisi lain yang patut dicermati.
Menurutnya, fakta bahwa kasus tersebut dapat terungkap menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan di Amerika Serikat masih bekerja.
“Saya melihat bahwa salah satu kekuatan sistem di Amerika adalah adanya mekanisme investigasi lintas lembaga,” katanya.
Ia menunjuk keterlibatan FBI, pengadilan federal, media investigatif, serta pengawasan publik sebagai contoh bagaimana sistem demokrasi modern berupaya menjaga keseimbangan kekuasaan.
“Fakta bahwa dugaan pelanggaran ini dapat diungkap dan diproses menunjukkan bahwa sistem checks and balances tetap bekerja, meskipun tentu masih ada ruang untuk perbaikan.”
Ridwan menilai banyak negara sering kali hanya melihat skandal sebagai tanda kegagalan institusi.
Padahal dalam banyak kasus, kemampuan sebuah negara membongkar dan mengadili dugaan pelanggaran justru menunjukkan adanya kesehatan sistem demokrasi.
“Sebuah negara tidak dinilai dari ada atau tidak adanya penyimpangan. Tidak ada negara yang sempurna. Yang lebih penting adalah apakah negara tersebut memiliki keberanian dan kapasitas untuk mendeteksi, menginvestigasi, dan menindak penyimpangan secara adil.”
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Menurut Ridwan, kasus ini juga menyimpan pelajaran berharga bagi Indonesia dan berbagai negara berkembang yang sedang memperkuat tata kelola kelembagaan mereka.
“Integritas institusi tidak hanya bergantung pada aturan. Integritas dibangun melalui budaya etika, verifikasi yang ketat, audit independen, dan perlindungan terhadap pelapor pelanggaran atau whistleblower,” ujarnya.
Ia menilai bahwa penguatan sistem pengawasan internal sering kali jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan hukuman setelah pelanggaran terjadi.
Dalam berbagai studi tata kelola publik modern, lanjutnya, organisasi yang mampu membangun budaya transparansi dan akuntabilitas cenderung lebih tahan terhadap penyalahgunaan kekuasaan dibandingkan organisasi yang hanya mengandalkan struktur birokrasi formal.
“Pada akhirnya, kepercayaan publik terhadap lembaga negara dibangun bukan dari klaim bahwa lembaga tersebut sempurna, melainkan dari kemampuan negara untuk mendeteksi, menginvestigasi, dan menindak dugaan penyalahgunaan secara adil dan transparan,” kata dia.
Sebuah Pengingat bagi Dunia
Kasus David Rush mungkin masih akan membutuhkan waktu panjang sebelum seluruh fakta terungkap melalui proses hukum.
Namun bagi Muhammad Ridwan, pesan yang dapat dipetik sejak sekarang sudah cukup jelas bahwa ancaman terhadap institusi tidak selalu datang dari luar.
Kadang-kadang, ancaman terbesar justru muncul dari individu yang memperoleh tingkat kepercayaan tertinggi di dalam sistem.
Dan ketika hal itu terjadi, yang menyelamatkan sebuah negara bukanlah kerahasiaan, melainkan integritas, akuntabilitas, dan keberanian untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
“Itulah yang sesungguhnya menjadi fondasi kepercayaan publik dalam negara modern,” tutup Ridwan. (Ali)


