Peniliti Senior LIPI Prof. Siti Zuhroh Sebut Cuitan BEM UI Masih Wajar dalam Tataran Ide

by -110 views
Foto (istimewa) Prof. Dr. DR R Sitti Zuhro, MA,. peneliti senior LIPI,

SULAWESIPOS.com – Kritikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) kepada Presiden Jokowi menuai pro dan kontra di kalangan publik. Dalam kritikan tersebut, BEM UI menjuluki Jokowi sebagai King of Lip Service.

“Jokowi kerap kali mengobral janji manisnya, tetapi realitanya sering kali juga tak selaras. Mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, dan rentetan janji lainnya,” tulis BEM UI melalui akun Twitter resmi @BEMUI_Official, dikutip Minggu (27/6). Kritik yang sama juga dimuat situs resmi BEM UI.

Buntut atas cuitan BEM UI tersebut mengakibatkan sejumlah anggota BEM UI dipanggil pihak kampus dan diminta untuk mengahapus cuitan tersebut, namun ditolak.

Sejumlah tokoh menilai bahwa cuitan tersebut masih wajar dalam tataran ide. Salah satunya yang disampaikan oleh Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Dr. DR. Siti Zuhro, MA dalam webinar yang diselenggarakan Pengurus Besar Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pealajar Indonesia Sulawesi Selatan (PB IKAMI Sul-SEL) bertajuk “Menguji Cuitan BEM UI; Dalam Sorotan Akademik dan Basis Data,” berlangsung secara daring Zoom Meeting, Jakarta 24 Juli 2021

Peneliti senior LIPI itu mengatakan bahwa cuitan yang dialamatkan kepada presiden Jokowi itu merupakan gagasan hasil komplentasi dan renungan mendalam.

Meskipun begitu, Siti Zuhro menilai bahwa cuitan itu hanya bersifat normatif bukan subtansial. Kerena itu kelembagaan partisipasi politk diperlukan.

“Kelembagaan partisipasi diperlukan, mengapa diperlukan karena agar tidak mengacaukan sistem demokrasi itu sendiri. Sebetulnya sejak 98 demokrasi kita sampai sekarang belum subtansial, kita hanya berputar-putar pada tataran normatif saja”, ucapnya.

Siti Zuhro berharap agar partai politik sebagai lembaga partisipasi demokrasi harus dibenahi partai politiknya bersama dengan politik hukumnya. Penegakan hukum yang mengedepankan keadilan sehingga terjadi pemilu yang menyejukkan, pemilu yang menyenangkan.

Menurut peneliti senior ini, pembenahan itu bertujuan membangun public trust. “Karena yang pertama demokrasi itu adalah membangun trust tadi itu. Kalau itu sudah dibangun maka kita sudah bisa menciptakan politik yang adil, dan tidak saling berkelahi, dan saling menghormati sesama. Karena esensi kita membangun demokrasi yakni membangun nilai-nilai” jelasnya.

Lanjut Siti Zuhro, mengatakan bahwa partisipasi pemilu yang berkualitas juga harus menjadi konsen kita bersama, karena secara pembangunan strategis politik kita membangun dua unsur yaitu pembangunan kepemimpinan nasional dan pembangunan partisipasi masyarakat, sehingga ini yang dimaksud nuansa membangun yang subtantif.

“Jadi SDM yang cerdas dan Indonesia yang cerdas itu adalah suatu keniscayaan kebutuhan kita sebagai bangsa Indonesia. Untuk itu diera yang disrupsi ini kita harus maju, kita tak boleh mundur lagi, karena kita stagnan dengan cara lama dan pemikiran lama tentu saja kita akan punah kita akan kalah dengan negara-negara ASEAN Pasifik,” tutupnya.