PERAN PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK

by -114 views

Nama : Danty Nabila Fiky
Kelas : 04SIDP004
Mata kuliah : Penulisan karya ilmiah

Indonesia memerlukan sumber daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama dalam pembangunan. Untuk memenuhi sumber daya manusia tersebut, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan sumber daya manusia tersebut. Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan di setiap jenjang, SMA, SMP sampai SD harus diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.

Istilah pembelajaran sering terdengar dalam kajian pendidikan di sekolah saat ini. Istilah ini merupakan pengembangan istilah dari ―Proses Belajar Mengajar (PBM). Dalam istilah PBM makna yang familiar bagi guru-guru saat ini adalah guru melakukan pengajaran dalam berbagai materi ajar kepada peserta didik. Sedangkan istilah pembelajaran saat ini menjadi aktual, dimaknai sebagai proses interaksi peserta didik dengan lingkungan belajarnya. Dalam proses ini anak menjadi objek sekaligus subjek belajar. Guru dan lingkungan belajar lainnya menjadi kondisi penting yang menyertai proses pembelajaran.

Pembelajaran dalam pendidikan karakter didefinisikan sebagai pembelajaran yang mengarah pada penguatan dan pengembangan perilaku anak secara utuh yang didasarkan atau dirujuk pada suatu nilai. Penguatan adalah upaya untuk melapisi suatu perilaku anak sehingga kuat. Pengembangan perilaku adalah proses adaptasi perilaku anak terhadap situasi dan kondisi baru yang dihadapi berdasarkan pengalaman baru. Kegiatan penguatan dan pengembangan didasarkan pada suatu nilai yang dirujuk. Artinya proses pendidikan karakter adalah proses yang terjadi karena didesain secara sadar, bukan suatu kebetulan.

Menurut Woolfork pembelajaran berlaku apabila sesuatu pengalaman secara relatifnya menghasilkan perubahan kekal dalam pengetahuan dan tingkah laku. Pembelajaran menurut Knowles adalah cara pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan karakter secara terintergrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilainilai kedalam tingkah laku peserta didik sehari-sehari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupan di luar kelas pada semua mata pelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai materi yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannnya perilaku.

Menurut para ahli, Plato mengemukakan bahwa bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut. Carrol berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan

yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa dan prosesproses dalam lingkungan hidup manusia. Sudaryono mengemukakan bahwa bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman.

Dapat disimpulkan bahwa bahasa alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa memberikan kemungkinan yang jauh lebih luas dan kompleks daripada yang dapat diperoleh dengan mempergunakan media. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukan sembarang bunyi karena bunyi itu sendiri haruslah merupakan simbol atau perlambangan.

Pendidikan karakter mulai didengungkan di era Mendikbud Muhammad Nuh. Menurutnya pendidikan di Indonesia mulai melupakan pembentukan karakter siswa. Atas dasar pemikiran itulah pendidikan saat ini harus memuat pendidikan karakter. Koesuma dalam artikelnya menyatakan tujuan pendidikan adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud sdalam kesatuan esensial si subjek dengan perilakun dan sikap hidup yang dimilikinya. Karakter menjadi identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah, kualitas seseorang secara pribadi mampu diukur. Bahasa mencerminkan bangsa. Itulah kira-kira gambaran bagaimana hubungan bahasa dengan pendidikan karakter. Bahasa yang notabene alat komunikasi mempunyai dampak yang besar terhadap perilaku manusia. Hal tersebutlah yang meyakini setiap tuturan yang diucapkan manusia mempunyai karakter tersendiri.

Muslich mengemukakan bahwa pendidikan adalah proses internalisiasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan masyarakat menjadi beradab. Pendidikan bukan hanya merupakan sarana tranfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) saja tetapi lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana membudayaan dan penyaluran nilai (enkluturasi dan sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi dasar kemanusiaan.

Pendidikan adalah upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin, karakter), dan jasmani anak didik (Ki Hajar Dewantara) Dewasa ini sering terdengar banyak kalangan membicarakan pendidikan karakter. Kemerosotan sisi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tampaknya dijadikan sebab begitu pentingnya hal tersebut kembali dibicarakan. Aunillah mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, yang mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekad, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan,maupun bangsa sehingga akan terwujudnya insan kamil.

Dengan demikian, pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai suatu proses internalisasikan sifat-sifat utama yang menjadi ciri khusus dalam suatu masyarakat ke dalam diri peserta didik sehingga dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat.

Sastra bersifat indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk yang apik dan menarik sehingga orang senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu, dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Didalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter. Berkaitan dengan karakter, Saryono (dalam Septiningsih, 2011:2) mengemukakan bahwa karya sastra yang dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, antara lain:

1) Karya sastra yang mengandung nilai estetika adalah sastra yang mengandung nilai keindahan, keelokan, kebagusan, kenikmatan, dan keterpanaan yang dimungkinkan oleh segala unsur yang terdapat di dalam karya sastra. Dengan nilai estetika yang termuat dalam sastra tersebut, diharapkan karakter bangsa yang terbentuk adalah insan Indonesia yang memiliki rasa keindahan, ketampanan, dan keanggunan dalam berpikir, berkata, dan berperilaku sehari-hari.

2) Karya sastra yang mengandung nilai humanis adalah sastra yang mengandung Nilai kemanusiaan, menjunjung harkat dan martabat manusia, serta menggambarkan situasidan kondisi manusia dalam menghadapi berbagai masalah. Kehadiran karya sastrasemacam itu diharapkan dapat membentuk kearifan budaya bangsa Indonesia yangmemiliki rasa perikemanusiaan yang adil, beradab, dan bermartabat.

3) Karya sastra yang mengandung nilai etika dan moral adalah karya sastra yang mengacu pada pengalaman manusia dalam bersikap dan bertindak, melaksanakan yang benar

Dan yang salah, serta bagaima na seharusnya kewajiban dan tanggung jawab manusia dilakukan. Norma etis dan moral tersebut dapat dijadikan wahana pembentukan karakter bangsa yang lebih mengutamakan etika dan moral dalam bersikap dan bertindak sehari-hari.

4) Sastra religius adalah sastra yang menyajikan pengalaman spiritual. Semua sastra padaawalnya digunakan sebagai sarana berpikir dan berzikir manusia akan

kekuasaan,keagungan, kebijaksanaan, dan keadilan Tuhan yang Maha Esa Kehadiran sastra tersebutdapat membentuk karakter bangsa Indonesia sebagai insan yang religius, penuh rasa berbakti, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dalam kehidupan sehari-hari.

Berkaitan dengan karakter, Saryono (2010: 59) menegaskan bahwa genre sastra yang dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, antara lain, genre sastra yang mengandung nilai atau aspek (1) literer-estetis, (2) humanistis, (3) etis dan moral, dan (4) religius-sufistisprofetis. Keempat nilai sastra tersebut dipandang mampu mengoptimalkan peran sastra dalam membangun generasi yang berkarakter.Sasaran pembentukan karakater kepada peserta didik dilakukan baik di tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi sehingga terbentuklah generasi yang religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif,cinta damai,gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Citizen Reporter