OPINI: BANJIR JAKARTA DAN BERKAH ELEKTORAL BUAT ANIS

by -37 views

Oleh: Jamaluddin, S.TP

Banjir Jakarta jadi trending topic diawal Tahun 2020. Anis pun jadi bulan-bulanan Nitizen. Moment yang tentu sudah lama dinanti oleh Ahokers dan Haters Anis baswedan.

Tapi Anis bukan kaleng-kaleng. Anis Tuntas dalam hal bertutur dan bersikap dalam kondisi apapun. Ia terlihat tidak begitu risau dengan serangan nitizen. Ia lebih fokus membantu warga dari peristiwa Alam yang sdh terjadi sejak zaman Hindia Belanda.

Ia tidak menanggapi setiap pertanyaan yang cenderung menyerang dirinya. Bahasanya tetap sejuk. Senyumnya tetap seperti biasa. Meski jelas terlihat di raut wajahnya ada beban terhadap penderitaan publik jakarta yang sedang dialami.

Semua pakar juga tahu bahwa penanggulangan banjir jakarta tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat. Butuh penanganan secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Terutama wilayah hulu, untuk mengurangi limpahan air dari Jawa Barat saat Hujan terus menerus terjadi.

Peristiwa ini sdh terjadi sejak zaman Hindia Belanda. Bahkan jauh sebelumnya. Padahal kita tahu Kerajaan Belanda adalah salah satu Negara terbaik dalam hal penanganan tata kelola Air.

Baik Normalisasi ataupun Naturalisasi itu hanya program yang berfungsi untuk mengurangi atau mempercepat Aliran dan penyerapan Air. Tapi nitizen sibuk membanding-bandingkan keduanya.

Kita jangan lugu memahami dan larut dalam perdebatan soal banjir jakarta. Karena itu adalah bagian tak terpisahkan dari pertarungan pilpres mendatang. Bagi kelompok yang sudah mempersiapkan figurnya, tentu sangat berharap agar Anis banyak mendapat masalah di DKI.

Bagi saya banjir jakarta memang sedikit mengurangi citra anis Dimata publik DKI. Tapi menjadi berkah secara elektoral menuju pilpres. Popularitasnya semakin melejit. Ia tinggal mengelolanya secara positif.

Semakin banyak yang membully maka semakin banyak juga yang simpatik. Karena di dunia maya sekarang. Publik sdh terbagi tiga kubu. Efek polarisasi pasca pilpres. Kubu kampret, cebong dan kambong.

Kubu kampret dan cebong sdh jelas identitasnya. Apapun temanya mereka selalu berhadap-hadapan. Beda dengan kubu Kambong. Kadang berpihak ke Kampret, kadang ke cebong. Tergantung apa temanya. Kelompok ini lebih rasional melihat persoalan.

Editor : Yusuf Muhammad aL-Fatih