Opini: Jualan Ideologi Haram di PAN

by -97 views

Oleh: Munir (Ketua Humas dan Media DPP BM PAN)

Ada dua ambivalensi yang dimuntahkan ketua umum PAN sekaligus, saat pembukaan Rakernas PAN 7/12/2019. Pertama, ia katakan, “jualan surga dan neraka, sudah tak laku.” Tentu dalam kaitannya dengan corak politik PAN. Kedua, ia juga katakan, kita “perlu pragmatis positif. Tentu ucapan kedua ini ambigu.

Tapi dua pernyataan itu premisnya sama. Kalau diintreprestasikan cepat-cepat, maka bang Zul berhasil mengawinkan sekularisme dan pragmatisme. Sekularisme dalam pengertian, mengaburkan oreintasi giroh religiusitas dalam kehidupan perpolitik PAN dan pragmatisme dalam pengertian, kepentingan sesaat (Baca : pragmatism).

Bukan main-main, ucapan ini dilakukan seorang ketua umum partai. Yang tentu menjadi guidance bagi kader dan gerakan politik kader. Ucapan bang Zul itu merupakan sebuah kecalakan ideologi paling tragis di Partai Amanat Nasional.

Dalam ucapan lugas bang Zul itu, secara cepat-cepat, boleh dikata, ia gagal melakukan tafsir asas partai. Berdasarkan Pancasila, melandaskan esesni ketuhanan, termasuk derivasinya—aspek-aspek eskatologi (surga-neraka), dalam pendekatan qur’ani, dan tentu semua inti doktrin dan kredo agama-agama samawi.

Gagal tafsir asas kedua adalah, berdasarkan Akhlak politik berlandaskan agama. Surga dan neraka adalah suatu guidance. Suatu determinasi yang mengarahkan, agar politik memiliki determinasi moral/akhlak keagamaan. Bukan berarti partai menjadi agama dalam pengertian sempit, tapi memberikan giroh—moralitas keagamaan dalam kehidupan politik.

Pernyataan atau ucapan bang Zul dalam pembukaan Rakernas (7/12) dimaksud, adalah upaya melucuti asas partai dari praksis kehidupan perpolitikannya. Ini sangat berbahaya. Baca asas partai dalam AD/ART Pasal 4 : PAN berasaskan Pancasila, Berasaskan Akhlak Politik Berlandaskan Agama yang membawa rahmat bagi sekalian alam.

Untung saja, keasikan verbalisme politik bang Zul yang membahayakan partai ini, dibersih-bersih pak Amien melalui tausiah politiknya di pembukaan Rakernas. Pak Amien hanya ingin mengembalikan partai ini pada khittah-nya.

Akan berbahaya, bila verbalisme politik bang Zul yang ambigu itu, hanyalah proposal liberalisasi PAN yang diajukan untuk kekuatan di luar PAN. Menyeret kekuatan luar untuk masuk dan mengobok-obok partai.

Saya khawatir, keasikan verbalisme politik bang Zul seperti ini, menggiring PAN ke tubir kehancuran. Karena menjauhkan PAN dari karakternya. Tentu ke depan, PAN harus konsisten dengan corak politiknya. Tidak mencla-mencle. Indak jaleh!

Editor: Yusuf Muhammad al-Fatih