OPINI: KONSEP KEADILAN DALAM PERSPEKTIF METAFORA AMANAH

by -299 views

Oleh: Andi Nihlah Murtafiah

Keadilan merupakan pilar terpenting dalam ekonomi Islam. Penegakan keadilan telah ditekankan oleh al-Qur’an sebagai misi utama para Nabi yang diutus Allah, termasuk penegakan keadilan ekonomi dan penghapusan kesenjangan pendapatan. Allah yang menurunkan Islam sebagai sistem kehidupan bagi seluruh umat manusia, menekankan pentingnya penegakan keadilan dalam setiap sektor, baik ekonomi, politik maupun sosial. Komitmen al-Qur’an tentang penegakan keadilan sangat jelas.

Hal itu terlihat dari penyebutan kata keadilan di dalam al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 282, yaitu kata “adil” (atau benar). Upaya penafsiran ini dilakukan dalam konteks (organisasi dan) akuntansi dengan tujuan untuk mencari bentuk akuntansi yang di dalamnya sarat dengan nilai-nilai keadilan. Nilai keadilan tidak saja merupakan nilai yang sangat panting dalam etika kehidupan sosial dan bisnis, tetapi ia juga merupakan nilai yang berhubungan erat dalam fitrah manusia. Ini artinya adalah bahwa manusia, dengan fitrah kemanusiaannya, mempunyai kapasitas internal untuk berbuat adil dalam setiap aspek kehidupannya.

Dalam konteks akuntansi, kata “adil” dalam ayat tersebut di atas, secara sederhana, dapat berarti bahwa setiap transaksi yang dilakukan oleh perusahaan dicatat dengan benar. Bila, misalnya, nilai transaksi adalah sebesar Rp. 100 juta, maka akuntansi (perusahaan) akan mencatatnya dengan jumlah yang sama; dengan kata lain, tidak ada strategi dalam perusahaan (window dressing) dalam praktik akuntansi perusahaan. Pada pengertian yang pertama ini praktik moral, yaitu kejujuran, merupakan faktor yang sangat dominan. Tanpa kejujuran ini, informasi akuntansi yang disajikan akan menyesatkan dan sangat merugikan masyarakat. Pengertian kedua dari kata “adil,” bersifat lebih mendasar dan tetap berpijak pada nilai-nilai etika (syari’ah) dan moral agar mendorong kita untuk melakukan langkah-langkah dekonstruksi terhadap akuntansi modern, dengan harapan bahwa langkah ini dapat memberikan bentuk altenatif akuntansi yang lebih baik.

Pencarian bentuk akuntansi yang dapat memancarkan nilai keadilan adalah sangat penting, karena informasi akuntansi mempunyai kekuatan (power) untuk mempengaruhi pemikiran, pengambilan keputusan, dan tindakan yang dilakukan oleh seseorang.

Dalam metafora amanah ini ada tiga bagian penting yang harus diperhatikan, yaitu: pemberi amanah, penerima amanah, dan amanah itu sendiri. ‘ Pemberi amanah,’ dalam hal ini, adalah Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta. Dengan kekuasaannya yang Maha Besar, Tuhan menciptakan manusia sebagai wakilnya di bumi (Khalifatullah fil Ardh). Kata khalifah ini memberikan suatu pengertian bahwa seseorang yang telah diangkat sebagai khalifah akan mengemban suatu amanah yang harus dilakukan sesuai dengan keinginan pengutusnya. Atau, dengan ungkapan yang lain, penerima amanah harus menjadikan predikat “khalifah Tuhan di bumi” (Khalifatullah fil Ardh) sebagai cara pandang (perspektif) dalam setiap gerak langkah. kehidupannya baik secara individual maupun secara bersama-sama.

Dengan mengakui bahwa perspektif ini sebagai perspektif yang tunggal dan universal, maka penerima amanah akan secara sadar mengetahui tentang amanah yang harus ditunaikannya, yaitu, “mengelola bumi secara bertanggung jawab”. Organisasi (dengan menggunakan metafora amanah)’ tidak lain adalah “amanah,” yaitu amanah menyebarkan rahmat (kebaikan, kesejahteraan, atau kemudahan) bagi seluruh alam (manusia dan mahluk lainnya).

Metafora amanah adalah metafora yang lebih luas dan menyeluruh. Organisasi dengan metafora ini tidak saja mempunyai kepedulian terhadap kesejahteraan manusia (stakeholders), tetapi juga terhadap kesejahteraan (kelestarian) alam. Namun, manusia dalam merefleksikan misinya ini bukannya tanpa aturan, karena penerima amanah terikat pada tata aturan yang dikehendaki oleh Pemberi amanah. Tuhan menghendaki bahwa organisasi yang dikelola manusia harus dilakukan dengan cara-cara yang adil. Untuk mengetahui dengan tepat apa- yang ‘dimaksud adil,’ penerima amanat (manusia) dapat menggunakan potensi dalam diri yang dimilikinya secara baik dan seimbang. Potensi dalam diri yang fitrah tersebuat adalah akal dan hati nurani.

Nilai terpenting dari kesadaran yang dimiliki oleh manusia adalah sifat ketundukan dan kepasrahannya kepada Tuhan semesta alam. Dengan demikian, pandangan ini mempunyai dampak yang sangat penting bagi manusia, yaitu kesadaran untuk tunduk dan pasrah secara ikhlas kepada Tuhan.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar