Dana Desa Hanya Dinikmati Elit Desa, Ini Tanggapan Warga di Bone Sulawesi Selatan

by -52 views
Ilustrasi Dana Desa, sumber foto: fajar

SULAWESIPOS.COM, MAKASSAR – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus mengatakan bahwa, dana desa yang digelontorkan pemerintah hingga ratusan triliun sejak 2015 silam lebih banyak dimanfaatkan oleh 20 persen masyarakat yang merupakan golongan teratas.

Hal tersebut diungkap Ahmad Heri berdasarkan laporan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Gini ratio atau tingkat ketimpangan antara penduduk kaya dan miskin di Indonesia turun tipis dari 0,391 pada September 2017 menjadi 0,389 pada Maret 2018.

Kendati menurun secara nasional, gini ratio belum merata di sejumlah daerah. Ketimpangan di perdesaan justru meningkat dari 0,320 pada September 2017 menjadi 0,324 pada Maret 2018. Sedangkan di perkotaan berhasil turun dari 0,404 menjadi 0,401 pada periode yang sama.

Di perkotaan, jumlah pengeluaran kelompok bawah meningkat 2,49 persen. Kelompok menengah tumbuh 2,17 persen, dan kelompok atas banyak 0,94 persen.

Sebaliknya, di pedesaan, kenaikan pengeluaran perkapita kelompok bawah tidak secepat kelompok atas yakni 2,93 persen berbanding 4,95 persen, meski lebih baik daripada kelompok menengah yang hanya 2,35 persen. “Artinya orang kaya dan orang miskin sama-sama maju, tetapi yang kaya majunya lebih cepat. Padahal pemerintah bertahun-tahun sudah mengeluarkan dana desa yang nilainya sangat besar. Di sini ada yang janggal,” ungkap Ahmad Heri sebagaimana dikutip di Media Indonesia, Selasa (17/7)

Menurutnya, disparitas pengeluaran yang cukup jauh antara golongan atas dan golongan bawah sangat erat kaitannya dengan penyaluran dana desa yang dianggap tidah merata.

Namun, pernyataan ekonom Indef tersebut justru mendapatkan sanggahan dari beberapa warga yang telah merasakan efek positif dana Desa sejak pertama dikucurkan pada tahun 2015.

Beberapa warga desa di Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan merasa sangat bersyukur dengan adanya dana desa, Arman salah seorang petani jagung di Desa Cani Sirenreng, Kecamatan Ulaweng, dengan tegas menyatakan bahwa dana desa berdampak positif bagi peningkatan hasil panen jagung didesanya.

Menurutnya, kehadiran dana desa beberapa tahun ini belakangan ini berdampak kepada sejumlah sarana dan prasarana di Desa yang dulunya tidak tersentuh pembangunan sekarang sudah bisa dinikmati oleh masyarakat desa.

Dengan dana desa, Pemerintah Desa dapat mengembangkan akses jalan baru yang mempermudah petani untuk dapat mengangkut hasil panennya dengan cepat.

“Sudah banyak jalan rintisan baru pak, yang dibangun pak kepala desa, dulu kalau kita angkut hasil panen dari ke kebun menuju rumah dengan berjalan kaki, Alhamdulillah sekarang berkat dana desa sudah ada jalan menuju kebun,” ungkapnya.

Ditempat terpisah, Maulana warga Desa Pallime Kecamatan Cenrana yang juga turut merasakan manfaat dana desa membeberkan pengalamannya, menurut pria paruh baya ini sejak dulu rumahnya yang terletak dibantaran sungai sering tergenang air luapan sungai. Namun, berkat pembangunan pembatas disepanjang desa, kini dia dan masyarakat tidak khawatir lagi dengan genangan air.

“Sudah dibangun tembok pemisah antara rumah warga dan sungai, sekarang ketika air pasang naik rumah kami tidak tergenang lagi,” bebernya.

Editor: Yusuf Muhammad al-Fatih