Madani Islamic Forum Mengupas Posisi Filsafat Dalam Tubuh Islam

by -121 views

SULAWESIPOS.COM, MAKASSAR – Menjadi Pembicara di Madani Islamic Forum (MIF) Syamsuar Hamka yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Madani Institute membahas posisi Filsafat dalam Islam.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Madani Institute (Center For Islamic Studies) berlangsung di Aula Lantai 3 Warung Bakso Mas Cingkrang Pettarani Makassar, Sabtu (21/7/19).

Syamsuar Hamka, S.Pd M.Pd.I yang juga lulusan Pascasarjana Universitas Ibnu Kaldum (UIKA) Bogor ini, diawal materinya terlebih dahulu memaparkan definisi filsafat.

“Istilah itu sendiri berawal dari kata ’filsafat’ atau ’falsafah’ dalam bahasa Indonesia kemudian diserap dari bahasa Arab: فلسفة . Ia merupakan peng-arab-an dari kata majemuk (philosophia) yang dalam bahasa Yunani kuno gabungan dari kata philein (cinta) dan sophia (kearifan),” terangnya.

Lebih lanjut dirinya menyampaikan, bahwa, definisi filsafat telah banyak dipaparkan oleh ilmuwan Islam salah satunya yakni Al-Farabi dan cendekiawan Muslim Dr. Syamsuddin Arif.

“Al-Farabi sendiri mengutarakan defenisi filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya. Sedangkan menurut Syamsuddin Arif, “filsafat” adalah ilmu pengetahuan yang dicapai manusia dengan akal pikirannya,” ujarnya

Dari berbagai banyak defenisi yang ada, kita bisa memilih yang terbaik yakni yang dikemukakan oleh bapak Filsafat Islam, al-Kindi (800-870). Ia menyatakan.

“Filsafat pengetahuan tentang hal-hal di dalam kemungkinan manusia, karena para filsuf yang berakhir pada pengetahuan teoretis adalah untuk mendapatkan kebenaran dan berperilaku sesuai dengan kebenaran,” imbuhnya.

Secara historisitas, di zaman Yunani kuno, dimana filsafat dianggap berkembang pertama kali. Para filsuf mempelajari aneka persoalan alam semesta, seperti langit, bumi, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, mineral dan lain sebagainya sebagai objek pengetahuan.

Di zaman itu, mereka adalah kelompok orang-orang yang di zaman sekarang kita memanggilnya sebagai saintis (ilmuwan). Sebab dulu belum dikenal diferensiasi atau pengerucutan dan pembagian antara filsafat dan sains.

Laporan: Muhammad Akbar (Humas Madani Institute)

Editor: Yusuf Muhammad al-Fatih