FGD Unhas Fokus Membahas Kesejahteraan Masyarakat Papua Barat

by -187 views

MAKASSAR, SULAWESIPOS.COM – Universitas Hasanuddin (UNHAS) kembali menggelar Forum Group Discussion (FGD), di Aula Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Jalan Jendral Sudirman No. 73, Sorong, Papua Barat, pada Rabu (19/6/2019).

Mengangkat tema “Strategi Pemberdayaan Perempuan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Papua Barat” kegiatan ini sukses menghadirkan sejumlah narasumber diantaranya, adalah Rektor Universitas Hasanuddin Prof Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA yang diwakili oleh Prof Dr Ir Sutinah Made, MSi serta Kepala Dinas P3A, Drs. Sephi Sangkek.

Sejumlah fasilitator pun turut hadir yakni para tokoh masyarakat, seperti pendeta, dosen, advokat, dan lain-lain.

Acara yang bertujuan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal perempuan Papua untuk mengoptimalkan perannya dalam rangka menyejahterakan masyarakat. FGD ini dihadiri oleh berbagai kalangan seperti tokoh perempuan, masyarakat Papua Barat, pelaku usaha, dan beberapa organisasi perempuan di Papua.

Salah satu fasilitator yang merupakan seorang advokat, Muliadi SH MH, menuturkan bahwa perempuan Papualah yang paling kuat dan hebat, namun kurang memiliki spirit kewirausahaan.

“Ada usaha perempuan tapi masih dijual lokal dan yang paling penting mereka butuh pelatihan keuangan dan kepemimpinan, karena SDM masih rendah,” tuturnya.

Sejalan dengan itu, Pendeta Debora I. Mambrasar juga membenarkan bahwa perempuan Papua terlahir untuk kerja, seperti kerja kebun, mulai dari menanam, memanen, mengolah sampai memasarkan.

“Perempuan merupakan tulang punggung keluarga, suami hanya tinggal di rumah, karena perempuan Papua sudah dibayarkan mas kawinnya yang sangat mahal sampai ratusan juta rupiah sehingga wajib bekerja. Ini sebenarnya merupakan kekuatan juga merupakan kelemahan karena terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” lanjut Debora.

Sementara itu, Ice Bunganaen (Perempuan Flabamora), Sarlota Kmurawak ketua PATBM, dan Maria M. Maniburi (Perempuan Waropen) menyatakan sudah ada usaha rumahan yang telah berproduksi tapi belum punya tempat memasarkan.

Saat menyajikan materinya, Prof Dr Ir Sutinah Made, M.Si mengharapkan kehadiran FGD ini mampu menemukan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan dan memberikan solusi sesuai kebutuhan mereka.

Menurutnya, kebutuhan Perempuan Papua adalah pelatihan manajemen & kepemimpinan, pelatihan wirausaha dan keuangan. Ia melanjutkan bahwa sarana dan prasarana, teknologi, modal usaha serta jaringan pemasaran juga sangat penting untuk memajukan usaha kaum perempuan di Papua.

“Semoga ke depan Unhas dapat bersinergis dengan pemerintah Papua Barat melakukan start up bagi usaha mama-mama agar bisa mengakses pasar yang lebih luas, baik nasional maupun internasional,” harapnya.

Editor: Yusuf Muhammad al-Fatih