Bolehkah Perempuan Membaca Al-Qur’an Saat Haid?

by -358 views

SULAWESIPOS.COM, RELIGIUS – Haid, sering juga disebut datang bulan atau menstruasi merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh kaum hawa, tamu bulanan ini telah menjadi kodrat bagi hampir semua perempuan di muka bumi ini.

Haid merupakan tanda perubahan fisiologis dalam tubuh perempuan yang terjadi secara berkala yang dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron.

Haid merupakan periode penting dalam hal reproduksi, bagi seorang perempuan hal ini akan terjadi setiap bulan mulai dari usia remaja hingga perempuan tersebut sampai pada fase menopause.

Bagi perempuan muslim tentu saat haid tidak diperkenankan mengerjakan beberapa ibadah, namun hal tersebut tentu bukan menjadi halangan bagi kaum perempuan untuk tetap beribadah dan mengumpulkan pahala serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Nah disaat tamu bulanan ini hadir, tentu kerap muncul pertanyaan dibenak kita, apa boleh membawa Al-Qur’an? Apa dan bagaimana hukumnya ketika seorang perempuan yang dalam kondisi haid membaca Al-Qur’an?

Dalam salah satu sumber yakni Kitab Thaharah, larangan membaca Al-Qur’an bagi orang yang tengah berhadas besar hanya etis dan kepatutan, karena hal tersebut merupakan tanda memuliakan sekaligus menghormati Kalamullah.

Namun, dalam Kitab Thaharah juga menjelaskan, bahwa, tidak ditemukan hadis yang dapat dijadikan hujjah yang dapat dijadikan dasar hukumnya, bahkan ada hadis shahih yang mengisyaratkan bahwa orang yang berhadas besar boleh membaca Al-Qur’an, dalam hal ini termasuk perempuan haid.

Dalam hadits tersebut menyebutkan, “Dari Aisyah RA, ia berkata: Adalah Nabi SAW menyebut nama Allah dalam segala hal,”. (HR Muslim, Abu Dawud dan at-Turmudzi).

Dari hadis diatas, dapat dipahami bahwa orang yang berhadas besar boleh berdzikir menyebut nama Allah. Maka membaca Al-Qur’an dapat disamakan dengan menyebut nama Allah SWT.

Nah, persoalan bisa atau tidaknya seorang perempuan membaca Al-Qur’an ketika haid tentu masih banyak kalangan yang berbeda pandangan, tugas kita sebagai manusia adalah mencari faedah dari setiap perbedaan yang ada. Karena sesungguhnya sebagai hamba-nya tugas kita adalah berserah diri kepada Allah Tuhan seru sekalian alam.

Wallahu a’lam bishawab

Artikel ini disadur dari berbagai sumber, sumber utama: www.muhammadiyah.id

Editor: Yusuf Muhammad al-Fatih