Opini: Puasa dan Etika Pofetik Pejabat Publik (3 habis)

by -297 views

Oleh: Munir Sara

Pertama-tama, saya pernah baca diskursus ini di tahun 2016. Bahwa etika profetik, adalah sistem nilai, yang mengikat kelakuan para pejabat publik. Oase ini pernah ditulis DR. Surahman Hidayat. Anggota DPR RI dari fraksk PKS.

Terlepas dari diskursus sebelumnya, saya ingin menguraikan, bahwa etika profetik adalah, mentransfer nilai-nilai etik keislaman, sebagaimana yang dibawah oleh para nabi ke dalam praksis kehidupan para pejabat publik.

Dengan maksud, nilai-nilai etik profetik tersebut, dapat menggairahkan kultur kehidupan sistem pemerintahan. Yang mana, disana, para pejabat publik menjalankan tugasnya sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku.

Pada tahun 2018, KASN merilis berita yang mengagetkan seantero Indonesia, bahwa 90% K/L melakukan jual beli jabatan dengan modus trading influence.

Problem ini menjadi puncak gunung es, yang seketika meleleh dengan terciduknya mantan Ketum PPP; si Romy. Lalu skandal ini menjadi pintu gerbang membuka borok praktek birokrasi kotor pejabat publik.

Tentu kita tercengang, bahwa zona birokrasi hitam tersebut terjadi di kementerian agama. Institusi yang boleh dibilang, sebagai moral agency diantara semua K\L. Institusi yang saban hari wara-wiri mengurus moralitas negara dan warganya.

Namun disaat yang sama, Kemenag melakukan malpractices moral dengan menjual beli jabatan di dalam lembaganya. Skandal ini, kemudian membuat kita pangling serta kehilangan pegangan dan pijakan. Dimana mestinya etika profetik pejabat publik bersandar?

Etika profetik pejabat publik ini bersandar pada beberapa hal. Diantaranya; kejujuran (honesty), amanah (trusteeship), cerdas (venously) dan conveyor atau bersifat tabligh atau yang mau berbagi. Kejujuran dan amanah, adalah basic of values dari keseluruhan sistem nilai etik profetik.

Demikianpun kecerdasan dan watak berbagi. Cerdas dalam pengertian bijaksana, sebagai perpaduan antara kognitif dan afektif. Pemimpin yang dungu, justru jauh dari etika profetik dalam mejabat suatu lembaga.

Karena puncak dari kecerdasan, adalah kebijaksanaan (wisdom). Dan kebijaksanaan membuat seseorang mampu meletakkan sesuatu secara tepat di tempatnya atau the right man in the right please tanpa meninggalkan noda dan luka.

Di bulan puasa yang penuh berkah ini, semoga kita dapat melakukan fundamentalisasi etika profetik ke dalam kultur kehidupan para pejabat publik. Fundamentalisasi itu, bukan bersifat doktrinasi, tapi menjadikan etika profetik sebagai sistems nilai yang melembaga dalam government culture dengan cara mitigasi; pengawasan dan transparansi.

Di negara-negara Eropa seperti Finlandia, mampu menciptakan siatem pemerintahan yang bersih. Disana, penjaranya sepi dari pejabat publik yang korup dan traders influence.

Siapa sesungguhnya paling fundamental menjalankan etika profetik? Orang-orang di Eropa sana yang liberal, atau kita di Indonesia yang agamis dan pukul dada ngaku paling profetis?

Wallahu’alam