CARA PRABOWO MENGHARGAI SENIOR TNI

by -275 views
Prabowo memberikan hormat pada Jenderal Besar AH Nasution yang dilantik menjadi warga kehormatan Kopassus

Penuturan Almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution

Oleh: Mangarahon Dongoran, Wartawan Senior

Mendekati hari pencoblosa Pilpres 2019, Prabowo terus dihantam kampanye negatif oleh lawan politiknya. Bahkan Presiden Jokowo dalam
kampanyenya dua hari terakhir terua menggoreng isu negatif bahwa “Prabowo tidak percaya TNI”.

Isu ini dihembuskan Jokowi terkait keraguan
Prabowo atas pernyataan Jokowi yang menjamin kemampuan TNI untuk menahan serangang negara musuh sewaktu-waktu (yang diucapkan dalam debat di televisi dua hari lalu.

Padahal, konteksnya Prabowo ingin TNI terus diperkuat, anggaran diperbesar, sehingga Indonesia disegani dalam diplomasi internasional.

Tapi Jokowi dan pendukungnya secara licik menggoreng menjadi isu “Prabowo Tidak Percaya TNI”

Saya tidak akan membahas isu aktual itu. Saya ingin menyampaikan apa yang saya tahu tentang pribadi Prabowo terkait “ke-TNI-annya.”

Bukan mengarang-ngarang, tetapi saya dengar langsung dari seorang yang sangat disegani dan dihormati di negeri ini, terutama di kalangan militer, yaitu
Jenderal Besar TNI (Purnawirawan) Abdul Haris Nasution.

Suatu waktu menjelang peringatan G 30 S PKI), di tahun 1990-an saya ditugaskan kantor
(Koran Pikiran Rakyat) untuk mewawancarainya. Setelah melakukan komunikasi dengan ajudan/sekretaris pribadinya, saya pun diterima wawancara khusus di rumahnya, Jalan Teuku Umar Nomor 40, Menteng, Jakarta Pusat. (Sekarang menjadi Museum Sasmitaloka).

Sebagai wartawan muda, saya sangat tertarik dan terkesan dengan kata-katanya. Banyak pelajaran sejarah yang saya peroleh, termasuk
pesannya kepada generasi muda, khusus kepada saya agar mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila dan UUD 45.
Yang tidak kalah pentingnya, ia mengingatkan bahaya laten komunis yang bisa dibentengi dan diberantas dengan ketaatan beragama.
Pak Nas waktu itu masih dikucilkan pemerintah Orde Baru, karena menjadi anggota Petisi 50.

Pada saat wawancara, Pak Nas menceritakan sosok Prabowo Subianto. “Prabowo adalah sosok militer yang berani, pintar cerdas dan tegas,” katanya. Tapi, yang menarik bagi Pak Nas, Prabowo sangat menghormati para seniornya, termasuk yang sudah pensiun dan sepuh.

“Prabowo, suka mengunjungi saya sejak masih berpangkat kapten, bahkan setelah Prabowo menjadi perwira tinggi, ia terus menyambangi
saya untuk meminta doa, restu dan wejangan,” kata penulis buku “Pokok-Pokok Perang Gerilya” ini.

Suatu hari, setelah naik pangkat menjadi menjadi brigadir jenderal (sebagai Komandan Jenderal Kopassus), Prabowo langsung datang ke
rumah Pak Nas. Saat itu ia melihat rumah dan mobil Pak Nas yang sudah tidak layak. Prabowo lalu minta izin untuk merenovasi rumah, memberi mobil baru berikut supir. Tawaran tersebut diberikan sebagai tanda terimakasih atas doa dan bimbingan Pak Nas selama ini.

Tetapi tawaran itu ditolak oleh jenderal kelahiran Kotanopan, Sumatera Utara yang sudah terbiasa hidup
sederhana itu. Tapi belakangan Pak Nas tidak bisa menolak ketika Panglima ABRI saat itu, Jenderal Feisal Tanjung – berkat laporan dari
Prabowo – mengambil alih renovasi dan pelayanan mobil dan supir pribadi kepada Pak Nas.

Pak Nas bertanya kepada Prabowo kenapa sering mengunjunginya? Jawaban Prabowo mengejutkan sekaligus membanggakan Pak Nas. “Saya adalah orang orang yang menghargai dan menghormati para pejuang 1945. Perjuangan mereka merupakan inspirasi sekaligus pemicu semangat saya di dunia militer,” kata Prabowo.

Menurut cerita Pak Nas, ternyata Prabowo sudah menamatkan baca buku karangannya, “Pokok-pokok Perang Gerilya” sejak di bangku SMA. Menurut pengakuan Prabowo ke Pak Nas, strategi perang gerilya itulah yang dipakai Prabowo saat bertugas di Timor-Timur.

Pak Nas juga sempat menanyakan kepada Prabowo “Kenapa kamu sering mengunjungi saya? Kamu kan tahu mertuamu (Pak Harto), memusuhi saya? Saya lagi berseberangan dengan Pak Harto, karena saya masuk dalam Petisi 50 ? Kalau ketahuan Pak Harto bagaimana?”

Pak Nas tidak menduga jawaban yang akan keluar dari Prabowo yang terlihat tidak ada beban, tegas dan lugas. Prabowo, kata Pak Nas
hanya menjawab singkat. “Saya tidak ada urusan. Itu urusan orangtua. Pak Harto mertua dan orangtua saya dan juga senior saya. Bapak
adalah orangtua saya dan juga senior saya. Sebagai perwira yang masih muda, saya ingin orangtua saya bersatu dan menjadi contoh
kepada generasi muda.”

Pada peringatan hari ABRI, 5 Oktober 1997, Mabes ABRI (TNI) menganugrahkan pangkat Jenderal Besar (lima bintang) kepada 3 figur tentara pejuang 45 : Sudirman (saat itu sudah wafat), Soeharto dan Abdul Haris Nasution.

Sejak itulah, akhirnya Presiden Soeharto bisa bertemu dan berbincang-bincang kembali setelah berseberangan secara politik selama puluhan tahun dengan Pak Nas.

Yang saya tahu, rekonsiliasi antara Pak Harto dan Pak Nas kala itu adalah berkat upaya pendekatan dari Prabowo Subianto (saat itu sudah menjadi Panglima Kostrad) bersama BJ Habibie (menteri kesayangan Soeharto).

Dari cerita Pak Nas itu, saya percaya Prabowo adalah pribadi perwira TNI yang baik, sangat menghargai pejuang 45, dan ingin semua pejuang 45 bersatu kembali di usia tuanya.

Siapa pun yang menggoreng isu Prabowo tidak percaya TNI, dia adalah pemecah belah TNI. Orang itu berniat membenturkan Prabowo dengan korps-nya yang justru sangat ia cintai. (YMA)

SEKIAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *