SIKAP MILITER PADA PILPRES 2019

by -605 views
Ilustrasi Netralitas TNI Harga Mati, sumber foto: kodimpati.com

Oleh : Nasrudin Joha

Perlu dipahami, pilar politik kekuasaan itu, selain partai politik tentu yang menjadi kunci kekuasaan adalah militer dan rakyat. Ingat ! Militer dan rakyat. Bukan kepolisian.

Parpol dan politisi, adalah organ untuk meraih kekuasaan. Parpol, bisa memperoleh kekuasaan setelah mampu memenangi hati rakyat. Kekuasaan itu akan aman dan kokoh, jika proses pengambilan kekuasaan dari rakyat dilakukkan secara baik, jujur, atas ridlo dan kerelaan rakyat.

Rakyat, akan alami memberikan kekusaan berupa dukungan dan legitimasi, pada politisi dan partai yang memang mampu merebut dan memenangi hati rakyat. Pada saat parpol dan politisi meraih kekuasaan dari tangan rakyat, atas ridlo dan kerelaan rakyat, tugas militer adalah menjaga kekuasaan tersebut. Militer tidak mungkin mengambil aspirasi yang berbeda dengan rakyat. Keridloan rakyat adalah keridloan militer.

Akan tetapi jika kekuasaan itu diambil dari rakyat secara paksa, baik dengan tindakan curang atau kekerasan, rakyat pasti akan melawan. Rakyat yang tidak ridlo ini, akan memicu militer berdiri disamping rakyat dan menentang kekuasaan zalim. Pada saat itu, kekuasaan ini ringkih karena tidak ditopang oleh rakyat dan militer.

Pada Pilpres 2019 ini, jika terjadi keadaan dimana politisi dan partai mengambil kekuasaan dari rakyat secara curang, bahkan dengan mengerahkan kewenangan aparat kepolisian untuk menakut nakuti rakyat, maka ini bahaya. Rakyat yang tidak ridlo akan melakukan penentangan. Adapun posisi militer, jelas ada disamping rakyat.

Kekuasaan yang menyalagunakan fungsi kepolisian, betapapun bisa meneror rakyat, tetapi tidak akan mampu mengunduh kekuasaan tanpa ridlo dan keihlasan rakyat. Jika rakyat melawan, militer akan mendapat legitimasi untuk mengintervensi politik dan tindakan ini akan dibenarkan rakyat. Gabungan intervensi militer dan dukungan rakyat ini, akan mampu menggusur kekuasaan yang diperoleh secara curang.

Sikap militer, akan melihat sikap rakyat. Jika rakyat ridlo, militer ridlo. Jika rakyat melawan, militer pasti melawan. Bahkan, momentum ini akan segera dimanfaatkan militer yang matanya secara telanjang juga melihat sendiri kezaliman kekuasaan yang dipertontonkan.

Jika militer intervensi, kekuasaan kepolisian tidak ada artinya. Sekali lagi, karena kepolisian itu alat penegak hukum, bukan pilar penjaga kekuasaan.

Karena itu, Nasrudin Joha meminta semua pihak untuk jujur, bermain fair, dan segera mengurungkan niat untuk curang. Sebab, sekali kecurangan itu memantik perlawanan rakyat, maka militer akan segera intervensi. Intervensi ini, pasti akan didukung rakyat yang merasa dizalimi penguasa.

Sudah ya, ini hanya artikel selingan. Biar yang ‘sok kuasa’ dan ‘sok punya wewenang’ ukur baju. Jangan sampai menyesal setelah bertindak.

Jika gelagat curang ini tidak segera dihentikan, Nasrudin Joha akan membongkar semua rencana jahat itu sekaligus mengabarkan kepada rakyat untuk segera melakukan penentangan. Dengan kata lain, Nasrudin Joha siap menyiapkan rakyat untuk menawarkan proposal kepada militer untuk ambil alih kendali kekusaan. Sudah dulu ya Guys. (YMA)