Post-Truth Politics dan Akal-akalan Sehat

by -651 views
Foto documentasi pribadi facebook Susetyo Johar Arifin

Oleh: Susetyo Johar Arifin

Dapat video ini dari grup WA, penjelasan menarik dari Burhanuddin Muhtadi Full tentang kenapa Petahana (01) tidak bisa mencapai dominasi 60% dalam Survey elektabilitas sehingga sedikit mengkhawatirkan para pendukungnya. Takut disalip 02 di ujung.

Burhan mengajukan satu fenomena kekinian yang disebut Post-Truth Politics alias politik pasca kebenaran atau pasca fakta dimana atmosfir politik dibikin pekat oleh emosi (bukan rasionalitas) melalui simbol-simbol identitas, ketakutan, kebencian, melalui penyebaran hoaks yang massif di semua kanal informasi, khususnya media sosial.

Fenomena Post-Truth Politics adalah fenomena internasional, bukan hanya Indonesia, bahkan terpilih sebagai Oxford Dictionaries’ word of The Year tahun 2016 merujuk pada referendum Brexit di Inggris dan terpilihnya Donald Trump di Pilpres AS, yang penuh emosi (ketimbang rasionalitas).

Sesungguhnya cukup banyak fenomena yang menjelaskan meluapnya emosi, ketakutan, kekasaran dan kebencian dalam atmosfir politik dunia, termasuk hentakan ISIS di Timur Tengah, gertakan Duterte di Filipina juga fenomena Ahok dan 212 beberapa waktu lalu di Jakarta. Bagi anda pengasup teori kiamat sudah dekat, anda boleh berlindung pada penjelasan apokaliptik, fenomena ikutan shifting 2012 penanggalan Maya, dunia sedang bergeser pada garis kegelapan. Hehe lupakan.

Ini pula yang bertanggung jawab terhadap munculnya rasa tidak aman dan tidak nyaman bagi anda, khususnya para peserta grup WA yang tiap hari dijejali informasi tentang bangkitnya PKI, ulama diserang, pekerja China menyusup, syiah merangsek, dst dst. Emosi kita diaduk-aduk, nalar kita dipelintir, kemarahan dan kebencian dipicu. Oleh siapa?… entahlah.

Siapa bilang hanya orang dungu yang jadi korban disinformasi? Orang Amerika yang menganggap dirinya paling pintar pun bisa menjadi korban Trump.
Saya sendiri pernah melihat postingan seorang sangat terpelajar di grup WA kaum terpelajar yang mengirim video pelatihan militer dengan para pemuda berseragam berbaris menggenggam AK-47 yang disebutnya info A1 pelatihan pemuda komunis di Jawa Tengah, siapa bilang PKI sudah lenyap, ini fakta dari Jawa Tengah, katanya. Lalu member grup yang lain jadi ikut histeris. Padahal video itu adalah sebuah acara New People Army (NPA) sayap Militer dari Partai Komunis Filipina. Sejak itu saya keluar grup terpelajar itu. Tapi saya masih ikut grup RT di kampung saya dan tiap hari menikmati info serupa.

Presiden Jokowi mengklarifikasi satu foto editan yang memperlihatkan sosok Jokowi muda berdiri tegap dibawah podium dimana DN Aidit sedang pidato, padahal ia masih balita ketika PKI tumbang. Nalar dan akal sehat semacam apa yang sedang memenuhi udara kita.

Saya tidak percaya pada semua promosi akal sehat yang disampaikan dengan cara mendungukan semua orang. Buat saya itu bukan akal sehat tapi akal-akalan sehat.

Lebih baik dalam situasi udara penuh racun seperti ini kita perbanyak dzikir dan ziarah. Plus silaturahmi kecil-kecilan. Kita nikmati saja pertandingan “akal sehat” ini sambil berdoa agar Allah SWT memelihara keselamatan bangsa ini. (YMA).