Group Kompas Memang Keterlaluan

by -978 views

By : Djadjang Nurjaman
(Pengamat Media dan Kebijakan Publik)

Sekarang kita bisa paham mengapa pendukung Jokowi sampai uring-uringan. Mengancam berhenti langganan Harian Kompas. Mengancam #UnsinstallKompas.com.

Group Kompas memang keterlaluan. Kelihatan banget kalau sirik. Gak bisa lihat Pak Jokowi dan para pendukungnya senang. Mereka senang buka aib dan rahasia.

Baru saja Presiden Jokowi membangga-banggakan beroperasinya MRT. Baru saja dia mengklaim proyek MRT adalah hasil keputusan politiknya bersama Ahok saat masih jadi Gubernur DKI Jakarta.

Eehhh kompas.com langsung menurunkan artikel bantahannya. https://megapolitan.kompas.com/read/2019/03/22/17565651/cek-fakta-jokowi-klaim-mrt-putusan-politiknya-bersama-ahok

Sebelumnya di depan pengusaha yang mengerahkan para pekerjanya untuk deklarasi mendukung paslon 01, Jokowi membanggakan MRT. Menurutnya gagasan MRT itu sudah berumur 30 tahun tapi tak kunjung dilaksanakan.

Para gubernur pendahulunya —berarti termasuk Sutiyoso dan Fauzi Bowo— selalu menolak dengan alasan tidak menguntungkan.

“Yang namanya transportasi massal itu ya rugi. Saat itu saya dipaparkan rugi. Kalau untung rugi, itu untuk para pengusaha. Kalau untuk negara, hitungannya bukan untung dan rugi,” kata Jokowi dengan gagahnya.

Dengan kata lain Jokowi ingin mengatakan “Gubernur sebelumnya, ngapain aja?”

Jokowi menyarankan agar pengusaha segera mencoba MRT . Dia mengaku sudah dua kali mencobanya. Ketika datang ke lokasi deklarasi di Istora Senayan, dia juga naik MRT.

Hanya selang sehari setelah berita itu tayang, kompas.com menurunkan berita bantahannya.

Setelah menelusuri sejumlah data dan fakta, Kompas.com menyimpulkan terwujudnya MRT merupakan proses panjang. Nah lho… Tidak sesederhana yang digambarkan Jokowi.

Ide pembangunan MRT digagas oleh Menristek/Kepala BPPT BJ Habibie pada tahun 1980an (Jokowi dimana ya waktu itu?) Pada tahun 1996 ketika menjabat Menristek BJ Habibie mencoba mewujudkannya, namun terhambat krisis ekonomi dan pergantian kepemimpinan nasional.

Pada masa Sutiyoso menjadi Gubernur DKI, ide pembangunan MRT dimunculkan kembali. Namun terhambat pendanaan. Ide berlanjut ketika Fauzi Bowo menjadi Gubernur DKI.

Setelah berkonsultasi dengan BJ Habibie, Fauzi Bowo memutuskan melanjutkan pembangunan MRT.

Pada 26 April 2012, Foke meresmikan pencanangan persiapan pembangunan MRT Tahap I koridor Selatan-Utara sepanjang 15,7 kilometer dari Lebak Bulus-Bundaran HI. Tapi waktu itu Fauzi Bowo tidak ngomong soal keputusan politik segala.

Pekerjaan dimulai seperti melakukan pemindahan Terminal Angkutan Umum Lebak Bulus, pemindahan Stadion Olahraga Lebak Bulus, pelebaran Jalan Fatmawati, dan pembangunan kantor proyek.

Dari data yang dipaparkan kompas.com duduk persoalannya menjadi jelas. Sekali lagi klaim Jokowi tidak terbukti. Kalau kita kumpul-kumpulkan, jumlahnya jadi banyak sekali.

Gara-gara berita ini bisa-bisa publik menilai Jokowi tukang ngibul, atau setidaknya omong besar. Mengklaim hasil kerja orang lain, sekaligus meremehkan para gubernur pendahulunya.

Dalam sepekan terakhir setidaknya sudah dua kali Group Kompas membuat Jokowi dan pendukungnya marah besar. Rabu ( 20/3) Litbang Harian Kompas mempublikasikan survei yang sangat mengejutkan. Ternyata elektabilitas Jokowi masih di bawah 50 persen. Tidak setinggi yang digembar-gemborkan oleh lembaga survei yang dikontrak istana.

SMRC dan LSI Denny JA mengklaim elektabilitas Jokowi-Ma’ruf sudah mendekati 60 persen. Jaraknya dengan Prabowo-Sandi sudah lebih dari 25 persen. Tak mungkin terkejar. Jokowi pasti menjadi presiden kembali.

Survei Kompas menyebutkan selisih Jokowi-Prabowo hanya 11 persen, masih sangat mungkin terkejar karena pemilih yang belum memutuskan masih cukup besar, 13 persen. Apalagi trendnya Jokowi turun dan Prabowo naik. Angka Golput seperti diakui LSI Denny JA juga sangat tinggi.

Publikasi survei Harian Kompas membongkar kebohongan lembaga survei yang mencoba memanipulasi dan mengarahkan opini publik. Survei Kompas juga dijamin membuat tidur Jokowi tidak nyenyak.

Pengusaha Sofyan Wanandi ( Lim Bian Khoen) mengaku survei itu membuat Jokowi takut. Ada kabar bahwa angka riilnya lebih rendah dari angka yang dipublikasi. Istana berusaha, agar tidak diumumkan ke publik.

Lembaga survei lain jadi tidak berani mengumumkan data bahwa elektabilitas Jokowi sangat tinggi seperti SMRC dan LSI Denny JA. Indo Barometer misalnya memilih jalan aman.

Mengumumkan hasilnya sehari setelah Litbang Kompas, Indobarometer menyebut elektabilitas Jokowi-Ma’ruf hanya 50,2 persen dan Prabowo-Sandi 28,9 persen. Ada selisih 21,3 persen. Margin errornya 2.83 persen.

Kelihatannya Indobarometer bermain-main di angka margin error dan jarak elektabilitas. Kalau menggunakan margin error batas bawah, maka elektabilitas Jokowi-Ma’ruf hanya sekitar 45-46 persen. Masih di bawah 50 persen.

Wajar kalau Denny JA mencurigai Kompas sedang melakukan reposisi. Dari semula pendukung utama paslon 01 menjadi lebih ke tengah. Untuk menjadi pendukung paslon 02, bagi Group Kompas tinggal masalah waktu saja.

Apalagi seperti ditulis Denny, Pemimpin Redaksi Harian Kompas Ninuk Pambudy merupakan istri DR Rachmat Pambudy salah seorang tokoh senior Gerindra. Rachmat juga diketahui merupakan orang dekat Prabowo. Dia pernah menjabat sebagai Sekjen HKTI saat dipimpin Prabowo.

Kalau benar dugaan Denny dan kemarahan para pendukung Jokowi, angin perubahan tampaknya sedang berhembus kencang. Dari hasil survei, Kompas menyadari Jokowi diambang kekalahan.

Sebagai media dan kelompok bisnis, perjalanan sejarah Kompas menunjukkan mereka selalu berada dalam posisi mendukung penguasa.

Jokowi dan para pendukungnya layak kesal kepada Group Kompas. Tapi itu tak bisa mengubah data bahwa posisinya sedang dalam bahaya dan publik makin melek matanya, bahwa Jokowi sangat sering menyajikan data yang tidak benar dan _over claimed._ The End
(YMA).