Kartu As Sandiaga

by -406 views

By. Munir Sara

Jokruf keok. Rupanya, kemarin-kemarin, Prasan sembunyi kartu As mereka. Begitu di ujung waktu, semua kartu Jokruf ditimpali kartu As. Semua kaget, Jokruf terhuyung-huyung–tertekuk di ujung permainan kartu.

Kalau di kampung saya, Alor-NTT, yang biasa main kartu dua kepala atau poker, Jokruf ini sudah berdiri dan telinganya sudah penuh jepit jemuran sebagai hukuman. Atau mungkin buka baju bila kalah.

Saya bayangkan, kalau main poker dengan hukuman yang kalah plorotin pakaiannya satu per satu, maka jadi apa kiyai Ma’ruf dalam debat semalam? Terus terang, saya lagi bayangin itu. Atau yang kalah push-up, tentu eyang Ma’ruf sudah engap-engap atau kena hosa.

Memang debat part-3 (17/3) sungguh-sungguh beda kelas. Terus terang, tampak semalam, kiyai Ma’ruf itu verbalistis, beda dengan Sandi yang paham persoalan.

Dari awal sampai akhir, isi omongan Kiyai Ma’ruf itu dibebankan pada istilah-istilah teknis yang retorik dan Arabis. Dia ingin menggocek perdebatan semalam dalam jebakan verbalisme yang tak mengena persoalan.

Rupa-ruanya Sandi paham, ujung permainanan ini ada dimana? Ketika asik-asiknya kiyai Ma’ruf dengan mainan verbalisme, Sandia menguncinya. Ma’ruf tertekuk. Mati kutu–orang Kupang bilang.

Ma’ruf mengira, dirinya sudah memegang kunci permainan dengan kartu Prakerja dan kartu ini dan itu. Diancungkanlah kartu itu tinggi-tinggi hingga menuding langit. Apa jadi?

Ternyata, tanpa disadarinya, tiba-tiba, sandi mengunci permainan kartu di injurytime. Tak disangka-sangka–KTP elektronik adalah kartu AS Prasan. Patahlah semua tetek bengek kartu hingga cyber universty.

Memang benar, bahwa teknologi itu manfaatnya adalah efisiensi. Dan itu itu berarti, bikin banyak kartu justru tidak efisien. Boros dan buang ongkos.

Revolusi industri 4.0, mengandaikan semua adminsistrasi dan identitas dalam pelbagai sektor ada dalam single identification number. Jadi teknologi digital, mengkonvergensi identitas publik dalam single number.

Dengan KTP elektronik yang disertai memori/chip, maka semua sektor administrasi publik, terunifikasi dalam single identity number. Gagasan Prasan itu sungguh sophisticated. Kelasnya beda Jauh dengan Jokruf. Melampaui nalar Jokruf hingga cecunguk dan bandarnya.

Justru terlihat, dalam debat semalam, Sandi menguasai persoalan. Dalam pendidikan misalnya, ia bicara hingga soal micro teaching. Dia fasih bicara soal single tracks education policy. Dan itu mengena bangat dengan pendidikan Indonesia yang tidak jelas trayeknya.

Sandi bicara pendidikan vokasional yang arahnya menuju pada needs of industry hingga terobosan rumah pekerja milenialis. Hingga yang paling progresif tentang penghapusan Ujian Nasional (UN) karena dinilainya tidak adil.

Lah, sementara Ma’ruf bicara soal neraca pendidikan untuk mengontrol DAK. What’s the hell? Semua sistem pengontrol anggaran itu sudah ada dalam E-budgeting dan E-government. Jadi pikiran-pikiran administratif itu bukan pokok soal, dan justru membikin pendidikan makin administratif dan jlimet.

Singkat cerita, dalam debat semalam nampak kontras, bahwa Ma’ruf terjebak dalam verbalisme akut, sementara Sandi menempatkan dirinya sebagai problem solver–dan ini baru pemimpin. Kita cari yang begini. Saya bayangkan, dalam permainan kartu Cawapres semalam, bila yang kalah push-up. Apa jadi? (YMA).