TP-PKK Tingkat Desa Dan Dusun Diminta Lebih Proaktif Dalam Mendata

by -1,113 views

BELOPA, SULAWESIPOS.COM – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Luwu terus mensinergikan program nasional, pencegahan Stunting, TP-PKK Kabupaten Luwu semakin giat melakukan sosialisasi program tersebut.

Dengan mengusung tema “Refresing Kader Posyandu” TP-PKK Kabupaten Luwu melakukan Kunjungan Kerja di Walenrang, di Aula Pertemuan Kantor Camat Walenrang, Kabupaten Luwu, Kamis 14 Maret 2019.

Kepada kader-kader Posyandu se-Kecamatan Walenrang dan Walenrang Timur, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu DR. Hj. Hayarna Hakim meminta agar lebih proaktif dalam melakukan pendataan terhadap warga yang terindikasi mengalami gejala Stunting.

“Tanda utama Stunting adalah kondisi dimana tinggi badan seorang anak jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan anak seusianya. Salah satu penyebab utamanya adalah Gizi Buruk, berdasarkan hasil Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (PPGBM), Alhamdulillah di kecamatan Walenrang dan Walenrang timur tidak terdapat data anak mengalami gizi buruk, namun ditemukan 88 anak di kecamatan Walenrang mengalami gizi kurang dan 17 anak di kecamatan Walenrang Timur,” kata Hj. Hayarna Hakim

Menurutnya, Jika TP-PKK tingkat desa dan dusun lebih proaktif dan tidak mengandalkan data dari BPS, maka tentunya akan diperoleh data yang lebih akurat.

Selain pembahasan terhadap pencegahan stunting, Hj. Hayarna Hakim juga memaparkan hasil Kunjungan Menteri Pemberdayaan Perempuan beberapa hari lalu di Makassar, bahwa yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kader-kader posyandu lebih memahami terhadap penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

“Rata-rata terjadinya kekerasan terhadap perempuan, misalnya pada TKW yang bekerja di negara lain, penyebabnya karena kurang pahamnya TKW tentang profesi yang dijalaninya. Profesi jadi asisten rumah tangga tentunya harus pandai mengasuh anak, pandai masak, mencuci dan lain sebagainya, namun jika ada hal yang tidak dia ketahui terkait profesi maka itulah awal pemicu kekerasan oleh majikannya, jadi kalau ada keluarga mau jadi TKW perlu diberi pemahaman, jangan hanya karena tergiur gaji yang tinggi,” kata Hj. Hayarna Hakim. (YMA)