WINTER IS COMING In Loch Ness

by -1,386 views
sumber foto: juicebubble.co

Oleh: Hamid Basyaib

Pasangan turis dari London sedang berperahu di Loch Ness, 200 kilometer di utara Edinburgh, ketika tiba-tiba seekor hewan aneh muncul di tengah danau yang berbentuk kanal itu.

“Leher hewan itu panjang, seperti jerapah,” tutur George Spicer, turis London yang kaget itu. “Bentuknya mirip naga — atau binatang pra sejarah yang belum pernah saya lihat seumur hidup.”

Kesaksian Spicer dimuat di koran lokal. Lambat tapi pasti, berita singkat di tahun 1933 itu merambat ke delapan penjuru angin. Berita-berita selanjutnya bermunculan, juga di koran-koran besar dan serius, yang sebelumnya tak berminat pada sensasi.

Seperti semua kisah ajaib lainnya, cerita ‘monster Loch Ness’ ditambahi beberapa bumbu di mulut ke lima, ke tujuh dan seterusnya. Ketika yang mendengar mencapai angka ribuan, cerita sudah sangat jauh dari versi asli.

Kalangan terpelajar ikut turun pena. Ada yang menulis: hewan dengan ciri-ciri tersebut memang pernah ditemukan sejak abad ke-6.

Warga lokal, juga pemerintah setempat, dengan cepat dan cerdik menunggangi gelombang ketakjuban itu. Dalam waktu singkat buahnya sudah bisa dipetik.

Loch Ness yang tak terlalu gampang dicapai dengan cepat didatangi oleh banyak sekali orang, bukan hanya dari seluruh Inggris. Rasa penasaran pun membara di dada orang Jerman, Skandinavia, Amerika, dsb.

Dua hari lalu ada enam orang Indonesia ikut terkena virus penasaran itu, dan memutuskan untuk bertualang ke tempat yang mereka tahu sangat dingin — sebab di titik berangkat mereka pun, Edinburgh, suhu tiarap hingga ke titik nol.

***

Bis Volvo yang kami tumpangi berjalan gagah menyusuri jalan-jalan kecil Edinburgh. Menikung di sana, memutar di ujung sini, lalu lurus. Lurus terus.

Dan pelan-pelan suasana pun berubah. Jalanan kian sepi — dan terus sepi hingga 240 kilometer kemudian. Hampir tiada seorang pun yang terlihat di jalan kecil yang lengang itu. Bis kami adalah tempat yang paling ramai — ada 27 orang dari Jerman, Filipina, Inggris.

Supir bis — seorang berkepala licin yang mengaku bernama Brian (“a boring name”) — mengerjakan tugas empat orang; jadi ketua rombongan, disc jokey, dan terutama juru penerang yang sangat informatif.

Brian bukan hanya hapal lika liku jalanan, tapi memberi kami pemahaman latar belakang sejarah, politik dan budaya tempat-tempat yang kami lewati, lengkap dengan tokoh-tokoh utama yang berperan dalam aneka peristiwa di tempat itu.

Jika seorang profesor sejarah berhalangan di kampusnya, Brian pasti sanggup menggantikannya.

Tiba-tiba ia bilang: 10 menit lagi kita akan melewati lokasi shooting “Skyfall”. Ia bercerita sedikit tentang serial James Bond yang disutradarai Sam Mendez itu, yang masuk nominasi Oscar pertama kali dalam enam dekade serial Bond (dan pertama kali pula pemerannya, Daniel Craig, masuk nominasi aktor terbaik).

Sayup2 intro lagu “Skyfall” karya Adelle (pemenang Oscar untuk theme song) terdengar dari sound system Brian.

This is the end
Hold your breath and count to ten
Feel the earth move and then
Hear my heart burst again

Lalu:

Let the sky fall
When it crumbles
We will stand tall
Face it all together
Let the sky fall
When it crumbles
We will stand tall
Face it all together
At skyfall
At skyfall

Skyfall is where we start
A thousand miles and poles apart
Where worlds collide and days are dark
You may have my number, you can take my name
But you’ll never have my heart

Digigit dingin yang melambatkan arus darah, saya tetap merinding mendengar kejeniusan Adelle, yang mampu mencipta lagu tema tanpa keluar dari “pakem” musik Bond; juga dengan aransemen dan orkestrasi yang sangat rapi dan proporsional.

***

Brian terus berkisah. Semuanya dilandasi suatu kebanggaan akan tradisi Skot, yang berbeda dari Inggris, “tapi kami rela bergabung dalam Britania Raya”. Ia bangga orang Skot melanglang hingga ke Hongkong dan tempat-tempat jauh.

“Presiden Trump itu separuh Skot,” kata Brian dengan datar di pengeras suara, seolah ia mengatakannya bukan sambil menyetir bis yang butuh konsentrasi yang juga besar.

Kami terus menyaksikan pemandangan yang sama di kiri-kanan jalan; suatu monotoni yang lebih menakjubkan ketimbang membosankan.

Rantai gunung dan bukit berbaris tanpa putus. Semuanya tak berpohon. Warnanya pun sama belaka: coklat tanah. Semuanya bertopi salju — bagaikan kue moci raksasa yang teronggok begitu saja.

Kadang-kadang kami melewati hutan pekat berisi barisan pohon yang sangat tinggi, yang posisinya akan disebut Iwan Simatupang “tegak lurus dengan langit.”

Dataran di sekitar barisan gunung pun sama belaka: penuh genangan air di banyak bagiannya, dengan rerumputan dan perdu yang tak kami kenal. Barangkali yang tertarik dengannya hanya para geolog, yang dari pengamatan di sana berharap bisa sedikit menyibak tabir rahasia proses pembentukan bumi (dan akhirnya keseluruhan alam semesta).

“Beberapa menit lagi kita tiba di lokasi pembuatan film serial Harry Potter: The Prisoner of Azkaban,” ujar Brian lagi. Ia bercerita sedikit tentang pencipta Potter, J.K. Rowling.

Brian tampak akrab dengan jagad Hollywood; dan ia fasih menyebut beberapa film lagi yang terkait dengan Skotlandia, termasuk “Braveheart.”

Juga “Victoria & Abdul”, kisah nyata tentang Ratu Victoria (dimainkan Judi Dench dengan gemilang) yang menjalin hubungan yang mendekati relasi asmara dengan Abdul, pelayan Muslim yang diberikan sebagai hadiah oleh penguasa kolonial di India.

Masih ada beberapa loch (lake, danau) yang kami lewati sebelum tiba di “promised lake,” dengan monster Nessie-nya — suatu legenda ringkas yang terus diperkaya oleh para korban yang memilih untuk percaya dan mengembangkan ceritanya ketimbang jengkel karena merasa tertipu dongeng anak-anak. (Bersambung). (YMA).