WINTER IS COMING in Loch Ness (2)

by -323 views
sumber foto: juicebubble.co

Oleh: Hamid Basyaib

Menaiki kapal kecil “Spirit of Loch Ness” dari dermaga Caledonian Canal, kami menyusuri danau sepanjang hampir 40 kilometer. Monitor sensor kapal memberi info: kedalaman danau antara 30an hingga 200an meter.

Pastilah blackness dasar danau itu sangat tinggi, sampai air danau terlihat hitam — maka Loch Ness juga dikenal sebagai “danau air hitam.”

Dengan lebar sekitar 70 meter, kiri-kanan Loch Ness dipagari oleh tebing securam 75 derajat. Di beberapa bagian tebing itu kadang muncul kambing-kambing liar putih, hitam atau kelabu.

Tidak akan ada pemburu yang mengintai kambing-kambing itu, sebab lahan berbukit sepanjang puluhan kilometer tersebut adalah milik pribadi. Salah satu dari dua pemiliknya adalah keluarga Sam Walton, pemilik jaringan pasar swalayan Amerika berkaryawan dua juta orang, Wal-Mart.

“Sejak mereka beli perbukitan ini sekian tahun lalu,” kata John, staf kapal, “setahu saya baru dua kali mereka datang ke tempat ini.” Saya tak tega menanya John hal yang tak mungkin mampu ia jawab: untuk apa orang-orang itu membeli tebing puluhan kilometer yang ternyata sangat jarang mereka sentuh.

Di lantai 1 kabin kapal, John menghibur 60an penumpang dengan banyak info tentang danau legendaris kebanggaan kampungnya itu.

“Saya mau tahu, ada berapa orang yang percaya tentang Nessie si monster Loch Ness?” tanyanya tiba-tiba kepada hadirin. Sejumlah orang mengacungkan tangan.

“Wah, ini memecahkan rekor!” kata John, dengan gembira dan terkesan kaget sungguhan. “Kemarin, dari 200 orang, hanya satu yang percaya. Terima kasih karena Anda mempercayai cerita danau kami.”

Saya duga, besok sore pemuda 20an tahun itu akan berkata sama: “kemarin, dari 180 orang, hanya dua yang percaya…”

Lalu John menambahi ceritanya dengan banyak bumbu — semuanya disampaikan dengan nada bahwa kisah monster Loch Ness itu memang dongeng semata. Saya pun sudah lama mendengar bahwa foto monster di tengah danau itu palsu.

Ringkasnya: jika pada 1933 istilah “hoax” sudah dikenal luas, pastilah seluruh cerita tentang Nessie — suatu penamaan yang hangat untuk monster perempuan — akan diberi stempel itu oleh siapa saja yang berpikir wajar.

Hoax monster Loch Ness adalah contoh yang baik tentang bagaimana sebuah dongeng dimanfaatkan dengan cemerlang untuk kepentingan ekonomi warga dan pemerintah setempat.

Tak jelas apakah hoax itu dirancang sejak awal, dengan membangun cerita turis Inggris yang pertama kali melihat Nessie, atau ide pemanfaatannya disusun belakangan.

Yang jelas: dongeng Nessie, “hewan mirip naga yang menyerupai binatang pra sejarah”, sukses gemilang dalam memikat jutaan turis berkunjung dan membelanjakan uang mereka di kawasan sekitar Loch Ness.

***

Kami berenam termasuk dalam jutaan orang yang mengunjungi Loch Ness sejak 85 tahun lalu. Kepala rombongan Tatat Rahmita Utami mengatur semua teknis perjalanan dengan rapi.

Kami bertiga — Ichan Loulembah, Katamsi Ginano dan saya — lebih mirip tawanan perang yang nurut saja diatur kepala rombongan, yang seakan mau menukar kami dengan teman-temannya yang ditawan musuh.

Dua peserta lain bergabung dari Jerman, hanya dua jam terbang ke Edinburgh; dan mereka memang seperti tawanan sungguhan: Haikal Sulaiman (putera tunggal Tatat yang bekerja di perusahaan telekom Jerman) dan isterinya, Cana, ahli gizi yang sedang ikut kuliah lanjutan di sana.

Tapi kepasrahan kami pada Tatat membuahkan berkah besar. “The Loch Ness adventure” menjadi perjalanan mengesankan yang akan kami kenang sampai bertahun-tahun nanti.

Tentu saja kami ke Loch Ness bukan karena percaya pada adanya Nessie dan berharap bisa memergokinya di tengah danau. Kami rasa kami sudah terlalu dewasa untuk tertipu oleh dongeng anak-anak itu.

Warga dan pemerintah lokal pun tidak lagi mengeksploitasi dongeng tersebut untuk keperluan bisnis pariwisata. Mereka tampaknya insaf tentang adanya problem etis dari meraih keuntungan finansial dari hoax itu.

Mereka percaya: keindahan dan keunikan kawasan Loch Ness sudah memadai untuk memikat turis, meski sisa legenda Nessie mungkin saja masih dijadikan landasan awal.

Tapi setidaknya setelah pengunjung tiba di sana, kisah Nessie disajikan dengan nada kocak, dengan gaya meledek orang lain yang percaya dan juga diri sendiri, bahwa cerita itu tentu saja hanya dongeng belaka yang tidak pantas untuk dipercaya oleh orang dewasa.

***

Hari mulai gelap ketika kami pulang dari Loch Ness. Dalam perjalanan ke Edinburgh itu Brian tetap setia menghibur kami dengan kisah-kisah Skotnya. Juga dengan “Auld Lang Syne” (“the best national anthem in the world”) dan “Four Hundred Miles”, yang bukan dinyanyikan oleh Joan Baez sebagaimana yang saya tahu sejak kecil.

Persis dua belas jam waktu yang kami habiskan sejak keluar hari itu hingga masuk lagi ke hotel. Sebuah perjalanan yang kegembiraannya jauh melampaui kerasnya gigitan hawa dingin yang semakin menggigilkan tubuh yang terbungkus empat lapis pakaian.

Dan berkah terbesar dari suatu wisata bukanlah membeli aneka barang yang kita jumpai di sepanjang perjananan.

Berkah terbesarnya adalah: kemampuan melihat barang-barang yang kita miliki di rumah, barangkali juga diri kita sendiri, dengan mata baru. (YMA)