TADABBUR PENCIPTAAN MANUSIA

by -1,490 views

Oleh: SUFIRMAN

Ketika tubuh Adam terwujud, dia tidak mempunyai nafsu untuk melakukan perkawinan. Namun yang Mahanyata tahu bahwa reproduksi prokreasi, dan perkawinan akan dimunculkan dalam kehidupannya, dan perkawinan dalam kehidupan ini adalah untuk meneruskan kelangsungan spesies itu, maka dia mengeluarkan Hawa dari tulang rusuk Adam yang pendek. Dengan demikian Hawa tidak mempunyai tingkat yang sama dengan Adam sebagaimana yang difirmankan “Kaum Pria mempunyai satu tingkat lebih tinggi dari pada kaum wanita” karena itu kaum wanita tidak akan pernah dapat mencapai tingkat kaum Pria.

** Hawa berasal dari tulang rusuk Adam, sebab tulang rusuk itu bengkok. Dengan demi kian dia akan cenderung hatinya pada anak-anaknya serta pasangannya. Kecenderungan hati Pria terhadap wanita adalah kecenderungan terhadap dirinya sendiri, sebab wanita itu bagian dari dirinya. Kecenderungan wanita terhadap pria adalah karena wanita tercipta dari tulang rusuknya, dan di dalam tulang rusuk itulah terdapat penyerahan dan kecenderungan bersama.

*** Ketika Hawa diambil dari Adam, Tuhan mengsisi ruang yang kosong dengan Nafsu terhadapnya, sebab eksistensi tidak membiarkan suatu kekosongan. Ketika Dia mengisi kekosongan dengan udara “Hawa” Adam cenderung pada Hawa sebagaimana dia cenderung pada dirinya sendiri. Sebab Hawa adalah bagian dari dirinya. Dan Hawa cenderung pada Adam sebab Adam adalah tempat asal kongfigurasinya. Maka cinta Hawa adalah cinta akan tanah asalnya, sementara cinta Adam kepada Hawa adalah cinta kepada dirinya sendiri. Itulah sebabnya cinta pria kepada wanita tampak nyata, sebab wanita itu adalah dirinya sendiri. Namun cinta wanita terhadap pria terdapat kekuatan yang disebut “MALU” (Haya) sehingga dia mempunyai kekuatan untuk menyembunyikan perasaannya, sebab tanah asal tidak menyatu dengan dirinya, dengan cara yang sama seperti persatuannya dengan Adam.

**** Tuhan membentuk di dalam tulang rusuk segala sesuatu yang telah dibentuk dan diciptakan di dalam tubuh Adam. Maka kongfigurasi tubuh Adam dalam bentuk-Nya adalah seperti kongfigurasi tukang kayu atas bentuk-bentuk yang diukirnya pada kayu. Ketika Dia mengukirnya pada tulang rusuk, menjadikan bentuknya, menetapkan proporsinya, dan memberikan keseimbangan padanya. Dia meniupkan kedalam dirinya roh-Nya sendiri. Maka berdirilah seorang wanita yang hidup, berbicara, seorang wanita. Maka Dia menjadikannya lokus untuk digali dan diolah, karena adanya penyemaian, yakni prokreasi, maka Adam bersandar padanya dan dia bersandar pada Adam. Dia adalah pakaian bagi Adam, dan Adam adalah pakaian bagi dirinya

“Dihalalkan bagimu bersenggama dengan istri-istrimu pada hari puasa. Mereka adalah pakaianmu, sebaliknya kamu adalah pakaian untuk mereka” (Qs. 2:187)

Nafsu meresap kepada seluruh bagian dirinya, sehingga dia mencarinya. Aku temukan seorang dara menangis di sudut malam terjebak pada belantara fanahnya kehidupan, dia terus merambah semak dan pepohonan untuk mendapatkan secerca cahaya suci yang telah pergi atau mungkin terhalang dedaunan… ku singkap dedaunan diantar belantara demi secercah cahaya untuk perempuanku yang telah lama terperangkap dalam penjara keraguan…

Hingga air mata itu kini menjadi sebuah senyuman terindah dari dirimu… namun kerinduanku terperangkap dalam waktu yang tidak menentu, hingga aku memutuskan untuk pergi dari ruang kerinduan itu…seperti Kais (Majenun) pergi meninggalkan Liyla untuk mempertahankan kesucian cintanya

Sesungguhnya Hawa tidak menemui kesempurnaannya ketika tidak dipertemukan dengan seorang Adam,