Resensi Buku; Mengapa Negara Gagal?

by -1,276 views

By. Munir Sara

Kawan-kawan pemuda yang berpikiran maju, banyak politisi kita yang basis literasi omongannya masih NOL BESAR ! Akibatnya, pedagogi rakyat/konstituen dalam diskurus politik menjadi lemah.

Padahal, prasyarat masyarakat sejahtera termasuk di dalamnya adalah meningkatnya budaya literasi. Memang politisi bukan akademisi ! Tapi politisi juga bertugas menyuplai pedagogi rakyat/konstituen dengan pikiran tentang politik/demokrasi yang knowledgeable.

Dalam tradisi literasi yang lemah itu, masyarakat cuma dicekoki CARA MEMILIH NOMOR URUT. Jadi, dengan kemampuan literasi yang lemah itu, membuat rakyat sulit menghindari politik angka/doktrinasi nomor urut.

Rakyat tidak punya pilihan, karena yang disodorkan cuma angka. Sesadis itukah? Memang dilema, kenapa rakyat cuma dicekoki angka? Karena kemampuan baca tulisnya masih rendah. Itu terlihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan per region yang masih rendah. Demikianpun indeks literasi per region. Khususnya di kawasan Timur Indonesia.

Rakyat seakan sulit menghindari, demokrasi yang super-duper teknis/prosedural. Sementara, secara substansi, rakyat diberikan pilihan yang sangat sedikit, terkait kenapa mereka harus memilih tuan politisi A, B dan C. Kenapa? Karena rakyat dibikin fakir secara literasi. Kenapa kita bicara Pemilu Cerdas di setiap periode? Karena akar rumput dibiarkan tidak cerdas dengan produk kebijakan. Agar rakyat terus disuguhi/dicekoki politik angka.

Karena; politisi/Caleg, secara mayoritas belum mampu melakukan diskursifikasi khazanah demokrasi dalam penjelasan-penjelasan sederhana pada rakyat. Dengan bahasa rakyat.

Ini baru prolog. Intinya diskursusnya kenapa Negara gagal atau failed state? Mohon maaf, kalau prolognya panjang. Mengapa negara gagal ini dianggap fiksi? Sebagaimana nalar Adian Napitupulu dan kawan-kawannya.

Buku Kenapa Negara Gagal yang ditulis Daron Acemoglu dan James A.Robinson mengulasnya dengan apik; disertai riset di berbagai belahan dunia.

Buku ini, ditulis dengan riset yang memakan waktu bertahun-tahun. Agar tahu saja, apa yang ditulis Acemoglu dan James A.Robinson, menerangkan bahwa negara gagal itu dimulai dari peta distribusi kemakmuran yang tidak merata. Bahwa sentralisasi kemakmuran yang bertumpuk-tumpuk di wilayah tertentu dan dikuasai sekelompk kecil orang, adalah cikal bakal failed state.

Tesis yang sama persis dengan Daron Acemoglu dan James A.Robinson disodorkan Capres Prabowo, lalu politisi semacan Adian cs, menertawainya ramai-ramai. Mereka sinis dan paranoid dalam melihat tesis failed state.

Mereka bilang Prabowo menggunakan nalar fiksi. Lalu tesis Prabowo itu dibela habis-habisan oleh Rocky Gerung. Terutama terkait terminologi fiksi. Rocky bilang, fiksi beda dengan fiktif. Karena fiksi mengaktifkan imajinasi. Sampai disini, Adian cs, belum juga paham.

Padahal, tesis semacam ini sudah terbukti, bagaimana Unisoviet runtuh, Selatan Amerika melarat, negara-negara Arab babak belur dan beberapa negara kawasan Afrika yang miskin akut dan dilanda konflik horizontal/perang saudara berpuluh tahun. Tesis serupa, juga pernah dikemukakan Prof Amien Rais.

Semuanya gegara apa? Lagi-lagi soal distribusi kemakmuran. Ini bukunyanya Daron Acemoglu dan James A.Robinson; Kenapa Negara Gagal, baca, biar tidak tuding!. (YMA)