Jokowi VS Prabowo Adalah Low Trust High Cost VS High Trust-Low Cost

by -521 views

By. Munir Sara

Dalam politik, yang lebih penting adalah kepercayaan publik. Bila kepercayaan rendah (low trust), maka biaya politik akan tinggi (high cost). Sebaliknya, jika kepercayaan publik tinggi (hight trust), maka biaya politik menjadi rendah (low cost). Yang paling payah bila kepercayaan rendah, sokongan dana politik juga rendah (low trust and low cost). Mati saja kalau begitu.

Sebagai Capres petahana,semestinya, empat tahun, adalah waktu yang lama bagi Jokowi, untuk membangun imperium kepercayaan publik. Dengan berbagai realisasi kerja selama empat tahun dan mempunyai akses terhadap seluruh sumber daya politik dan pemerintahan, JokMin mestinya di atas angin. Jika masih sempoyongan mengatrol margin elektabiltas, artinya; JokMin masih mawas dengan margin elektabilitasnya saat ini.

Berbeda dengan JokMin, pasangan PraSan, memiliki potensi besar mengelola low trust publik terhadap Jokowi. Terutama isu-isu mengemuka seperti, utang negara yang meningkat, pertumbuhan ekonomi yang mangkrak serta penegakan hukum yang tebang pilih.

Dalam beberapa survei, kepuasaan publik terhadap kinerja Jokowi cenderung menurun dari sisi layanan kesehatan dan pendidikan. Aspek kepuasan publik paling rendah dari pemerintahan Jokowi adalah di bidang HAM. Secara keseluruhan, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi, stagnate di posisi 70 persen (lihat survey Y-Publika).

Cuma sayangnya, jika dalam berbagai survei, elektabilitas Jokowi/JokMin, mangkrak di posisi 50-an persen. Gambaran kepercayaan publik, akan terlihat nyata, manakalah ia di posisi 60-70 persen. Ada hal yang menarik, bahwa tingkat kepuasaan publik yang berada di posisi 70 persen, tak linier dengan elektabilitas Jokowi.

Apalagi, dengan posisi elektabilitas demikian (50-an persen), undecided voters, cukup tinggi. Rata-rata di berbagai survei, undecided voters ini berada di 25 persen. Bila dilihat secara keseluruhan; maka elektabilitas dan undecided voters, mencirikan, Jokowi defisit kepercayaan publik (low trust).

Lembaga survei Indikator Politik Indonesia (Indikator) yang dirilis 8/1/2019, justru elektabilitas melorot, dari 58 persen menjadi 54 persen. Sementara pasangan PraSan, terus bergerak mendekati 40 persen.

Dengan posisi elektabilitas yang getas, bahkan cenderung melorot dan dengan posisi undecided voters yang tinggi, menggambarkan ancaman bagi JokMin. Otomatis, dengan kondisi demikian, JokMin akan jor-joran mengeluarkan biaya politik (high cost). (YMA)