Mengapa Takut Dengan Term “Kafir”? (Kajian Semantik Arab)

by -2,046 views
Sumber foto: Sindonews

Ustadz Dr Miftah Rahman el-Banjary

Istilah “Kafir” itu memang sejatinya ada dan istilah itu -dalam kajian Semantik Arab (علم الدلالة) termasuk dalam kategori المشترك اللفظي (Homonim) atau kata yang memiliki makna ganda atau memiliki banyak korelasi konteks makna.

Dalam al-Qur’an, tidak semua kata “كفر” merujuk pada keluar dari keimanan, tidak! Orang yang tidak tahu berterima kasih, enggan bersyukur juga dikategorikan كفر بالنعمة “Kufrun bin Ni’mah” (kufur nikmat). لئن كفرتم إن عذبي لشديد. Di sana ada kata “Kafir” yang bermakna “Kufrun bilaa Kufrin” (كفر بلا كفر). Coba deh pelajari lagi tafsir al-Qur’an surah Ibrahim ayat ke-7.

Jadi, term “Kafr” tidak selamanya menyangkut persoalan keimanan lho! Jadi, memang tidak sesederhana itu memahami makna kafir sebagai seorang yang bukan beriman atau hanya persoalan iman atau tidaknya seseorang.

Dalam persoalan ini -menurut hemat saya-setiap orang yang ingin berbicara problematika istilah ini, ada baiknya harus belajar memahami Semantik Arab terlebih dahulu agar tidak menjadi salah kaprah dan serampangan memahami makna dan konteksnya, lalu terburu-buru menafikan dan berupaya menggeser atau menggantinya.

Nah, jika kita berbicara dari tinjauan historis, sejarah dan asal-usul kata kafir ternyata cukup panjang. Bukan semata-mata dari bahasa Arab, kata kafir juga muncul pada akar kata di bahasa Ibrani.

Kata kafir yang kita ketahui berasal dari bahasa Arab ini ternyata memiliki akar kata dari bahasa-bahasa rumpun Semit, yaitu rumpun bahasa yang 5.000 tahun lalu digunakan bangsa-bangsa Timur Tengah, Afrika Utara, dan Afrika Timur.

Semit yang kerap terdiri dari tiga huruf saja. FYI, semua huruf Semit bahkan merupakan huruf konsonan. Akar kata ini pertama kali berkembang dalam bahasa Akkadia—salah satu bahasa di rumpun Semit—melalui kata kuppuru. Apa artinya?

Secara bahasa, makna yang dimiliki kata kuppuru masih sama dengan ك، ف، ر, yaitu menggosok, membersihkan, atau memoles. Ka-Fa-Ra, juga bisa berarti “Menutup”.

Dulu orang Arab Badui menggunakan istilah “Kafara” untuk mengungkapkan “Biji Benih yang Tertutup” atau “Terlindung” dari sinar matahari. Istilah “Kafir” ini sudah ada sebelum Islam datang dan dipergunakan sedemikian populernya pada masa Jahiliyyah. Lebih tepatnya, istilah “Kafr” pada masa sebelum Islam digunakan dalam istilah ranah sosial, bukan istilah ideologis

Bukan hanya Akkadia, bahasa lain dari rumpun Semit pun mengalami perkembangan kata Ka-Fa- RA. Adalah bahasa Ibrani yang mengenal kata “Kipper” (menutupi), “Kefira” (tidak sesuai agama Yahudi”), serta “Kofer” (menutupi kebenaran). Arti kata yang terakhir secara spesifik hampir mirip dengan kata kafir yang kita kenal sekarang: menutup kebenaran kitab suci dan menolak beriman.

Bahkan orang Inggris menyebut “Cover” (untuk menyebut sampul buku).

Lantas, bagaimana keadaan kata ini dalam bahasa Arab sesungguhnya?

Kata “كفر” Ka-Fa-Ra ditemui cukup banyak dalam bahasa Arab. Salah satu ayat Al-Qur’an bahkan menggunakan kata ini untuk merujuk pada petani, yaitu melalui kata “al-Kuffar”, serta “Kafara” yang berarti menutupi benih dengan tanah. Namun, “Kafara”-lah yang menjadi cikal bakal kata kafir yang kita kenal karena secara etimologi berarti menutup.

Loh, memangnya, apa hubungan antara menutup dan keadaan kafir dalam agama?

Ternyata, wujud “menutup” dalam konteks ini adalah menutup hati, menutup kemungkinan untuk percaya, serta menolak suatu paham yang diajukan. Jika diposisikan dalam ajaran Islam, makna kafir memang berarti ketidakpercayaan seseorang atas Allah swt. dan rasul-Nya.

Apakah istilah kafir hanya milik orang Islam? Dalam konteks yang bermakna “tidak mengimani Allah swt. dan rasul-Nya”, tentu saja kata ini terbatas pada ajaran Islam saja. Namun secara sosial dan budaya, ada konteks-konteks berbeda yang membuat kita tak berhak sembarangan mengafir-ngafirkan orang.

Lalu, apakah perjalanan kata “Ka-Fa-Ra atau “Kafir” berhenti di Arab saja? Oh, ternyata tidak demikian.

Pada bahasa Anglo-Prancis, terdapat kata “Couvrir yang maknanya sama dengan “Koffer” (Belanda) dan “Cover” (Inggris), yaitu “menutupi”. Kemudian, dalam terjemahan bahasa Indonesia, kita tentu sepakat bahwa kata “Kiper” (bahasa Inggris: (goal)-keeper) yang merujuk pada pemain sepak bola pun identik dengan akar kata Ka-Fi-eR, maknanya juga sejalan: “menutup” gawang!

Selain itu, dalam bahasa Indonesia, terdapat kata “Keparat” yang masih merupakan “adik” dari kata kafir. Yah, secara sederhana, kata keparat memang terasa seperti kata kafir tanpa aroma religi, soalnya.

Menurut al-Habib Ali Jufry, “Kata “Ka-Fa-Ra” di dalam al-Qur’an, paling tidak memiliki 5 makna dan konteks berbeda.

1. Kufrun duna Kufrin (كفر دون كفر)
Kekafiran tanpa kekafiran hakiki, maksudnya seorang muslim yang tidak taat, tapi statusnya tetap saja menjadi seorang dianggap muslim.

2. Kafir Munafiq (كفر منافق)
Seorang muslim yang menyembunyikan Kekafirannya.

3. Kufrun bil Jahaalah (كفر بالجهالة)
Non-Muslim yang tidak/belum menerima Islam, lantaran tidak sampai dakwah padanya.

4. Kufrun Mu’anid (كفر معاند)
Non-Muslim yang tidak/belum menerima Islam, atas dasar pilihan dan keyakinanya. Kategori ini tidak boleh dimusuhi dan disakiti, meski berbeda keyakinan.

5. Kufrun Harbi (كفر حربي)
Non-muslim yang memerangi dan memusuhi.

So, kalau soal kata “Kafir” kemudian menjadi polemik, toh kata itu sudah ada lebih dari semenjak 1.400 tahun yang lalu. Bahkan, sudah dikenal dan dipergunakan dalam bahasa Semit 5.000 tahun yang lalu. Demikian juga istilah “Kafir” atau yang semakna juga telah dikenal di semua bahasa dunia dan semua agama.

Apakah makna Kafir hanya pada istilah agama Islam?

Tidak! Istilah yang sama juga melekat pada setiap agama lainnya dengan perbedaan istilah, namun subtansinya sama untuk menunjuk “orang diluar” dari perbedaan keyakinan dari konsep agama dan Tuhan yang mereka yakini.

Islam punya istilah “KAFIR”
Orang Hindu punya istilah “MAITRAH”.
Orang Budha punya istilah “ABRAHMACARIYAVASA”.
Kristen barangkali menyebut “DOMBA TERSESAT”

So, what’s wrong about that, guys?
Kata orang Mesir “Oemalieh?!! Terus kenapa?!!

Semua adalah istilah-istilah terma Ideologis yang sejatinya tidak perlu diperdebatkan lagi, tidak perlu dirubah atau diganti ,apalagi dihilangkan, so what gitu lho?!!

Biarkan istilah-istilah itu menjadi bahasa agama masing-masing, tanpa harus dipaksakan pada perbedaan keyakinan dengan agama lain, biarkan kata itu hidup dalam hati dan keyakinan setiap orang yang percaya pada Tuhannya.

Istilah itu tidak akan bermasalah atau menyakiti siapa pun jika tidak kau arahkan
mata panahnya untuk menghujam hati saudaramu yang berbeda keyakinan demi membunuh keyakinan mereka.

Biarkan istilah itu ada, dan tetap hidup. Biarkan dia indah dan berharmonisasi tanpa diusik oleh kepentingan politik. Dia adalah istilah ideologis yang tidak akan pernah bisa dipaksakan untuk diterapkan dalam ranah sosial, apalagi demi kepentingan politis.

Penulis adalah Dosen Pascasarjana | Pengkaji Semantik Arab |Alumni Sastra Arab Prog. Doktoral Institute of Arab League Cairo-Mesir.

Editor: Yusuf Muhammad At-Thalib