Lawan Terbesar Jokowi, Kebohongannya Sendiri

by -1,035 views

Oleh: Moh. Ilyas*

SULAWESIPOS.COM, OPINI“Everytime you lie it’s brings me a little closer to goodbye”. Inilah salah satu kutipan yang menghiasi lini sosial media dengan hastag #JokowiBohongLagi. Hastag ini terus menjadi trending topic sejak debat Pilpres semalam hingga siang ini.

Jika kita buka lebih jauh hashtag ini, ternyata banyak komentar-komentar netizen terhadap aksi Jokowi yang terlalu banyak melakukan kebohongan dalam debat ke-2. Di antaranya “#JokowiBohongLagi. He doesn’t know what he signed, and he doesn’t know what he said”. Ada pula yang menulis, “Katanya takut sama Tuhan, tapi kok data yang disajikan pada saat debat tidak sesuai dengan faktanya.

#JokowiBohongLagi”. Kemudian lainnya mengshare sebuah foto kemudian memberikan tagline, “Bagaimana seorang pemimpin berfoto di sisa kebakaran hutan lalu di panggung dia bilang gak ada kebakaran hutan? Soal BOHONG, Jokowi tak terkejar, jauh melesat. #JokowiBohongLagi. #2019PrabowoPresidenRI”. Dan banyak lagi komentar bernada nyinyir dan kritik pada Jokowi.

Lawan Terberat Jokowi

Jika menonton debat semalam, memang Jokowi tampak menyajikan data-data, sehingga bisa menghipnotis para penonton, apalagi orang-orang yang tidak biasa akrab dengan data. Maka ia akan mudah saja menerima. Buktinya, langsung banyak yang mengklaim bahwa Jokowi sebagai pemenang dalam debat semalam.

Namun, ketika disajikan data bahwa apa yang disampaikan Jokowi ternyata banyak salah alias bohong, orang mulai berpikir ulang untuk memilih Jokowi. Bagaimana seorang presiden yang sudah hampir lima tahun menjabat tidak menguasai data. Jangan-jangan selama ini, ia mengelola negara ini dengan data salah alias hoax?

Di antara yang menjadi perhatian publik dan dianggap sebagai kebohongan Jokowi karena salah menyebut data semalam, pertama adalah Jokowi menyebut impor jagung pada 2018 total hanya 180.000 Ton. Padahal data impor jagung tahun 2018 sebesar 737.228 Ton. Kedua, Jokowi menyebut produksi sawit 46 juta ton. Faktanya produksi sawit pada 2018 sebesar 34,5 juta ton. Ketiga, Jokowi menyatakan telah membangun lebih dari 191.000 km jalan desa. Padahal itu adalah total jalan desa yang dibangun sejak Indonesia merdeka.

Keempat, Jokowi menyatakan sejak 2015 tidak pernah terjadi kebakaran hutan. Padahal data menunjukkan bahwa pada tahun 2016-2018 telah terjadi kebakaran lebih dari 30.000 hektar lahan hutan. Kelima, Jokowi menyatakan bahwa di negara maju butuh 10-20 tahun untuk memindahkan masyarakat dari mobil ke LRT/MRT, bisa disebutkan itu di negara mana? Jika butuh 10-20 tahun dan pembiayaan dengan hutang bagaimana status pembayarannya? Keenam, Jokowi mengklaim bahwa pemerintah memenangkan gugatan 18-19 Triliun akibat kerusakan lahan, namun greenpeace meluruskan bahwa tak satupun dari gugatan itu dibayarkan.
Bagaimana mungkin, seorang presiden kacau dalam hal data? Dan, kekacauannya sangat fatal dan luar biasa sesatnya.

Inilah problem Jokowi, bahwa yang dia hadapi dan bahkan jadi lawan terbesarnya saat ini bukanlah orang lain, melainkan adalah kebohongannya sendiri. Apalagi selama ini dia sudah sangat gencar menyatakan perang terhadap hoax dan bahkan ia menuduh kubu Prabowo-Sandi sebagai kelompok yang sering menyebar hoax. Sayangnya tuduhan itu seakan terlempar ke muka dia sendiri dalam debat pilpres semalam.

Kebohongan demi kebohongan inilah yang barangkali akan semakin merontokkan elektabilitasnya, sebagaimana makna dari pesan pembuka dalam tulisan ini, yang berarti “Setiap kau berbohong itu membawaku semakin dekat untuk meninggalkanmu”.

Bintara, 18 Februari 2018
Pukul 15.07 WIB

Penulis adalah pemerhati sosial politik dan Tenaga Ahli DPR RI

Editor: Zainal Marzain