Kritik Emak-Emak: Bawaslu Tajam ke Prabowo, Lembek ke Jokowi

by -1,566 views
sumber foto: lampost.co

Oleh: Moh. Ilyas |

SULAWESIPOS.COM, OPINI – “Kok kami cuma senam di areal masjid dipermasalahkan. Jokowi tuh bagi-bagi sertifikat di masjid kok Bawaslu diam aja”.

Setidaknya itulah salah satu protes emak-emak di Pekanbaru, Riau, dalam sebuah video yang mulai viral sejak Sabtu, 16 Februari kemarin. Dalam video berdurasi 4 menit 40 detik itu, tampak terlihat puluhan emak-emak tengah berdebat dengan seorang pria tinggi yang mengaku sebagai anggota Panwaslu.

Pria menuding emak-emak tersebut melanggar aturan pemilu, karena menggelar senam pagi di lingkungan masjid, apalagi sembari menyanyikan yel-yel Prabowo Sandi.

Namun apa yang terjadi, jawaban emak-emak langsung menohok. Perlawanan mereka langsung menusuk ke jantung Capres Nomor 1 Joko Widodo. Mereka menyebut bahwa Jokowi beberapa hari lalu bagi-bagi sertifikat di dalam masjid di sebuah kabupaten di Jabar. Kehadiran Jokowi pun saat itu didampingi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Emak-emak protes, kenapa ketika bagi sertifikat dilakukan oleh Jokowi tak ada suara dari Bawaslu sedikitpun? Bukankah saat ini posisi Jokowi adalah Capres yang mestinya juga terikat aturan kampanye? Apalagi pada hari Jumat pekan lalu, Capres nomor 02 Prabowo Subianto untuk melaksanakan shalat Jum’at pun masih diprotes karena dianggap akan melakukan kampanye. Bukankah selama ini shalat Jumat Prabowo jauh dari kamera, sehingga potensi kampanye dan pencitraan jauh lebih rendah dari Jokowi yang terus disorot kamera?

Mendengar jawaban itu, anggota Panwaslu tersebut kebingungan. Namun, ia berjanji akan menyampaikan keluhan ini ke Bawaslu RI.

Oleh karenanya, suara emak-emak ini harus direspon secara positif. Di mana Bawaslu ataupun aparat penegak hukum sudah seharusnya tidak berat sebelah. Jangan sampai aturan kampanye hanya tajam ke Prabowo dan pendukungnya, tapi tumpul ke Jokowi dan pendukungnya.

Jangan sampai jika pelanggaran kampanye dilakukan kubu Prabowo langsung diusut secepat kilat bahkan tiba2 jadi tersangka, tapi giliran kubu petahana yang melakukan aman-aman saja. Apakah karena Jokowi masih duduk di kursi empuk sekuasaan sehingga mendapat ruang gerak “semau gue” alias kebal hukum dan aturan?

Inilah yang menjadi kesadaran sekaligus keprihatinan emak-emak. Mereka, kaum emak ini kini sudah melek politik dan bukan lagi sebagai second actress atau pemeran nomor dua atau bahkan pemain di balik layar. Mereka kini sudah fasih dan lantang bicara soal ketidakadilan dan kegagalan janji-janji politik penguasa.

Jika dulu kaum emak rata-rata pasif di tahun-tahun politik, maka kini mereka sudah punya warna baru dalam politik. Kini mereka sadar betapa politik begitu penting karena ia menyangkut seluruh dimensi kehidupan. Politik tidak saja menyentuh pria-pria berdasi di Senayan, tapi ia jauh bahkan menerabas ke seluruh dimensi ehidupan, termasuk di dapur dan pasar sekalipun.

Dahulu, mungkin saja emak-emak hanya berpikir politik urusan kaum laki-laki apalagi bagi mereka yang kerjaannya dagang di pasar atau masa di dapur seolah-olah jauh dari kehidupan politik. Padahal kebijakan politik, kebijakan penguasa yang tidak pro-rakyat langsung berdampak pada mereka. Saat sembako naik, mereka duluan yang menjerit.

Inilah kesadaran baru yang harus diberi panggung dalam kontestasi politik 2019. Maka, tentu suara mereka pun juga mesti didengar, termasuk juga oleh Bawaslu, KPU, ataupun aparat kepolisian. Jangan sampai mereka disisihkan dan suara mereka dianggap angin lalu.

Penyelenggara pemilu jangan sampai anti-kritik, karena di belakang Anda semua, ada emak-emak. Anda mau disuruh tidur di depan pintu oleh emak-emak? Hehe…

Bintara, 17 Februari 2019
Pukul 05.58 WIB.

Penulis adalah pemerhati sosial dan politik

Editor: Zainal Marzain