“PEMBENARAN”

by -2,094 views

Oleh: Selle Mapatunru

SULAWEIPOS.COM, OPINI – Akhir-akhir ini saya jarang lagi menulis dengan redaksi yang panjang. Banyak alasannya, satu diantaranya karna literasi baca kita mendadak stroke saat melihat tulisan yang panjang. Kemudian saya siasati dengan menulis satire. Sayangnya, yang baca banyak memaknainya lurus-lurus.

Tidak salah sebenarnya, semua punya dalih pembenaran. Kehendak kita tidak mesti menjadi penjajah atas kehendak orang lain. Kebebasan kita terpagari oleh kebebasan orang lain. Kita bebas tapi terikat.

Lain padang lain belalang, beda lubuk lain ikan, dan sederet kalimat yang memiliki kedudukan makna yang sama sering kita dengarkan. Sebagai penasihat bahwa berbeda adalah keniscayaan.

Kita tidak bisa menghindarinya, atau jahatnya kita di paksa melakukan. Mengapa? Karna semua prilaku itu adalah hasil dari kebiasaan yang polanya turun menurun kepada generasi perorangan ataupun dalam bentuk kelompok. Bisa jadi itu adalah upaya untuk menghindar dari tantangan perubahan terhadap pola alam atau juga sebagai perlawanan atas melesatnya konflik sesama.

Lalu bagaimana kebiasaan itu berdampak? Sialnya adalah kita sudah terlalu jauh meleset dari pola awal serta terjebak dalam ketidaktahuan atas dasar pola prilaku itu di bentuk oleh para pengagasnya. Perbedaan yang semula sebagai rahmat seketika menjadi seperti ladang caci maki, gelanggang sandiwara sekaligus.

Sebagai contoh, jalan tol di Jawa dan jalan trans Papua. Sudah pasti keduanya memiliki nilai buruk dan baik terhadap masyarakat sekitarnya. Anehnya, kita yang sama sekali tidak bersentuhan dengan hal itu. Malah lebih fasih menuturkan baik buruknya. Sementara yang kena dampak menjadi penonton dan di jauhkan dari argumenrasi pembelaan atas perasaannya.

Lalu jadilah suku, agama dan ras sebagi alat pembenaran atas melesetnya pemahaman kita pada subtansi bahwa perbedaan adalah keniscayaan.

Penulis adalah mantan aktivis BEM FIP UNM dan HMI

Editor: Zainal Marzain