Kinerja Perdagangan Era Jokowi Paling Payah?

by -847 views
sumber foto: cnbc

Oleh: Munir Sara

SULAWESIPOS.COM, OPINI – Ternyata, transaksi berjalan Indonesia termasuk paling buruk di Asia Tenggara pada 2018. Berdasarkan riset Consumer News and Business Channel (CNBC), buruknya transaksi berjalan tak cuma pada tahun 2017, malah tahun 2018 lebih payah.

Pada tahun 2017, CAD tercatat US$ 17,3 miliar. Sementara pada 2018 melebar hingga US$ 8,03 miliar atau sekitar 3,04% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Nilai itu meningkat nyaris 2 kali lipat dari periode yang sama di tahun 2017

Bagaimana bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga? Secara nominal, transaksi berjalan di Indonesia ternyata merupakan salah satu yang terburuk di Asia Tenggara.

Malaysia masih membukukan surplus transaksi berjalan hingga kisaran US$ 935 juta. Begitupun dengan Thailand yang surplusnya bahkan lebih besar lagi, yakni mencapai US$ 6,4 miliar di periode yang sama.

Bahkan, Vietnam pun masih mencatatkan surplus transaksi berjalan hingga US$ 4,3 miliar. Cuma Filipina yang membukukan defisit tahun ini, itupun masih lebih ringan dari Indonesia, yakni sebesar US$ 2,93 miliar. Secara nominal, transaksi berjalan di Indonesia adalah salah satu yang terburuk di Asia Tenggara.

***
Bukan cuma Indonesia yang mengalami dampak trade war Amerika VS China. Semua negara emerging market mengalaminya. Tapi antibodi ekonomi mereka lebih baik. Pengelolaan ekomomi mereka lebih prudent.

Tentang neraca perdagangan ini, salah satu alasan yang menggambarkan pemerintahan yang tidak kreatif adalah bahwa “momentum commodity boom sudah berakhir.” Artinya, mereka mau bilang, deficit transaksi berjalan itu bukan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola perekonomian, tapi lebih pada faktor ekternal (global).

Namun secara kasat mata, negara-negara emerging market yang setara ekonominya dengan Indonesia masih mencatat surplus pada transaksi berjalan. Tentu ada persoalan dengan tabiat. doyan impor Indonesia.

***
Agar diketahui, bahwa salah satu sumber dari arus devisa adalah hasil export barang dan jasa. Jadi, transaski berjalan, menggambarkan arus devisa. Devisa dari sisi perdagangan, adalah komponen penting dalam menopang nilai tukar dalam jangka panjang karena tidak keluar masuk seperti portopolio di sector keuangan.

Namun buruknya kinerja perdagangan yang tergambar dalam defisit transaksi berjalan (current account) sejak 2011, dan tertinggi di era Jokowi, menggambarkan bahwa, kita lebih doyan impor ketimbang produksi dan expor. Artinya devisa lebih banyak keluar ketimbang masuk.

Dari penelusuran CNBC, kondisi ini disebabkan oleh nilai ekspor RI yang hanya tumbuh di kisaran 9,5% secara tahunan (year-on-year/YoY), sementara impor tumbuh nyaris 25% YoY. Maniak impor, tapi lesu ekspor.

Lalu ada apa gerangan? Ternyata persoalannya ada pada deindustrialisasi yang tengah terjadi. Ini bukan isu, tapi memang deindustrialisasi dapat dilihat dari kontribusi industri pengolahan tren-nya makin menurun dalam pembentukan PDB Indonesia.

Editor: Zainal Marzain