Huru-Hara Pileg 2019

by -1,287 views
Dok. Foto Facebook Munir Sara

By. Munir Sara

SULAWESIPOS.COM, OPINI – Ancar-ancar; Pileg tinggal 63 hari lagi. Kasak-kusuk Pileg juga ramainya bukan main. Menimbang biaya kampanye juga mahal bukan main. Sementara ada berbagai rupa aspirasi dan kemauan konstituen. Itu bukan perkara gampang. Katanya ini demokrasi neolib. Ekosistem politik bak pasar liar dan ugal-ugalan.

Kompetisi liar dan adu modal juga ingar-bingar. Demokrasi yang menurut Rocky Gerung kompetisi ide, gagasan dan adu akal sehat, itu letaknya di bawah telapak kaki. Tak berguna. Ini bukan demokrasi kepala, tapi juga demokrasi perut. Jadinya, premis dari pada pesta demokrasi itu menjadi isi kepala vs isi perut. Dalam demokrasi pasar yang liar, idealisme ada di nun jauh disana. Tak tersentuh !

Tak ada urusan dengan demokrasi—perwakilan, yang meniscayakan adanya suatu pikiran yang menuju pada cita-cita sosial membangun masyarakat. Tak ada urusan dengan pengetahuan tentang pentingnya advokasi anggaran. Agar fungsi dari APBD/APBN yang sifatnya distributif itu; diperjuangkan, agar mendekati keadilan. Agar sirkulasi APBD/APBN tidak melulu mengalir ke suatu daerah tertentu saja atas dasar primordialitas yang konservatif. Tak ada urusan disini.

Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan salah seorang politisi muda kawakan. Dia bilang, alangkah mirisnya, daerah-daerah yang potensi ekonominya luar biasa, namun selama ini, investasi pemerintah melalui belanja modal APBD/APBD tak pernah menstimulasi potensi daerah mereka.

Tapi setiap lima tahun, mereka memiliki sumbangsi elektoral yang luar biasa. Mau bagaimana, begitu faktanya. Wakil rakyat adalah cermin selera rakyat. Menyesal juga percuma. Tak ada guna. Yang perlu disentuh—diadvokasi itu kesadaran politik rakyat. Bahwa satu suara dia, penting untuk pembangunan lima tahu ke depan !

Bagi caleg-caleg yang otot kawat tulang besi, setiap saat pasang kuda-kuda. Begitu konstituen napas; langsung diterkam. Mau minta apapun jadi. Bahkan dia gaji setiap relawan. Dari Rp.500 ribu sampai Rp.1 juta/bulan hingga 17 April 2019. Bagi oknum yang cuma mau berburu rente, para caleg-caleg itu dibikin seperti mengupas kulit bawang. Diurut satu per satu sampai kempes. Mungkin pikirnya “kapan lagi? Mumpung rejeki ada di ujung mulut. Tinggal telan bulat-bulat, dikunya-kunya lalu berak menjadi tai.”

Cuma itu, konstituen yang pragmatis, tak pernah memanfaatkan pikiran. Apalagi menimbang segala sesuatu dengan nurani. Kalau dia tokoh; maka suara masyarakat dikapitalisasi habis-habisan. Tak perduli kedepan bagaimana. Tidak apa, selama lima tahun itu, dalam segala hal tentang politik anggaran dan distribusinya tak menyentuh dia dan masyarakatnya. Tak masalah, asalkan bola-bola pendek yang digoceknya menghasilkan seperak dua perak sepanjang masa kampanye Pileg.

Ada juga caleg tajir, yang tak mau bikin suatu apa. Diam saja. Tidak banyak cincong. Tak ada baliho, tak ada stiker. Boro-boro bikin pertemuan sana-sini. Boro-boro memberikan pendidikan politik pada warga. Pokoknya duduk manis. Orang-orang juga heran, apa gerangan caleg yang satu ini?

Tapi jangan salah. Caleg model begini; punya jurus sapu jagat. Sekali bermain-main, suara disapu rata. Satu bulan jelang Pemilu, dia turun kemana-mana. Dia belanja. Dia bawa daftar nama KK. Satu KK dihargai sekian rupiah. Mepet-mepet ke waktu pencoblosan, dia bikin siasat serangan fajar. Dia menang telak di ujung waktu.

Dari uang biru hingga uang merah disiapkannya dengan dompet atau tas yang montok, tampak dari luar. Targetnya satu TPS dia dapat 10 suara. Jadi kalau ada 500 TPS untuk DPRD di Kabupaten/Kota di NTT sana, satu kursi sudah disabetnya sendiri. Paling dia cuma habis Rp.50.000.000.

Jumlah uang ini, kalau satu kali masa sidang di DPRD saja, dia sudah kembali pokok. Bahkan melampaui, menang banyak. Tapi setelah itu, tidak urus, mau rakyat blangsak dan menderita model apapun dia tidak ambil pikir, apalagi ambil urusan. Fasilitas dewan dipakainya untuk kesenangan dirinya dan keluarga. Tak ada urusan dengan advokasi anggaran dan tetek-bengek kewajiban selaku anggota dewan.

Lain kisah bagi caleg-caleg yang dua’afah alias yang bermodal cekak; kere. Mereka punya knowledge—ilmu politik, punya idealisme sosial, punya common sense, punya empati, punya cita-cita sosial, tapi kalah modal. Mereka-mereka ini kata Syahrini, “dihempaaasss…hempasss da..da….. !”

Mungkin ditengok pun emoh. Buang ekor mata juga tidak. Kalaupun dia datangi kantung-kantung masyarakat, dicuekin. Paling satu dua orang saja yang nimbrung, itupun cuma karena tak enak hati saja atau keluarga. Itulah sisi kejam politik. Tak ada urusan dengan keinginan untuk membangun dalam kejelasan konsepsi politik dan kepahaman demokrasi.

Hingga suatu waktu setelah pemilu, beberapa warga masyarakat berkeluh kesah. Menyesal membuat pilihan politik kala itu. Mau apa? Nasi sudah jadi bubur. Sekarang mau bagiamana? Pemimpin adalah cermin dari selera rakyat dalam membuat pilihan politik. Menyesal tak berguna. “Tangan mancencang, bahu mamikul.” Begitu pepatah Minang. Risiko taggung sendiri.

Mau pilih karena uang boleh-boleh saja. Cuma harus ikhlas, bila selama lima tahun ke depan tak dianggap, boro-boro diadvokasi. Mau tahu kenapa? Karena suara sudah dibeli, dipasar elektoral yang kejam dan ugal-ugalan. Wallahu’alam.

Editor: Zainal Marzain