Berjuanglah Dengan Ujung Penamu

by -1,715 views
Dok. Foto Facebook Munir Sara

By. Munir Sara

SULAWESIPOS.COM, OPINI – Sekali-kali, jadikanlah narasimu sebagai senjata penggempur yang mematikan. Ibarat falungku, maka reken-reken harus kena persis di ulu hati hingga limbung, jatuh terkusruk ke tanah sampai semaput. Tapi yang kamu falungku itu orangnya mesti culas, semena-mena, zalim, serakah dan tamak. Kalau seseorang sudah punya lima sifat buruk ini, maka hajar saja. Jangan pakai tunggu.

***
Imam Al Gazali pernah bilang, “Jika kamu bukan anak raja, maka jadilah penulis.” Kata-kata ini, cepat-cepat mewanti-wanti kita, agar, setidak-tidaknya, disetiap ujung pena atau papan keyboard komputer, adalah tempat keluarnya kebenaran. Setidak-tidaknya; mendekati kebenaran.

Bukan berarti mesti jadi wartawan atau juru tulis dan semacamnya. Tapi setidak-tidaknya, seumur-umur hidupmu, kamu pernah membuat suatu pekerjaan transformasi—dengan menulis. Tugas transformasi itu mengandaikan, apa-apa yang kamu tulis, membikin orang tahu sesuatu hal, atau sesuatu apa yang orang belum tahu, akhirnya jadi tahu jua. Entah itu yang baik-baik atau yang buruk.

Usahakan, sebisa mungkin, menulis; sembari mendekatkan fakta pada pembaca. Entah menulis tentang politik, ekonomi, sosial, budaya dan agama. Sekecil apapun fakta yang kamu sajikan, jika dipoles dengan suatu pengetahuan (knowledge), maka disitu; kamu sudah melakukan transformasi.

Di musim politik begini, memang fakta itu sumir. Apalagi bersinggungan dengan penguasa petahana, pasti dilepeh. Ditelan sari patinya, baru ampas-ampasnya disembur ke publik. Apalagi media mainstream yang berorientasi margin profit. Yang menonjol adalah kelakukan korporasinya.

Makanya saya sering bilang, ujian media adalah manakalah dia ada di ujung congor penguasa. Disitulah dia diuji, antara idealisme pers dan idealisme pasar. Kalau media lebih berat pada margin profit, maka dia lebih ke idealisme pasar. Dimana-mana, yang namanya bisnis dan kekuasaan, pasti selingkuh. Fakta dan kebenaran urusannya lain lagi.

Memang tak dapat ditangkis, bila media-media dihadapkan pada pasar. Dia mesti bermetamorfosa menjadi industri. Tapi tidak serta-merta membikin dia hilang ciri dan idealismenya sebagai ujung tombak penyampai fakta dan kebenaran. Yang buruk-buruk dari penguasa dilepeh, lantas yang menguntungkan secara politik atau menguntungkan secara margin elektoral diobral ke publik. Itu yang terjadi sekarang di tahun politik.

Oleh sebab itulah, kita mesti ganti corong. Agar kebenaran punya tempat untuk disampaikan. Salah satunya adalah melalui media sosial. Memang harus sabar dan intens untuk urusan yang begini. Lama-lama akan ada jalannya. Semua hal itu ada polanya, tinggal kamu rutin, pasti dia akan mengikuti polanya (sunnatullah).

Bila omong juga tidak bisa, menulis juga tidak pernah, lebih baik mati saja. Bukankah transformasi itu tugas kenabian? Jadi bila kamu bukan transformator, lalu kamu itu siapa? Wallahu’alam.

Editor: Zainal Marzain